Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Area Situs Bhre Kahuripan di Mojokerto Diprediksi Seluas 6,5 Hektare, Berpeluang Diekskavasi Lagi Tahun Depan

Martda Vadetya • Minggu, 17 Agustus 2025 | 04:00 WIB
LENGKAPI DATA: Arkeolog BPK Wilayah XI menyampaikan hasil ekskavasi lanjutan Situs Bhre Kahuripan pada Kepala Disbudporapar Kabupaten Mojokerto Norman Handhito, Jumat (15/8). (foto: Martda vadetya)
LENGKAPI DATA: Arkeolog BPK Wilayah XI menyampaikan hasil ekskavasi lanjutan Situs Bhre Kahuripan pada Kepala Disbudporapar Kabupaten Mojokerto Norman Handhito, Jumat (15/8). (foto: Martda vadetya)

RADAR MAJAPAHIT - Ekskavasi lanjutan kompleks Situs Bhre Kahuripan di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, rampung digelar Jumat (15/8) lalu.

Sejumlah temuan arkeologis dikantongi tim ekskavasi untuk melengkapi data sebaran cagar budaya yang sejauh ini belum teridentifikasi.

Pentingnya nilai sejarah yang ada di candi peninggalan Kerajaan Majapahit membuatnya berpeluang diekskavasi lagi tahun depan.

Kabid Kebudayaan Disbudporapar Kabupaten Mojokerto Riedy Prastowo menerangkan, selama ekskavasi lanjutan berlangsung pada 11-15 Agustus tim arkeolog mendapati sejumlah temuan.

Pertama, tapak pilar pada pagar sisi selatan area utama candi. Susunan bata kuno berdimensi 1,5 meter persegi ini melengkapi temuan tim arkeolog BPK Wilayah XI yang lebih dulu membuka struktur pagar keliling sepanjang 25 meter tersebut.

Kemudian sebaran struktur saluran air kuno yang mengelilingi area bintang (mandala).

Parit selebar 16 cm itu juga didapati menyambung ke timur dengan struktur sektor tengah yang tuntas diekskavasi pada 2022 silam.

”Dari ekskavasi lanjutan ini kita bisa melengkapi data arsitektur atau pola keruangan situs secara bertahap,” ungkapnya, Sabtu (16/8).

Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan situs berangka tahun 1294 Saka atau 1372 Masehi ini akan kembali diekskavasi lagi tahun depan.

Mengingat, salah satu peninggalan Hayam Wuruk, raja keempat Majapahit, ini memiliki nilai sejarah yang besar.

”Tidak menutup kemungkinan tahun depan dari pemkab maupun BPK Wilayah XI melakukan ekskavasi lagi. Tetap kita lakukan penyesuaian,” terangnya.

Apalagi, peninggalan yang ada Situs Bhre Kahuripan dinilai lebih lengkap dan kompleks ketimbang situs lain di Mojokerto.

Bahkan, Situs Kumitir sekalipun. Sebab, candi bercorak Hindu-Buddha terindikasi memiliki tiga gapura, altar hingga mandala. Hanya saja, sejauh ini kompleks situs masih belum teridentifikasi seluruhnya.

”Informasi terbaru perkiraan luasnya mencapai 6,5 hektare. Sementara ini baru sekitar 60 persen pola keruangan yang terdata,” tandas Riedy.

Ketua Tim Ekskavasi Situs Bhre Kahuripan M. Ichwan menambahkan, besarnya peninggalan sejarah di kawasan Situs Bhre Kahuripan dan Situs Klintrejo bisa memperkaya khazanah keilmuan dan kebudayaan.

”Ekskavasi yang dilakukan sejauh ini penting untuk melengkapi data (sejarah). Ini terus sedang kita lengkapi, apalagi situs Bhre Kahuripan diyakini sebagai petilasan Tribuana Tunggadewi (raja ketiga Majapahit) ya,” terang arkeolog BPK Wilayah XI, ini.

Diketahui, Pemkab Mojokerto menggulirkan ekskavasi lanjutan di kompleks Situs Bhre Kahuripan kurun 11-15 Agustus.

Menggandeng tim arkeolog BPK Wilayah XI, pemkab mengucurkan APBD senilai Rp 50 juta untuk penggalian arkeologis selama lima hari tersebut.

Kegiatan ini digelar beberapa hari setelah BPK Wilayah XI menuntaskan ekskavasi tahun keenam Situs Bhre Kahuripan pada 23 Juli-7 Agustus. (vad/ris)

 

Editor : Martda Vadetya
#hindu-buddha #hayam wuruk #ekskavasi #mojokerto #disbudporapar kabupaten mojokerto #arkeolog #situs bhre kahuripan #arsitektur #kerajaan majapahit #candi