Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Majapahit dan Keanggunan Batik yang Lahir dari Peradaban Besar

Imron Arlado • Jumat, 22 Agustus 2025 | 06:55 WIB
Kerajaan Majapahit berdiri pada akhir abad ke-13 hingga awal abad ke-16. Sumber Foto: Pinterest
Kerajaan Majapahit berdiri pada akhir abad ke-13 hingga awal abad ke-16. Sumber Foto: Pinterest

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Kerajaan Majapahit berdiri pada akhir abad ke-13 hingga awal abad ke-16. Dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar dalam Sejarah Nusantara, Kejayaannya tidak hanya tercatat dalam sejarah sebagai kekuatan militer serta politik.

Namun, Majapahit juga sebagai pusat peradaban yang menghasilkan seni dan budaya luar biasa. Salah satu warisan terindah dari zaman Majapahit yang kini masih kita kenal hingga sekarang adalah batik, seni menghias kain yang tak hanya menawan, tetapi juga tersirat akan makna.

Meski Majapahit lebih sering disebut dalam konteks geopolitik dan ekspansi wilayah, aspek budaya dan seninya, terutama dalam hal tekstil dan motif batik menunjukkan tingginya pencapaian estetik masyarakat pada masa itu.

Batik yang kita kenal sekarang sesungguhnya merupakan kelanjutan dari tradisi panjang yang berakar kuat, salah satunya di era Majapahit.

Majapahit adalah kerajaan yang kompleks, bukan hanya karena luas wilayahnya yang membentang dari Semenanjung Malaya hingga Papua, tetapi juga karena struktur sosialnya yang beragam dan dinamis.

Di tengah kerumitan itu, seni menjadi medium penting untuk menyatukan identitas, menyampaikan pesan politik, dan merawat spiritualitas.

 

 

Kerajaan Majapahit tidak hanya melindungi para seniman dan pengrajin, tetapi juga menempatkan mereka dalam posisi yang strategis. Seni menjadi bagian dari simbol kekuasaan, dan batik sebagai seni tekstil menjadi salah satu sarana ekspresi budaya elite.

Tidak banyak kain dari masa Majapahit yang bertahan karena sifat materialnya yang mudah rusak. Namun, bukti visual mengenai keberadaan tekstil bermotif sudah bisa kita lihat dari berbagai relief candi peninggalan era tersebut.

Di antaranya adalah Candi Penataran, Candi Surawana, dan Candi Tegowangi yang menunjukkan figur manusia dengan pakaian bermotif geometris, floral, dan figuratif yang mencerminkan unsur-unsur batik awal.

Relief-relief tersebut tidak hanya menggambarkan sosok bangsawan, dewa, dan penari, tetapi juga memberi kita wawasan tentang detail busana yang digunakan. Ini mengindikasikan bahwa kain dengan pola yang khas sudah menjadi bagian dari ekspresi budaya dan status sosial.

Motif dalam batik era Majapahit tidak dibuat sembarangan. Setiap pola dan garis memiliki arti tertentu. Motif seperti parang, yang menggambarkan ombak besar, dipercaya melambangkan kekuatan dan keteguhan  sangat relevan dengan semangat Majapahit sebagai kerajaan yang ingin menaklukkan seluruh Nusantara.

Motif kawung, berbentuk lingkaran simetris menyerupai buah aren, sering dimaknai sebagai lambang kesempurnaan dan kebijaksanaan.

Majapahit sebagai kerajaan bercorak Hindu-Buddha juga sangat mempengaruhi ragam hias yang digunakan. Banyak motif batik yang terinspirasi dari kisah Mahabharata dan Ramayana, dua epos besar India yang sangat dihormati di masa itu. Kisah-kisah ini diterjemahkan ke dalam bentuk simbolik seperti naga, garuda, pohon kalpataru, dan makhluk mitologis lainnya.

Batik era Majapahit belum sepenuhnya seperti batik tulis modern yang menggunakan canting dan malam (lilin). Namun, teknik pewarnaan kain dengan pola tertentu sudah dikenal, kemungkinan menggunakan stempel dari kayu atau teknik ikat celup yang kemudian berevolusi menjadi batik.

Bahan pewarna yang digunakan berasal dari alam, seperti tinggi, indigo, soga, dan secang. Pewarna ini memberikan warna-warna khas seperti coklat tua, merah marun, dan biru tua, warna-warna yang kemudian dikenal sebagai ciri khas batik klasik. Proses pewarnaan dilakukan secara berulang untuk menghasilkan kedalaman warna dan ketahanan kain.

Di masa Majapahit, batik bukan hanya digunakan sebagai busana, melainkan juga sebagai penanda identitas sosial, spiritual, bahkan politik. Motif tertentu kemungkinan hanya boleh digunakan oleh kalangan bangsawan atau rohaniawan.

Fungsi batik dalam upacara-upacara keagamaan dan ritual kerajaan juga menandakan bahwa kain bermotif tidak sekadar alat berpakaian, melainkan bagian dari sistem kepercayaan.

 

 

Hingga saat ini, pengaruh estetika Majapahit masih bisa ditemukan dalam karya-karya batik kontemporer, khususnya di daerah Jawa Timur seperti Tulungagung, Trenggalek, Mojokerto, dan Sidoarjo.

Para perajin batik di daerah ini banyak mengadaptasi motif-motif klasik dengan narasi-narasi Majapahit untuk dihidupkan kembali dalam gaya yang lebih modern.

Batik Majapahitan ini menjadi cara untuk merawat memori sejarah sekaligus memperkuat identitas lokal di tengah arus globalisasi budaya.

Tidak sedikit desainer Indonesia yang kini mengangkat tema-tema sejarah dan klasik dalam karya busana modern mereka menjadikan batik tidak sekadar busana, tetapi narasi yang bisa dibawa ke mana saja.

Majapahit telah tiada secara fisik, tetapi kebesarannya terus hidup melalui warisan budayanya salah satunya adalah batik. Keanggunan batik yang lahir dari peradaban besar ini bukan hanya karya seni, melainkan warisan peradaban yang menjembatani masa lalu dengan masa kini.

Dalam setiap garis, warna, dan pola batik yang kita kenakan hari ini, tersimpan jejak kejayaan leluhur yang layak kita kenang, rawat, dan banggakan. (NIYA)

 

 

Editor : Martda Vadetya
#seni batik #majapahit #motif batik #karya batik #seni tekstil