JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Kerajaan Majapahit kerap kali dikenal melalui kisah masa kejayaan serta keruntuhannya. Kisah tersebut juga biasanya digunakan sebagai media atau alat untuk memahami kerajaan Majapahit lebih dalam.
Selain itu, memahami sejarah kerajaan Majapahit juga dapat dilakukan dengan melihat langsung jejak visual atau warisannya.
Jejak visual atau warisan yang seringkali dibahas dalam naskah sejarah Majapahit adalah candi. Terdapat berbagai macam candi pada era peradaban Majapahit dan salah satunya adalah Candi Penataran.
Candi Penataran sendiri merupakan area kompleks candi Hindu terbesar di Jawa Timur yang terletak di kaki gunung kelud. Tepatnya di Desa Penataran, kecamatan Nglegok, kabupaten Blitar, Jawa Timur.
Candi ini juga dipercaya berdiri secara bertahap sejak era Kediri hingga era Majapahit. Hal ini dapat dibuktikan melalui ukiran angka tahun yang dipahat di bagian-bagian tertentu, seperti pada prasasti, patung, kaki arca, maupun relief.
Pahatan angka tersebut digunakan sebagai petunjuk kapan bagian tersebut dibangun atau dipasang. Misalnya pada prasasti palah yang menunjukkan tahun 1997 masehi, artinya kompleks penataran sudah ada sejak abad ke-12.
Kemudian Arca Dwarapala yang terdapat pahatan angka tahun 1310 masehi yang menunjukkan bahwa pada masa itu ada renovasi atau perluasan.
Pahatan angka tahun juga terdapat pada kaki Arca Mahakala di candi utama, yakni 1347 masehi, yang menunjukkan bahwa pada era puncak Majapahit, candi utama penataran ditambah dan disempurnakan.
Dari pahatan angka tersebut dapat disimpulkan bahwa situs candi penataran ini selalu dipakai dan diperbarui atau disempurnakan lintas generasi, lalu mulai memuncak popularitasnya di abad ke-14 pada masa pemerintahan Hayam Wuruk.
Candi Penataran juga dikenal karena panel-panel reliefnya yang kerap kali dihubungkan dengan pasukan elit Majapahit yang diduga sebagai pasukan bayangan.
Dugaan tersebut dipicu oleh ciri visual relief yang berbeda dengan penggambaran prajurit Jawa pada umumnya.
Namun, perlu diketahui bahwa relief candi penataran tidak memberi label bahwa relief tersebut menggambarkan pasukan bhayangkara, identifikasi dan dugaan tersebut muncul dari konteks adegan yang dinilai cukup mirip dengan pasukan bayangan Majapahit.
Salah satu relief tersebut menunjukkan para prajurit dengan atribut yang tampak asing dan tidak biasa, bahkan dinilai berbeda dari prajurit lokal tradisional.
Atribut tersebut juga sempat diasumsikan sebagai pengaruh budaya luar seperti suku Maya atau bangsa Persia dan Turki.
Akan tetapi, para ahli menegaskan bahwa atribut itu merupakan inovasi budaya lokal dan bentuk interaksi dengan pengunjung dari berbagai daerah di Nusantara.
Baca Juga: Menelusuri Jejak Hukum Pidana di Era Majapahit, Antara Keadilan dan Kekuasaan
Relief pasukan bayangan ini juga dianggap lebih menonjol sebagai pasukan atau prajurit khusus yang berasal dari daerah bawahan atau daerah Majapahit lainnya yang bukan dari wilayah inti Majapahit.
Beberapa orang yang pertama kali mendengar istilah pasukan bayangan pasti akan membayangkan unit rahasia yang tersembunyi atau tak terlihat.
Padahal, istilah historis pasukan bayangan Majapahit mengacu pada pasukan elit yang disebut dengan pasukan bhayangkara.
Pasukan bhayangkara sendiri bertugas sebagai pengawal raja sekaligus kerajaan serta melakukan operasi secara intelijen dan senyap.
Baca Juga: Dibuat Secara Manual, Gerabah Era Majapahit Mesti Lalui Tahapan Panjang nan Rumit
Mereka juga dipercaya sebagai pasukan telik sandi atau mata-mata Majapahit dan memiliki tanggung jawab besar atas keamanan dan stabilitas kerajaan.
Dalam naskah sejarah Majapahit, yakni pararaton, Gajah Mada ditempatkan sebagai komandan pasukan bhayangkara sebelum karirnya melonjak dan ia naik tahta sebagai seorang Mahapatih.
Relief pasukan bayangan pada candi penataran juga dianggap sebagai cerminan status Majapahit sebagai pusat kekuasaan Nusantara, tempat berkumpulnya utusan prajurit dari berbagai daerah untuk berkoordinasi dan berperan dalam sistem keamanan kerajaan.
Lalu, bentuk prajurit yang asing menunjukkan sistem diplomasi Majapahit yang terbuka dan keragaman militer sebagai simbol kekuatan serta pengaruh kekuasaan yang luas dan mutlak. (FANEZA)
Editor : Martda Vadetya