Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Kisah Singkat Sejarah Dharmaputra di Majapahit, Gejolak Ambisi yang Berujung Tragedi

Imron Arlado • Selasa, 19 Agustus 2025 | 01:15 WIB

 

Dharmaputra didirikan sebagai bentuk menghargai dan memanfaatkan jasa serta kemampuan orang dengan mengangkatnya sebagai abdi kerajaan. Sumber foto: Google
Dharmaputra didirikan sebagai bentuk menghargai dan memanfaatkan jasa serta kemampuan orang dengan mengangkatnya sebagai abdi kerajaan. Sumber foto: Google

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Majapahit telah berkaitan erat dengan sebutan jaya dan luas karena keberhasilannya menjadi salah satu kerajaan terbesar di nusantara dan memiliki kekuasaan yang luas hingga ke mancanegara.

Namun, di balik seluruh kisah legendaris tersebut, terdapat kisah tentang suatu kelompok istimewa bernama Dharmaputra yang didirikan oleh raja pendiri, Raden Wijaya, pada awal berdirinya Majapahit.

Secara etimologis atau asal-usul sejarah, Dharmaputra bisa diartikan sebagai seorang anak atau pengikut yang lahir dari dedikasinya dalam melaksanakan tugas.

Namun, dalam konteks Majapahit, mereka bukan sekedar prajurit dan pengawal biasa.

Mereka adalah jajaran pejabat penting yang diistimewakan raja, sehingga mereka memiliki akses untuk ke istana, dekat dengan raja, bahkan bisa menggerakkan kekuatan militer.

Dharmaputra sendiri didirikan sebagai bentuk menghargai dan memanfaatkan jasa serta kemampuan atau keahlian orang dengan mengangkatnya sebagai abdi kerajaan yang dianggap istimewa.

Dalam naskah sejarah pararaton yang memuat informasi mengenai kelompok ini menyebutkan bahwa dharmaputra terdiri dari 7 orang tangguh yang disayangi raja.

Anggota dharmaputra bernama Ra Kuti, Ra Semi, Ra Pangsa, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Tanca, dan Ra Banyak.

 

Baca Juga: Area Situs Bhre Kahuripan di Mojokerto Diprediksi Seluas 6,5 Hektare, Berpeluang Diekskavasi Lagi Tahun Depan

 

Nama-nama anggota dharmaputra selalu diawali dengan kata "Ra" karena pada abad ke-14, sebutan "Ra" seringkali digunakan untuk menandai status pejabat istana.

Sementara itu, pada kehidupan sehari-hari mereka memiliki fungsi dan kewenangan sendiri-sendiri.

Tak hanya bertugas untuk mengawal istana, mereka juga memiliki tanggung jawab untuk mengatur logistik prajurit sekaligus administrasi gaji.

Sebagai seorang juru pangalasan atau suatu kelompok yang memiliki jabatan tinggi dalam istana dan dekat dengan raja, para anggota dharmaputra juga memiliki kewenangan.

Kewenangan tersebut ialah dekat dengan raja, dapat mengatur prajurit pengawal, dan memiliki hak yang istimewa.

Pada masa pemerintahan Jayanegara, Majapahit mengalami banyak pergolakan. Salah satu pergolakan tersebut dipicu oleh kelompok istimewa yang mulanya sangat dipercaya oleh raja.

Kelompok istimewa tersebut adalah dharmaputra. Dalam keadaan ini, sebagian anggota lama dharmaputra justru tampil sebagai pihak yang menentang.

Baca Juga: Beginilah Hubungan Antara Majapahit dengan Kerajaan di Sumatera Setelah Runtuhnya Sriwijaya

Kehadirannya yang diharap dapat memperkuat kerajaan justru menjadi malapetaka yang hampir meruntuhkan kerajaan Majapahit karena ambisi pribadinya.

Mereka merasa tidak puas dan ragu dengan legitimasi Jayanegara sebagai seorang pemimpin pada masa itu.

Akhirnya, pada tahun 1319 masehi, salah satu anggota dharmaputra, Ra Kuti, menggelar dan mengorganisasikan pemberontakan sebagai bentuk ketidakpuasan dharmaputra terhadap pemerintahan Jayanegara dan ambisi pribadinya untuk merebut tahta Majapahit.

Saat kejadian ini, Jayanegara telah dievakuasi diam-diam ke Badander oleh pasukan bhayangkara yang dipimpin oleh Gajah Mada.

Memperlihatkan bahwa antara dharmaputra dan pasukan bhayangkara berada di sisi yang berseberangan.

 

Baca Juga: Dibuat Secara Manual, Gerabah Era Majapahit Mesti Lalui Tahapan Panjang nan Rumit

 

Lalu, kisah tersebut juga menjadi salah satu awal kemunculan sosok legendaris dan gemilang Gajah Mada dalam naskah sejarah.

Kebanggaan dan keistimewaan terhadap dharmaputra kemudian rapuh karena kewenangan yang dimilikinya (dekat dengan raja) justru membawa petaka besar.

Bahkan di kitab pararaton tertulis para dharmaputra itu berakhir "mati ilangaken" atau ditumpas.

Sebuah akhir yang getir dan mengenaskan bagi orang yang dahulu menjadi kesayangan raja.

Kisah ini menunjukkan bahwa orang yang perlu diwaspadai bukan hanya orang luar yang terlihat membahayakan, melainkan orang dalam juga.

Selain itu, ambisi yang terlalu bergejolak juga dapat memberi dampak yang fatal jika tidak dikontrol dengan baik. (FANEZA)

 

Editor : Martda Vadetya
#ra banyak #ra kuti #ra tanca #majapahit #ra wedeng #kesayangan raja #kelompok istimewa #anggota dharmaputra #dharmaputra #ra pangsa #ra semi #kerajaan majapahit #pemberontakan #ra yuyu