Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Upacara Keagamaan Hindu-Buddha di Masa Majapahit, Toleransi dalam Sejarah

Imron Arlado • Jumat, 22 Agustus 2025 | 15:00 WIB
Kerajaan Majapahit dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia. Sumber Foto: Pinterest
Kerajaan Majapahit dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia. Sumber Foto: Pinterest

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Kerajaan Majapahit dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia yang mampu menyatukan Nusantara.

Salah satu kekuatan Majapahit terletak pada kemampuan mereka dalam menjaga keharmonisan antar umat beragama, terutama antara pemeluk agama Hindu dan Budha.

Pada masa itu, praktik keagamaan dari kedua agama ini tidak hanya hidup berdampingan, tetapi juga sering kali saling menyatu dalam bentuk upacara dan tradisi. Fenomena ini mencerminkan nilai toleransi tinggi yang patut dijadikan teladan hingga kini.

Agama Hindu dan Buddha telah hadir di Nusantara jauh sebelum masa Majapahit. Namun, di bawah pemerintahan raja-raja Majapahit, terutama Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, terjadi proses sinkretisme, yaitu pencampuran unsur-unsur kepercayaan Hindu dan Buddha.

Hal ini terlihat dalam ajaran SiWA Buddha, yang merupakan bentuk perpaduan antara pemujaan terhadap Dewa Siwa dari Hindu dan Buddha.

Sinkretisme ini bukan sekadar kompromi keagamaan, melainkan mencerminkan pendekatan filosofis dan kultural yang mendalam. Kepercayaan rakyat dan elite istana saling bersinergi, menciptakan ruang dialog antar agama yang harmonis.

 

Baca Juga: Seni Majapahit dan Tari Topeng, Jejak Estetika, Simbol, dan Warisan Budaya yang Hidup Hingga Kini

 

Bentuk-Bentuk Upacara Keagamaan

Beberapa upacara penting yang mencerminkan toleransi antara Hindu dan Buddha di masa Majapahit antara lain:

  1.   Upacara Sraddha
    Sraddha adalah upacara penghormatan arwah leluhur, biasanya dilaksanakan 12 tahun setelah kematian seseorang. Meskipun berasal dari tradisi Hindu, upacara ini sering kali melibatkan elemen Buddhis.

Misalnya, dalam teks Negarakertagama, disebutkan bahwa dalam upacara Sraddha untuk Raja Rajasanagara (Hayam Wuruk), baik pendeta Hindu (Brahmana) maupun pendeta Buddha (Bhiksu) hadir untuk memimpin doa.

  1.       Upacara Pemujaan Dewa dan Budha

Di beberapa candi Majapahit seperti Candi Jawi dan Candi Jago, ditemukan arca dan relief dari tokoh-tokoh Hindu dan Budha berdampingan.

Di Candi Jawi misalnya, terdapat arca Siwa dan arca Buddha Akshobhya, menandakan bahwa tempat ibadah tersebut digunakan oleh pemeluk kedua agama.

Upacara persembahyangan dilakukan secara bersama- sama, merupakan keadaan di mana masyarakat merasa terikat dan saling terkait.

  1.       Perayaan Keagamaan dan Hari Besar

Majapahit juga menyelenggarakan berbagai hari raya agama seperti Galungan, Kuningan, dan Waisak. Meski berasal dari tradisi berbeda, hari-hari suci ini dirayakan secara nasional, menunjukkan sikap inklusif kerajaan terhadap berbagai keyakinan.

Para raja Majapahit berperan besar dalam menjaga dan mendorong toleransi antar agama. Raja Hayam Wuruk dikenal menghormati para pendeta dari berbagai kepercayaan dan menyediakan tempat ibadah bagi semua.

 

 

Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular yang juga hidup pada masa Majapahit bahkan mengandung semboyan terkenal "Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa" yang berarti "Berbeda-beda tetapi satu jua, tidak ada dua kebenaran". Ungkapan ini menjadi simbol kebangsaan Indonesia hingga kini.

Jejak toleransi Hindu-Buddha di Majapahit masih bisa dilihat dalam kehidupan masyarakat Bali, Lombok, dan sebagian Jawa Timur.

Tradisi upacara dan arsitektur candi yang mencampurkan unsur Hindu-Buddha menjadi bukti nyata bahwa masyarakat Indonesia sejak dahulu telah mengenal dan mempraktikkan nilai-nilai hidup berdampingan secara damai.

Kerajaan Majapahit memberikan contoh luar biasa tentang bagaimana keberagaman agama dapat dijaga melalui sikap saling menghormati dan keterbukaan. Praktik upacara keagamaan Hindu dan Buddha yang dijalankan secara berdampingan, bahkan sering kali menyatu, mencerminkan semangat toleransi yang tinggi dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan saat itu.

Nilai-nilai ini bukan hanya bagian dari sejarah masa lampau, tetapi juga menjadi warisan budaya yang relevan untuk membangun kerukunan di tengah masyarakat modern yang multikultural. (NIYA)

 

Editor : Martda Vadetya
#majapahit #Upacara Pemujaan Dewa dan Budha #Upacara Sraddha #Perayaan Keagamaan dan Hari Besar #nusantara #hindu buddha #upacara keagamaan #sinkretisme