JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Kerajaan Majapahit yang berdiri sejak akhir abad ke 13 pernah menguasai hampir seluruh Nusantara dan menjadi pusat perdagangan, budaya, serta diplomasi di Asia Tenggara.
Namun, memasuki abad ke 15, masa kejayaan itu mulai memudar. Ketika Ratu Suhita naik tahta pada tahun 1429 M, ia mewarisi sebuah kerajaan yang tidak lagi utuh serta dilanda perpecahan internal, dan menghadapi ancaman dari luar.
Awal Kehidupan dan Latar Belakang
Suhita lahir sebagai putri dari Raja Wikramawardhana dan permaisuri Kusumawardhani, keturunan langsung dari Raja Hayam Wuruk. Sejak kecil, Ratu Suhita tumbuh di lingkungan istana yang penuh intrik politik.
Masa mudanya diwarnai oleh Perang Paregreg (1404-1406 M), konflik saudara antara ayahnya dan Bhre Wirabhumi, paman dari garis keluarga lain.
Perang ini menyebabkan kehancuran besar, melemahkan otoritas pusat, dan meninggalkan luka yang membekas pada rakyat maupun keluarga kerajaan.
Kisah masa kecilnya di tengah suasana perang membuat Ratu Suhita memahami betapa rapuhnya persatuan Majapahit. Ia belajar bahwa kekuasaan tanpa kestabilan hanya akan melahirkan kehancuran.
Naiknya ke Tahta di Tengah Ketidakstabilan
Tahun 1429 M, setelah wafatnya Wikramawardhana, Ratu Suhita dinobatkan sebagai penguasa Majapahit.
Penobatannya unik karena perempuan jarang menjadi raja (ratu) pada masa itu, meskipun Majapahit pernah dipimpin Tribhuwana Tunggadewi sebelumnya.
Namun, situasinya berbeda dan Ratu Suhita memimpin bukan pada masa ekspansi, melainkan masa kemunduran dan perpecahan.
Banyak bangsawan dan pejabat tinggi meragukan kemampuannya, terutama karena trauma Perang Paregreg masih terasa.
Beberapa wilayah taklukan seperti di pesisir Sumatera dan Kalimantan sudah mulai mengatur urusan sendiri, sementara kekuatan baru seperti Kesultanan Demak mulai tumbuh di pesisir utara Jawa.
Tantangan Politik yang Rumit
Masalah utama yang dihadapi oleh Ratu Suhita adalah keterbelahan elit kerajaan. Faksi keturunan Bhre Wirabhumi masih memiliki pendukung setia, yang secara diam-diam menentang otoritasnya.
Para adipati dan penguasa daerah sering menunda setoran pajak atau mengabaikan perintah istana. Di laut, armada dagang Majapahit sering terganggu oleh bajak laut dan kontrol atas jalur perdagangan internasional mulai melemah.
Selain itu, persepsi terhadap kepemimpinan perempuan menjadi tantangan tersendiri. Walaupun ia memiliki legitimasi darah keturunan Hayam Wuruk, tetap ada kalangan yang memandang bahwa kekuasaan harus dipegang laki-laki, sehingga setiap kebijakannya diawasi dan sering kali diperdebatkan.
Strategi Diplomasi dan Rekonsiliasi
Menyadari bahwa kekerasan hanya akan memperdalam perpecahan, Suhita memilih jalur diplomasi dan rekonsiliasi.
Ia mengundang kembali bangsawan-bangsawan yang pernah berselisih ke istana, menawarkan jabatan penting untuk merangkul loyalitas mereka.
Ia juga memulihkan hubungan dagang dengan Tiongkok (Dinasti Ming) melalui pengiriman upeti dan utusan diplomatik, guna menjaga posisi Majapahit di mata dunia internasional.
Di dalam negeri, Suhita berupaya membangun citra sebagai pemimpin yang adil. Ia memerintahkan pembangunan dan perbaikan candi serta pura untuk menghormati dewa-dewa sekaligus mempererat hubungan antara penganut Hindu, Buddha, dan kepercayaan lokal, langkah ini penting untuk meredam potensi konflik.
Bayang-Bayang Perang yang Tak Pernah Hilang
Walau berbagai langkah rekonsiliasi ditempuh, Suhita tidak dapat sepenuhnya menghapus ketegangan politik. Sisa-sisa dendam dari Perang Paregreg masih membara, dan beberapa tokoh bangsawan diam-diam mempersiapkan pasukan pribadi.
Ada pula laporan tentang kerusuhan di wilayah-wilayah luar Jawa yang mulai melepaskan diri dari pengaruh Majapahit. Sejumlah sejarawan berpendapat bahwa masa pemerintahan Suhita diwarnai dengan perang dingin internal.
Pada masa itu, perebutan pengaruh tidak selalu terjadi di medan perang, tetapi melalui perebutan jabatan, pengaruh dagang, dan aliansi pernikahan antar bangsawan.
Warisan dan Akhir Pemerintahan
Ratu Suhita memerintah hingga wafat pada 1447 M. Ia digantikan oleh adiknya yaitu Bhre Tumapel (Kertawijaya) walaupun pemerintahannya tidak mengembalikan kejayaan Majapahit seperti era Hayam Wuruk.
Tetapi, Suhita dikenang sebagai sosok pemimpin yang tegar, cerdas, dan sabar. Ia berusaha menjaga agar Majapahit tidak runtuh lebih cepat, meski gelombang perubahan politik dan perdagangan dunia perlahan menggerus kekuasaan kerajaan. (AILEEN/FADYA)