JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Di tengah lanskap Mojokerto yang tenang, tersembunyi jejak-jejak peradaban besar yang pernah menguasai Nusantara, yaitu Kerajaan Majapahit.
Salah satu peninggalan yang tak banyak diketahui namun menyimpan makna mendalam adalah tujuh sumur kuno yang berada di kawasan Petilasan Ki Ageng Resi Saloko Gading, Desa Seduri, Mojosari.
Sumur-sumur ini bukan sekadar sumber air, melainkan simbol spiritual dan kebijaksanaan yang menopang kekuasaan Majapahit di abad ke-14. Dibangun dengan bata merah khas Majapahit dan dihiasi relief Surya Majapahit.
Situs ini menjadi saksi bisu peran para resi agung dalam menjaga keseimbangan antara kekuatan politik dan spiritual kerajaan.
Dari punden tua yang ditemukan secara ganjil hingga pengakuan resmi dari Dinas Purbakala, kisah tujuh sumur ini perlahan membuka tabir sejarah yang selama ini tersembunyi.
Menguak Tujuh Sumur Kuno di Mojokerto, Saksi Bisu Kejayaan Majapahit
Di tengah riuhnya Mojosari, Mojokerto, berdiri sebuah situs yang tak hanya menyimpan batu bata merah dan relief kuno, tetapi juga jejak spiritual dari masa keemasan Majapahit.
Petilasan Ki Ageng Resi Saloko Gading, yang terletak di Desa Seduri, menjadi pintu masuk menuju kisah para resi agung yang pernah menjadi penopang kebijaksanaan kerajaan terbesar di Nusantara.
Baca Juga: Rumah Masyarakat Zaman Majapahit Gunakan Material Tumbuhan, Kayu, Tanah, hingga Batu
Tujuh Sumur dan Makna Kesucian
Di tengah kompleks petilasan, berdiri tujuh sumur kuno yang diyakini sebagai tempat ritual para resi sebelum mencapai moksa.
Sumur-sumur ini bukan sekadar sumber air, melainkan simbol kesucian, penyembuhan, dan kebijaksanaan.
Nama “Seduri” sendiri dipercaya berasal dari kata “terakhir”, menandakan tempat berkumpulnya para resi agung sebelum meninggalkan dunia fana.
Tujuh Sumur: Simbol Kesucian dan Kebijaksanaan
Sumur-sumur ini bukan sekadar sumber air, melainkan simbol spiritual yang merepresentasikan kesucian, penyembuhan, dan kebijaksanaan.
Bangunan bata merah dan relief yang menghiasi situs memperkuat kesan bahwa tempat ini dulunya adalah pusat kontemplasi dan ritual spiritual.
Tujuh sumur kuno di Petilasan Ki Ageng Resi Saloko Gading bukan hanya peninggalan fisik, tetapi juga simbol kebijaksanaan yang melampaui zaman.
Di tengah arus modernisasi dan perubahan nilai, situs ini berdiri kokoh sebagai pengingat bahwa kejayaan Majapahit tidak hanya dibangun oleh kekuatan militer dan politik, tetapi juga oleh kedalaman spiritual dan kebijaksanaan para resi agung.
Baca Juga: Bervariasi dari Atap hingga Kaki, Begini Riwayat Arsitektur Bangunan Era Majapahit
Melalui jejak para penasihat kerajaan, kita belajar bahwa peradaban besar lahir dari harmoni antara kekuasaan dan kebatinan.
Semoga warisan ini terus hidup, menginspirasi generasi muda untuk mengenal, menjaga, dan menghormati akar budaya bangsa. (ANGELINA)
Editor : Martda Vadetya