JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Ketika berbicara mengenai sejarah maritim Nusantara, nama Sriwijaya hampir tidak pernah terlewatkan.
Selama berabad-abad, kerajaan besar yang berpusat di Palembang ini menjadi penguasa utama jalur perdagangan di Selat Malaka, sekaligus pusat penyebaran agama Buddha di Asia Tenggara.
Namun, memasuki abad ke 13. kejayaan itu runtuh. Serangan dari Kerajaan Colamandala di India selatan, ditambah melemahnya kendali atas wilayah yang ditaklukan membuat Sriwijaya perlahan kehilangan pengaruhnya.
Dalam situasi inilah, Majapahit menjadi kerajaan besar yang berdiri di Jawa Timur pada akhir abad ke 13 dan mulai melirik sumatera.
Bagi Majapahit pulau ini bukan sekadar tetangga, melainkan kunci dalam menguasai jalur perdagangan internasional.
Dan yang menghubungkan antara Jawa dengan India, Tiongkok, dan Timur Tengah. Maka, hubungan antara Majapahit dengan kerajaan-kerajaan di Sumatera menjadi salah satu babak penting dalam sejarah Nusantara.
Warisan Sriwijaya dan Perebutan Pengaruh
Setelah runtuhnya Sriwijaya sejumlah kerajaan muncul di Sumatera untuk mengisi kekosongan kekuasaan.
Diantaranya adalah Melayu Dharmasraya di jambi, serta kemudian Samudra Pasai di aceh yang terkenal sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara.
Semua kerajaan ini berdiri di lokasi strategis yang menjadi jalur utama perdagangan lada, emas, dan hasil bumi lainya.
Majapahit memahami bahwa tanpa menguasai jalur perdagangan Sumatera, kekuatan maritimnya tidak akan lengkap.
Majapahit dan Melayu Dharmasraya
Ketika Majapahit berdiri tahun 1293, warisan politik dari ekspedisi singasari masih terasa. Hubungan Majapahit dengan Melayu Dharmasraya cenderung dekat. Dharmasraya dianggap sebagai sekutu penting sekaligus daerah bawahan.
Hal ini tampak dalam Negarakertagama karya Mpu Prapanca yang menulis daftar daerah-daerah taklukan Majapahit, dan nama Melayu disebut di dalamnya.
Hubungan antara keduanya tidak hanya berupa penguasaan politik, melainkan juga perkawinan politik.
Ada sumber yang menyebutkan bahwa putri kerajaan Dharmasraya menikah dengan bangsawan Jawa, sehingga mempererat hubungan dinasti.
Hubungan dengan Samudra Pasai
Berbeda dengan Dharmasraya, hubungan Majapahit dengan Samudera Pasai lebih rumit. Pasai berkembang pesat sejak abad ke 13 sebagai pusat perdagangan Islam.
Baca Juga: Dibuat Secara Manual, Gerabah Era Majapahit Mesti Lalui Tahapan Panjang nan Rumit
Letaknya yang strategis di ujung utara Sumatera membuatnya menjadi penghubung utama antara pedagang Arab, India Muslim, dan Tiongkok.
Majapahit tentu melihat pasai sebagai pesaing dagang, terutama karena Pasai menguasai komoditas penting seperti lada.
Namun, persaingan ini tidak selalu berarti peperangan. Catatan sejarah menyebutkan bahwa Majapahit tetap menjalin hubungan diplomatik dengan Pasai. Utusan Pasai pernah datang ke Majapahit, begitu juga sebaliknya.
Jaringan Maritim dan Upeti dari Sumatera
Selaim Dharmasraya dan Pasai, ada banyak kerajaan kecil di Sumatera yang disebutkan dalam Negarakertagama sebagai daerah bawahan Majapahit, seperti Palembang, Jambi, Indragiri, hingga Tamiang
Bentuk hubungan mereka dengan Majapahit biasanya berupa pengiriman upeti atau persembahan sebagai tanda pengakuan kedaulatan.
Namun, harus dipahami bahwa pengakuan ini sering kali bersifat simbolis. Majapahit tidak selalu menempatkan pasukan atau pejabat tetap di daerah-daerah tersebut.
Sebaliknya, hubungan ini lebih mirip sebagai aliansi politik dan dagang, di mana Majapahit memperoleh legitimasi sebagai penguasa besar Nusantara.
Sementara kerajaan-kerajaan kecil memperoleh perlindungan dan akses ke jaringan perdagangan Majapahit.
Pengaruh Politik dan Perdagangan
Keberhasilan Majapahit menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan di Sumatera membuatnya mampu membangun jaringan maritim luas.
Melalui jalur ini, Majapahit bisa mengendalikan perdagangan rempah dari Maluku yang lewat Jawa, diteruskan ke Sumatera, dan kemudian ke pasar internasional di India serta Tiongkok.
Namun, pengaruh Majapahit di Sumatera tidak pernah sepenuhnya mutlak. Kerajaan-kerajaan di Sumatera tetap memiliki kemandirian, terutama Samudra Pasai yang bahkan mampu menyaingi kekuatan dagang Majapahit.
Situasi ini menunjukkan bahwa hubungan antara Majapahit dan Sumatera bukanlah hubungan penakluk dan taklukan secara mutlak, melainkan hubungan politik yang kompleks, penuh dengan negosiasi, persaingan, sekaligus kerjasama.
Setelah runtuhnya Sriwijaya, Sumatera tidak lagi berada dalam satu kekuasaan tunggal, melainkan terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Majapahit, yang tumbuh menjadi kerajaan besar di Jawa, memanfaatkan kondisi ini untuk memperluas pengaruhnya. (AILEEN)
Editor : Martda Vadetya