Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Warisan Majapahit yang Tak Lekang oleh Waktu di Tanah Jawa Timur

Imron Arlado • Jumat, 22 Agustus 2025 | 13:00 WIB
Kerajaan Majapahit mungkin telah runtuh lebih dari lima abad silam, tetapi jejaknya belum benar-benar hilang dari kehidupan masyarakat. Sumber Foto: Google
Kerajaan Majapahit mungkin telah runtuh lebih dari lima abad silam, tetapi jejaknya belum benar-benar hilang dari kehidupan masyarakat. Sumber Foto: Google

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Kerajaan Majapahit mungkin telah runtuh lebih dari lima abad silam, tetapi jejaknya belum benar-benar hilang dari kehidupan masyarakat.

Di berbagai pelosok Jawa Timur, warisan budaya dan tradisi Majapahit masih hidup dan mengakar kuat dalam keseharian warga.

Dari upacara adat hingga kerajinan tangan, nilai-nilai peradaban besar itu tetap berdetak dalam denyut budaya lokal, menunjukkan bahwa Majapahit bukan sekadar cerita dalam buku sejarah, melainkan warisan yang masih dirawat dan dihargai.

Majapahit bukan hanya tentang ekspansi wilayah atau tokoh besar seperti Gajah Mada dan Hayam Wuruk. Ia juga meninggalkan warisan budaya yang mencerminkan kejayaan peradaban.

 

Baca Juga: Seni Majapahit dan Tari Topeng, Jejak Estetika, Simbol, dan Warisan Budaya yang Hidup Hingga Kini

 

Seni, sistem sosial, upacara adat, dan nilai kehidupan. Banyak tradisi yang kini masih dijalankan masyarakat Jawa Timur sebenarnya merupakan kelanjutan dari praktik budaya era Majapahit.

Misalnya, upacara bersih desa atau selamatan desa yang biasa dilakukan menjelang musim tanam atau panen merupakan adaptasi dari tradisi penghormatan kepada alam dan leluhur yang sudah dikenal sejak zaman Majapahit.

Dalam upacara tersebut, sesajen, doa bersama, dan pertunjukan seni rakyat kerap dipertunjukkan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi dan harapan akan keberkahan di masa depan.

Bahasa Kawi dan Javanese klasik yang digunakan dalam kakawin atau kidung-kidung tradisional juga merupakan warisan langsung dari masa Majapahit.

Hingga kini, tembang-tembang seperti Kidung Wargasari dan Kakawin Nagarakretagama masih dipelajari dan dibacakan dalam acara adat maupun akademik, terutama di kawasan sekitar Mojokerto, Kediri, dan Blitar.

Nilai-nilai filosofis seperti “manunggaling kawula lan gusti” (penyatuan manusia dengan Tuhan), serta ajaran etika seperti "sura dira jaya ningrat lebur dening pangastuti" (kekerasan dan amarah dapat dikalahkan dengan kelembutan dan cinta kasih), terus hidup dalam falsafah hidup masyarakat Jawa.

Salah satu bentuk warisan Majapahit yang masih nyata terlihat adalah pada kerajinan tangan dan seni ukir.

Wilayah Trowulan, bekas pusat pemerintahan Majapahit, hingga kini masih menjadi sentra kerajinan batu bata merah, gerabah, ukiran kayu, dan relief candi yang mengikuti gaya arsitektur Majapahit.

Motif-motif khas seperti pohon kalpataru, naga, garuda, dan bentuk-bentuk geometris masih digunakan dalam seni ukir rumah adat, pagar, gapura, hingga batik khas daerah Mojokerto dan Tulungagung.

Ini menjadi bukti bahwa estetika Majapahit masih membekas dalam rasa seni masyarakat.

Di Jawa Timur, khususnya di Trowulan, Sidoarjo, Jombang, dan Mojokerto, banyak situs peninggalan Majapahit yang kini dijadikan tempat peringatan budaya dan spiritual, seperti Candi Bajang Ratu, Candi Tikus, Kolam Segaran, hingga Makam Troloyo.

Tak jarang, masyarakat setempat menggelar ritual tahunan di sekitar situs-situs tersebut, seperti nyadran, wilujengan, atau kenduri yang diyakini membawa berkah dan keselamatan. Upaya pelestarian ini tidak hanya menjadi kegiatan adat, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang memperkenalkan sejarah Majapahit pada generasi muda dan wisatawan.

Warisan Majapahit juga hidup dalam bentuk seni pertunjukan tradisional seperti wayang kulit, wayang orang, kuda lumping, hingga ludruk.

Cerita-cerita yang dibawakan seringkali mengambil tokoh-tokoh atau nilai dari kisah Mahabharata dan Ramayana, dua epos besar yang sangat dikembangkan dan dimuliakan pada masa Majapahit.

Tak hanya itu, beberapa daerah juga masih mempertahankan seni reog dan srandul, yang dipercaya sudah ada sejak zaman kerajaan dan digunakan untuk berbagai ritual penyucian atau hiburan kerajaan.

 

Baca Juga: Mengungkap Sejarah dan Misteri Pasukan Bayangan Majapahit yang Terpahat Abadi di Rilief Candi Penataran

 

Warisan kuliner pun tak luput. Masakan seperti pecel, nasi jagung, sayur lodeh, hingga penggunaan bumbu khas seperti terasi, sambal, dan rempah-rempah lokal adalah jejak kuliner Majapahit yang masih dikonsumsi hingga hari ini.

Bahkan, beberapa naskah kuno seperti Serat Centhini mencatat kebiasaan makan dan resep-resep rakyat yang diyakini telah dikenal sejak era Majapahit.

Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, pelestarian warisan Majapahit menjadi tantangan sekaligus peluang.

Beberapa komunitas budaya di Jawa Timur aktif menghidupkan kembali tradisi ini melalui festival budaya, pendidikan lokal, pelatihan seni tradisional, hingga digitalisasi literatur kuno.

Misalnya, Festival Majapahit yang rutin digelar di Trowulan tidak hanya menyuguhkan pertunjukan seni, tetapi juga memperkenalkan kuliner kuno, seminar sejarah, dan pameran artefak.

Pemerintah daerah dan komunitas lokal bekerja sama untuk memastikan bahwa warisan ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang pembelajaran lintas generasi.

Warisan Majapahit bukanlah peninggalan mati yang terpendam di balik reruntuhan candi. Ia hidup di tengah masyarakat Jawa Timur dalam bentuk tradisi, nilai, dan praktik kebudayaan yang terus berdenyut.

Keberadaan upacara adat, seni ukir, bahasa kuno, makanan tradisional, hingga pertunjukan rakyat menjadi bukti nyata bahwa semangat Majapahit masih berakar kuat.

Di tengah tantangan zaman, menjaga warisan ini bukan hanya soal melestarikan sejarah, tapi juga soal memperkuat identitas, membangun kebanggaan, dan merawat jati diri bangsa.

Karena sejatinya, warisan budaya bukan untuk dikenang semata, melainkan untuk terus dihidupkan. (NIYA)

Editor : Martda Vadetya
#seni ukir #rumah adat #wayang kulit #ludruk #Tanah Jawa #Warisan Kuliner #candi tikus #majapahit #warisan budaya #makam troloyo #kuda lumping #jawa timur #candi bajang ratu #pakaian khas