Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Sejarah Pemberontakan Ra Kuti 1319, Krisis yang Mengantar Gajah Mada Menuju Karir Gemilang

Imron Arlado • Minggu, 17 Agustus 2025 | 00:02 WIB
Pada awal abad ke-14 Majapahit masih dalam fase konsolidasi atau fase penyatuan dan penggabungan setelah Raden Wijaya wafat. Sumber foto: Google
Pada awal abad ke-14 Majapahit masih dalam fase konsolidasi atau fase penyatuan dan penggabungan setelah Raden Wijaya wafat. Sumber foto: Google

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Pada awal abad ke-14 Majapahit masih dalam fase konsolidasi atau fase penyatuan dan penggabungan setelah Raden Wijaya wafat dan Jayanegara naik tahta menggantikan Raden Wijaya.

Situasi politik pada masa itu sangat rentan karena tak sedikit bangsawan terutama anggota Dharmaputra yang merasa ragu, tidak puas, dan mempertanyakan legitimasi Jayanegara sebagai raja yang dinilai labil dan lemah.

Dalam konteks inilah kemudian muncul pemberontakan besar yang dikenal sebagai pemberontakan Ra Kuti pada tahun 1319 masehi.

Peristiwa ini sering diperbincangkan sebagai momen krusial. Bukan hanya karena mengguncang ibu kota, tetapi juga dikenal sebagai awal karir Gajah Mada yang gemilang sebagai mahapatih kerajaan Majapahit.

Pemberontakan ini disebut dengan pemberontakan Ra Kuti karena yang memimpin atau mengorganisir pemberontakan ini adalah seseorang bernama Ra Kuti.

Ra Kuti sendiri adalah pejabat tinggi istana dan salah satu anggota Dharmaputra yang merupakan sebuah kelompok pejabat istimewa yang dibentuk oleh raja pendiri Majapahit, Raden Wijaya.

Dharmaputra beranggotakan tujuh bangsawan dengan kedudukan khusus dan dianggap istimewa yang disayangi raja.

Ketika ambisi pribadi Ra Kuti dan persaingan istana memuncak, hubungan antara raja, Dharmaputra, dan komponen militer-pengawal menjadi pemicu konflik yang rentan meletus menjadi pemberontakan.

Kemudian, Ra Kuti bersama dengan anggota Dharmaputra lainnya, yakni Ra Tanca, Ra Banyak, Ra Yuyu, Ra Pangsa, dan Ra Wedeng merencanakan pemberontakan kudeta dengan tujuan menggulingkan Jayanegara yang dianggap lemah dan merebut tahta Majapahit.

 

Baca Juga: Jadi Momentum Pembangunan Monumen Tugu Peluru di TMP Gajah Madam, Peringatam HUT Kemerdekaan RI Pertama di Mojokerto

 

Kronologi yang paling umum dikemukakan dalam beberapa sumber menyebutkan bahwa pasukan Dharmaputra yang menyerbu pusat kerajaan di Trowulan berhasil menguasai istana untuk sementara.

Dalam situasi genting tersebut pasukan Bhayangkara yang merupakan pasukan elite pengawal kerajaan melindungi raja Jayanegara dengan mengevakuasinya ke desa Badander yang dipercaya berada di wilayah Bojonegoro atau Jombang.

Disaat inilah peran Gajah Mada yang waktu itu belum menjabat sebagai mahapatih, melainkan sebagai seorang bekel atau panglima di pasukan bhayangkara menjadi sangat penting.

Dengan seluruh pengabdian, kesetiaan, dan keberaniannya Gajah Mada mengawal Jayanegara ke pengungsian dan kembali ke pusat untuk menyebarkan berita palsu kematian sang raja.

Penyebaran berita palsu tersebut merupakan strategi cerdik Gajah Mada untuk memastikan bahwa rakyat dan pejabat tidak mendukung pemberontakan Ra Kuti dan setia terhadap raja.

Tak berhenti di situ, Gajah Mada juga menyusun dan mengorganisasi strategi serangan balik hingga memanggil bantuan dari pasukan bali untuk merebut kembali ibu kota.

Pertempuran sengit antara pasukan Gajah Mada dan Ra Kuti akhirnya pecah di tumapel, berkat strategi cerdik dan jitu Gajah Mada serta keberanian pasukannya, kubu Ra Kuti berhasil dikalahkan dan Jayanegara kembali dipulihkan sebagai penguasa.

 

Baca Juga: Riwayat Upacara Peringatan HUT Kemerdekaan RI Perdana di Mojokerto, Ziarah dan Tabur Bunga di TMP Gajah Mada

 

Ra Kuti kemudian ditangkap dan pemberontakan berakhir. Kemenangan atas pemberontakan ini juga memberi modal politik dan reputasi yang sangat besar bagi Gajah Mada yang saat itu memimpin serangan.

Ia yang mulanya hanya seorang panglima Bhayangkara kemudian dipromosikan ke jabatan militer-sipil atau patih di wilayah yang strategis.

Kemudian, pada dekade berikutnya, yakni pada masa pemerintahan Ratu Tribhuwana Tunggadewi, Gajah Mada secara resmi diangkat menjadi seorang mahapatih dengan mengucapkan sumpah palapa sebagai bentuk ambisinya untuk memperluas pengaruh Majapahit di Nusantara.

FANEZA/FADYA

 

Editor : Martda Vadetya
#abad ke 14 #ra banyak #ra kuti #ra tanca #majapahit #ra wedeng #Pemberontakan Ra Kuti #dharmaputra #ra pangsa #gajah mada #perebutan tahta #kerajaan majapahit #Jayanegara #ra yuyu