JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Kerajaan Majapahit yang berdiri pada tahun 1293 dan mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-14 di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada.
Majapahit merupakan salah satu kerajaan terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah Asia Tenggara.
Tidak hanya unggul dalam hal politik dan budaya, Majapahit juga dikenal sebagai kekuatan maritim yang tangguh.
Dalam konteks Asia Tenggara pada abad ke-13 hingga ke-15, dinamika maritim sangat menentukan jalannya kekuasaan dan pengaruh antar kerajaan.
Kerajaan-kerajaan yang menguasai jalur laut dan perdagangan memiliki keunggulan strategis.
Majapahit adalah salah satu kerajaan yang mampu memanfaatkan posisi geografisnya serta teknologi pelayaran untuk membangun dominasi maritim yang luas, bahkan hingga melampaui wilayah Nusantara.
Terletak di wilayah Jawa Timur dengan pusat pemerintahan di Trowulan, Majapahit memiliki akses langsung ke jalur pelayaran penting di Selat Malaka, Laut Jawa, dan Laut Cina Selatan.
Keberadaan Sungai Brantas dan Bengawan Solo juga menjadi penghubung alami antara pedalaman Jawa Timur dan pesisir utara, memungkinkan Majapahit membangun pelabuhan-pelabuhan strategis yang terintegrasi dengan pusat politik dan ekonomi kerajaan.
Sebagai kerajaan agraris-maritim, Majapahit menggabungkan produksi hasil bumi (seperti beras dan rempah-rempah) dengan distribusi dagang melalui jalur laut.
Hal ini menjadikan Majapahit tidak hanya mandiri secara ekonomi, tetapi juga mampu mengekspor berbagai komoditas ke luar negeri.
Majapahit dikenal memiliki armada laut yang besar dan kuat. Dalam berbagai sumber, termasuk catatan asing dan naskah lokal, disebutkan bahwa kapal-kapal Majapahit seperti jong, kelulus, dan malangbang adalah alat utama dalam pengangkutan barang dagangan sekaligus kekuatan militer laut.
- Jong merupakan kapal besar yang mampu menampung hingga ratusan ton muatan dan puluhan awak kapal. Kapal ini digunakan untuk pelayaran jarak jauh, baik dalam perdagangan maupun ekspedisi militer.
- Kelulus merupakan kapal kecil dan lincah yang digunakan untuk patroli dan pengintaian.
- Malangbang digunakan untuk angkutan ringan dan sering kali menjadi bagian dari armada pengawalan.
Teknologi pembuatan kapal Majapahit sangat maju dengan struktur kapal yang kokoh dan kemampuan navigasi yang sesuai untuk laut lepas.
Kapal-kapal ini tidak menggunakan paku besi, melainkan pasak kayu dan teknik sambungan yang kuat, salah satu ciri khas teknologi maritim Nusantara.
Majapahit membangun jaringan pelabuhan yang mendukung aktivitas maritim dan perdagangan, baik domestik maupun internasional.
Dari beberapa pelabuhan, barang-barang diekspor ke berbagai negara, terutama India, Cina, Arab, dan kawasan Asia Tenggara lainnya.
Jalur pelayaran Majapahit menjadi bagian dari jalur sutra maritim (maritime silk road) yang menghubungkan Timur dan Barat.
Majapahit terlibat aktif dalam perdagangan internasional. Komoditas ekspor utama yang dikirim melalui jalur laut meliputi:
- Rempah-rempah: cengkeh, pala, dan lada
- Hasil bumi: beras, kelapa, gula, kayu jati
- Produk kerajinan: tekstil, perhiasan, dan keramik
Sebaliknya, dari luar negeri, Majapahit mengimpor barang-barang seperti keramik dari Cina, kain dari India, logam mulia, dan barang-barang mewah lainnya. Perdagangan ini bukan hanya menjadi sumber kekayaan kerajaan, tetapi juga memperkuat posisi politik Majapahit di mata kerajaan asing.
Majapahit menggunakan kekuatan lautnya tidak hanya untuk perdagangan, tetapi juga untuk memperluas pengaruh politik.
Mahapatih Gajah Mada, melalui Sumpah Palapa, bertekad menyatukan wilayah Nusantara di bawah kendali Majapahit.
Armada laut menjadi sarana penting dalam ekspedisi militer ke Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, bahkan sebagian Semenanjung Malaya dan Filipina selatan.
Melalui kekuatan militer laut dan diplomasi, Majapahit membentuk semacam hegemoni maritim di Asia Tenggara.
Kitab Negarakertagama mencatat lebih dari 100 kerajaan atau daerah yang berada dalam pengaruh Majapahit, mulai dari Sumatra, Pahang, hingga Sulu.
Dominasi maritim Majapahit tidak selalu berjalan mulus. Kerajaan ini harus menghadapi persaingan dari kerajaan maritim lain seperti:
- Kesultanan Malaka, yang mulai berkembang pesat sejak awal abad ke-15 dan menjadi pusat perdagangan Islam di Selat Malaka.
- Kesultanan Samudera Pasai, yang juga menguasai jalur rempah dan memiliki armada laut yang kuat.
Selain itu, pengaruh Cina, terutama pada masa Dinasti Ming, mulai mengambil alih sebagian jalur perdagangan, dan ini mengurangi dominasi Majapahit.
Beberapa faktor yang menyebabkan merosotnya kekuatan maritim Majapahit antara lain:
- Konflik internal: Perebutan kekuasaan setelah wafatnya Hayam Wuruk menyebabkan perpecahan dalam tubuh kerajaan.
- Perkembangan Islam di pesisir: Munculnya kerajaan-kerajaan Islam yang menguasai pelabuhan penting menggeser pengaruh Majapahit.
- Persaingan dagang: Malaka dan kerajaan-kerajaan Islam lainnya mengambil alih perdagangan maritim di kawasan Asia Tenggara.
- Menurunnya peran armada laut: Ketidakmampuan Majapahit menjaga jalur laut dan pelabuhan menyebabkan hilangnya kendali atas wilayah sekitarnya.
Meskipun akhirnya runtuh, Majapahit meninggalkan warisan besar dalam sejarah maritim Indonesia.
Struktur pelabuhan, sistem pelayaran, diplomasi laut, dan semangat integrasi kawasan menjadi fondasi bagi kerajaan-kerajaan penerus, seperti Demak dan Mataram.
Majapahit juga membentuk pemahaman tentang pentingnya laut sebagai sumber kekuatan nasional.
Peran maritim Majapahit dalam sejarah Nusantara memberikan pelajaran penting tentang pentingnya kekuatan laut, kerja sama kawasan, dan integrasi ekonomi sebagai fondasi kemakmuran suatu bangsa.
Di tengah tantangan geopolitik dan ekonomi saat ini, semangat kemaritiman Majapahit tetap relevan dan menginspirasi arah kebijakan Indonesia sebagai negara kepulauan yang besar dan strategis. (NIYA/FADYA)
Editor : Martda Vadetya