JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Di tengah arus modernisasi yang terus mengalir deras, Tari Mayang Rontek hadir sebagai pengingat akan akar budaya yang dalam dan kaya.
Tarian khas Mojokerto ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan cerminan nilai-nilai luhur yang diwariskan dari masa kejayaan Kerajaan Majapahit.
Dengan gerakan yang anggun dan penuh simbolisme, Tari Mayang Rontek menghidupkan kembali prosesi adat Mojoputri, sebuah tradisi pernikahan yang sarat makna spiritual dan sosial.
Busana penari yang elegan, iringan musik tradisional seperti rebana, serta filosofi gerakan yang mencerminkan realitas hidup, menjadikan tarian ini sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Di era digital, Tari Mayang Rontek tetap menari, membawa semangat Majapahit ke panggung-panggung modern, membuktikan bahwa warisan budaya bukanlah peninggalan, melainkan identitas yang terus hidup dan berkembang.
Jejak Sejarah dari Kerajaan Majapahit
Tari Mayang Rontek merupakan tarian tradisional yang berasal dari Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, wilayah yang dahulu menjadi pusat kejayaan Kerajaan Majapahit.
Tarian ini lahir dari prosesi adat Mojoputri, sebuah ritual pernikahan yang dipercaya sebagai peninggalan budaya Majapahit.
Dalam prosesi tersebut, Tari Mayang Rontek menjadi simbol kesucian, harapan, dan doa bagi mempelai wanita yang akan memasuki babak baru kehidupan.
Filosofi Gerakan dan Makna Simbolik
Gerakan dalam Tari Mayang Rontek tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga kaya akan makna.
Terdapat filosofi dualitas dalam setiap gerakannya seperti baik dan buruk, terang dan gelap, suka dan duka yang mencerminkan perjalanan hidup manusia.
Salah satu gerakan khas, Songgo Nompo, melambangkan sikap menerima dan menyangga kehendak Tuhan, sebuah nilai spiritual yang dalam.
Busana dan Musik Perpaduan Majapahit dan Islam
Busana penari Mayang Rontek mencerminkan perpaduan budaya Majapahit dan pengaruh Islam.
Pakaian yang tertutup dan elegan menunjukkan nilai kesopanan dan spiritualitas, sementara iringan musik tradisional seperti rebana menambah nuansa sakral dalam pertunjukan.
Hiasan mayang dan rontek yang dikenakan penari menjadi simbol keindahan dan harapan.
Relevansi di Era Modern
Meski berasal dari tradisi kuno, Tari Mayang Rontek tetap relevan di era modern. Tarian ini sering ditampilkan dalam acara budaya, festival seni, dan prosesi adat sebagai bentuk pelestarian warisan leluhur.
Generasi muda mulai mengenal dan mempelajari tarian ini, membuktikan bahwa budaya Majapahit masih hidup dan menari di panggung zaman sekarang.
Tari Mayang Rontek bukan sekadar tarian tradisional, melainkan sebuah cermin budaya yang merefleksikan kejayaan Majapahit dan nilai-nilai luhur masyarakat Jawa.
Di tengah arus globalisasi, tarian ini tetap menari dengan anggun, membawa pesan spiritual, estetika, dan sejarah kepada generasi masa kini.
Melestarikan Tari Mayang Rontek berarti menjaga denyut nadi warisan leluhur agar tetap hidup dan menginspirasi.
Karena budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dirayakan dan diwariskan. (ANGELINA/FADYA)
Editor : Martda Vadetya