JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Bhre Pamotan, pemuda yang dalam beberapa sumber sejarah disebut sebagai Rajasawardhana atau Dyah Wijayakumara merupakan tokoh singkat namun meninggalkan kesan dramatis pada rentang akhir kekuasaan Majapahit.
Bhre Pamotan dikenal dengan kisahnya yang legendaris yakni sebagai raja yang berkuasa singkat dan menghilang secara tiba-tiba setelah diduga melompat ke laut.
Kisah ini kemudian menggambarkan sisi lain dari kerajaan Majapahit yang jarang diketahui.
Bahwa Majapahit tidak hanya menyimpan kisah kejayaan dan kekuasaan, melainkan juga krisis legitimasi, konflik internal, serta tradisi kisah yang dipadukan antara fakta dan simbolisme.
Setelah terjadinya perang paregreg, politik Majapahit mengalami ketidakstabilan yang intens.
Sehingga saat pergantian pemimpin setelah wafatnya Bhre Tumapel atau Kertawijaya, yang menaiki tahta sebagai raja bukan keturunan langsung Kertawijaya.
Melainkan Sri Rajasawardhana yang merupakan menantu dari Kertawijaya yang juga menjabat sebagai Bhre Pamotan sebelum diangkat menjadi raja Majapahit.
Dalam naskah sejarah telah disebutkan bahwa masa kepemimpinan Bhre Pamotan termasuk dalam masa yang sangat singkat.
Pada sekitar tahun 1451 hingga 1453, yaitu segera setelah wafatnya Kertawijaya dan sebelum naiknya penguasa berikutnya pada pertengahan dekade 1450-an.
Keterangan mengenai identitas dan masa kepemimpinannya tertulis dalam catatan sejarah kronik dan analisis filologis atau ilmu pengetahuan yang mengkaji seputar sejarah seperti Noorduyn yang membahas Majapahit pada abad ke-15.
Baca Juga: Ekskavasi Situs Bhre Kahuripan Berlanjut, Pemkab Mojokerto Kucurkan Dana Rp 50 Juta untuk Lima Hari
Sementara itu, kronologi kejadian legendaris yang tragis tentang hilangnya bhre pamotan setelah melompat ke laut tercatat dalam kitab pararaton.
Dalam naskah sejarah tersebut diceritakan bahwa saat berkuasa bhre pamotan mengalami gangguan kesadaran atau kehilangan ingatan saat mendatangi sebuah acara.
Kemudian dalam keadaan berada di atas perahu di laut lepas, bhre pamotan kehilangan kendalinya dan melompat ke laut secara tiba tiba, lalu hilang.
Menurut naskah pararaton bhre pamotan dimakamkan dan dihormati atau diberi nama kehormatan setelah meninggal di Sepang. Bahkan, dalam naskah tersebut dijelaskan bahwa bhre pamotan memiliki keturunan yang ditinggalkan.
Namun, perlu diketahui dan diingat bahwa pararaton ditulis dalam gaya yang menggabungkan antara catatan dan legenda.
Menurut catatan kronik, Majapahit mengalami kekosongan kekuasaan sekitar 3 tahun lamanya setelah wafatnya bhre pamotan yang melompat ke laut.
Kekosongan ini memberi dampak yang cukup besar dan darurat karena tidak adanya pemimpin resmi yang memimpin kerajaan.
Baca Juga: Memahami Identitas Bangsa dari Nilai-Nilai Historis Kerajaan Majapahit
Hal ini akhirnya menimbulkan berbagai kericuhan seperti para masyarakat di wilayah bawahan Majapahit yang mulai bertindak sesuka hati, tak sedikit bangsawan yang saling berebut posisi.
Para bangsawan atau keluarga kerajaan pun turut andil dalam kericuhan ini dengan egonya yang merasa bahwa mereka berhak menjadi raja yang membuat keadaan semakin tidak terkendali.
Meski pada akhirnya ada seseorang yang berhasil mengisi kekosongan tersebut yaitu Bhre Wengker yang menjabat sebagai raja sekitar tahun 1456, masa depan Majapahit tetap sulit diperbaiki karena terlanjur hancur.
Hal ini membuktikan bahwa misteri hilangnya bhre pamotan memberi dampak berkepanjangan pada aspek politik dan sistem suksesi setelah peristiwa terjadi.
Peristiwa bhre pamotan ini juga sangat berguna untuk mengetahui sekaligus memahami betapa kompleks dan cairnya sistem politik Majapahit pada rentang akhir kekuasan serta kejayaannya. (FANEZA)
Editor : Martda Vadetya