Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Dikenal Sebagai Sengkuni Majapahit, Ini Dia Penjelasan Mengenai Dyah Halayudha yang Nyaris Meruntuhkan Majapahit

Imron Arlado • Kamis, 14 Agustus 2025 | 01:29 WIB
Di balik gemerlap kemenangan dan kejayaan kerajaan Majapahit, tersimpan kisah kelam tentang seorang tokoh licik yang bernama Dyah Halayudha. Sumber foto: Google
Di balik gemerlap kemenangan dan kejayaan kerajaan Majapahit, tersimpan kisah kelam tentang seorang tokoh licik yang bernama Dyah Halayudha. Sumber foto: Google

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Di balik gemerlap kemenangan dan kejayaan kerajaan Majapahit, tersimpan kisah kelam tentang seorang tokoh licik yang nyaris meruntuhkan kejayaan kerajaan Majapahit.

Dyah Halayudha, sosok yang sering disebut sebagai Mahapatih pada naskah sejarah Jawa yang menjabat pada tahun 1319 masehi setelah menggantikan Nambi.

Pada daftar pejabat, Nambi diposisikan sebagai patih awal pada sekitar tahun 1294-1316, disusul oleh Halayudha pada kurang lebih tahun 1316-1323, lalu Arya Tadah, dan kemudian disusul oleh Gajah Mada.

Garis waktu ini didukung oleh penyebutan Halayudha dalam prasasti sidateka sebagai “rake tuhan mapatih ring Majapahit Dyah Halayuda”.

Baca Juga: Inilah Peran Sungai Bengawan Solo bagi Masyarakat Zaman Kerajaan Majapahit

Ia muncul tepat di fase paling genting Majapahit awal, yakni saat transisi dari pemerintahan Kertarajasa (Raden Wijaya) ke pemerintahan Jayanegara.

Dyah Halayudha juga kerap kali dikenal sebagai mahapatih sang penghasut ulung karena ambisinya yang sangat besar dalam meraih kekuasaan.

Ia terkenal bukan karena kemenangan militer, melainkan kemampuan politiknya dalam membaca suasana, menggeser lawan lewat fitnah, dan memanfaatkan kerapuhan istana.

Hal ini akhirnya menjadi pemicu munculnya banyak penulis modern yang melabelinya sebagai sengkuni Majapahit atau penghasut yang membuat satu persatu tokoh pendiri seperti Ranggalawe, Lembu Sora, dan Nambi tersingkir.

Kisah ini tak hanya meninggalkan kesan kelam dan kejam, melainkan dapat memicu susunan elit Majapahit berikutnya dan membuka jalan bagi konsolidasi atau penyatuan yang kelak melahirkan kejayaan abad ke-14 Majapahit.

 

Baca Juga: Ekskavasi Situs Bhre Kahuripan Berlanjut, Pemkab Mojokerto Kucurkan Dana Rp 50 Juta untuk Lima Hari

 

Naskah sejarah tentang Dyah Halayuda biasanya banyak dibahas dalam kitab pararaton, kidung sorandaka, nagarakretagama, dan prasasti sidateka pada tahun 1323 masehi.

Di antara para bangsawan lainnya, ia dikenal sebagai bangsawan ataupun mahapatih yang memiliki ambisi sangat besar dan sifat yang licik.

Ambisinya yang besar membuatnya memiliki keberanian untuk melakukan segala cara untuk meraih kekuasaannya meski harus memfitnah, memecah belah, dan menyingkirkan tokoh penting lainnya. Itulah mengapa ia digambarkan sebagai mahapatih yang lihai memutar isu.

Contohnya seperti kejadian seusai duel mematikan di Tambak Beras yang melibatkan Ranggalawe dan Kebo Anabrang.

Halayudha dipercaya memanfaatkan kejadian tersebut sebagai alat adu domba antara Sora dan Nambi dengan memojokkan Sora di mata raja dan mendorong tuntutan hukum keluarga Kebo Anabrang yang telah dibunuh oleh Sora karena tersulut emosi.

Hal ini kemudian memantik bentrok antara Sora dan Nambi yang berujung dengan tewasnya Sora di halaman istana.

Setelah Sora berhasil ia singkirkan, Dyah Halayuda berganti menargetkan Nambi sebagai pihak yang membahayakan stabilitas dan membuat relasi serta reputasi Nambi memburuk.

Adu domba ini kemudian pecah menjadi pemberontakan pada sekitar tahun 1316 yang berujung pada eksekusi Nambi dan hancurnya persaudaraan.

 

Baca Juga: Memahami Identitas Bangsa dari Nilai-Nilai Historis Kerajaan Majapahit

 

Alur dan segala variasi adu domba Dyah Halayuda yang tercatat dalam naskah sejarah menjadi alasan kuat kenapa Halayudha dijuluki sebagai penghasut ulung pada analogi modern.

Namun, kejahatan tak selamanya menjadi pemenang, sebab pada tahun 1319 pemberontakan Ra Kuti mengguncang istana.

Saat itulah kebusukan mulai tercium dan akhirnya kebenaran terkuak. Kelicikan Dyah Halayuda terbongkar dan dijatuhi hukuman paling keji.

Hukuman tersebut adalah cineleng celeng yang artinya dicincang seperti babi hutan, hukuman paling kejam oleh raja Jayanegara pada sekitar tahun 1319 masehi. (FANEZA)

 

Editor : Martda Vadetya
#Sengkuni #tokoh licik #penghasut ulung #majapahit #dyah halayudha #sengkuni majapahit #halayudha #cineleng celeng #hukuman keji #kerajaan majapahit