JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Sebagai salah satu kerajaan terbesar dan megah dalam sejarah Nusantara, Majapahit tentu memiliki jajaran pemimpin yang cerdik dan taktis.
Hal ini dapat dibuktikan melalui berbagai strategi genius Majapahit di seluruh aspek kehidupan yang datang dari pemikiran cerdik para pemimpinnya dan akhirnya berhasil menjadikan Majapahit sebagai kerajaan berpengaruh di Nusantara pada masanya.
Berkat kejayaannya, Majapahit menjadi salah satu pusat politik, kebudayaan, dan jaringan maritim di Nusantara pada sekitar abad ke-14.
Kejayaan Majapahit yang kerap kali dikaitkan dengan masa pemerintahan Hayam Wuruk sebenarnya telah berdiri di atas fondasi politik dan militer yang cukup stabil yang dibangun oleh pemerintah pada periode-periode sebelumnya.
Tepatnya pada era kepemimpinan ratu Tribhuwana Tunggadewi (ratu ketiga kerajaan Majapahit) dan mahapatih Gajah Mada.
Para rakyat Majapahit juga menganggap bahwa kolaborasi kepemimpinan mereka adalah kolaborasi yang sangat luar biasa dan efektif.
Kolaborasi antara ratu dan mahapatih inilah yang akhirnya menciptakan stabilitas internal kerajaan dan ekspansi jaringan vassal yang kemudian dicatat dalam naskah sejarah seperti kakawin nagarakretagama.
Tribhuwana Tunggadewi yang dikenal dengan nama Dyah Gitarja sebelum naik tahta menjadi ratu adalah putri sulung dari Raden Wijaya dan Gayatri Rajapatni yang tumbuh dalam lingkungan istana yang kuat secara agama dan politiknya.
Sebagai ratu yang memerintah sendiri (queen regnant), Tribhuwana memegang penuh fungsi legitimasi.
Ia menegaskan hak dinasti Rajasa, mengeluarkan mandat, dan menjadi pusat upacara religius maupun ritual penting untuk mempersatukan elite lokal yang mendatangi upacara.
Tak hanya itu, Tribhuwana juga memiliki tanggung jawab besar dalam pengalokasian sumber daya seperti kapal, logistik, dan upeti serta pengangkatan jabatan para pejabat tinggi.
Bukti bahwa masa kepemimpinannya bukan sekedar simbolik atau formalitas diperkuat saat beberapa sumber tradisional menyebutkan bahwa Tribhuwana aktif dalam urusan militer pada fase awal kekuasaannya.
Sementara itu, sebelum diangkat menjadi seorang mahapatih pada sekitar tahun 1364 masehi Gajah Mada adalah seorang pengawal atau perwira istana.
Setelah kenaikan tahtanya menjadi seorang mahapatih ia memiliki tanggung jawab besar menjalankan fungsi-fungsi administratif dan menjadi komando militer Majapahit.
Gajah Mada juga merupakan pengucap janji terkenal yang disebut dengan sumpah palapa.
Dalam sumpah tersebut, Gajah Mada berjanji bahwa ia tidak akan menikmati kesenangan sebelum berhasil menyatukan Nusantara di bawah Majapahit.
Ikrar tersebut seakan mencerminkan ambisi kuat Gajah Mada dalam memajukan kerajaan Majapahit dan sebagai pencetus strategi militer serta diplomatik kerajaan Majapahit yang genius.
Pada masa awal kepemimpinan Tribhuwana bersama Gajah Mada, mereka telah menghadapi ancaman terbesar yakni disintegrasi atau perpecahan internal kerajaan.
Pemberontakan yang sering dicatat dalam naskah sejarah adalah pemberontakan daerah pesisir seperti Sadeng dan Keta pada sekitar tahun 1331.
Sebagai seorang mahapatih, Gajah Mada diberi tanggung jawab untuk menangani pemberontakan semacam itu.
Dalam catatan sejarah tradisional pun menyatakan bahwa Gajah Mada selalu berhasil meredam pemberontakan yang kemudian memperkuat kekuasaan pusat.
Di saat itulah terlihat pola kerja sama antara Tribhuwana dengan Gajah Mada yang nyata, di mana Tribhuwana menurunkan perintah dan dilaksanakan dengan baik oleh Gajah Mada.
Setelah menyeimbangkan dan menstabilkan pusat, Tribhuwana Tunggadewi dan Gajah Mada mulai bergerak pada fase perluasan jaringan pengaruh maritim.
Gajah Mada bertugas untuk memimpin dan mengkoordinasikan ekspedisi-ekspedisi yang dikirim ke wilayah-wilayah yang akan ditaklukkan.
Sementara sang ratu, Tribhuwana Tunggadewi, mendukung strategi tersebut dengan memberi dukungan sumber daya dan memfasilitasi keberangkatan armada-armada yang diberangkatkan serta pengangkatan kepala daerah baru yang menjadi vassal atau sekutu.
Selain penaklukan secara langsung, pola penguasaan Majapahit sering bersifat mandala atau menerima pengakuan upeti, menetapkan penguasa lokal yang loyal, dan mengikat melalui pernikahan.
Kolaborasi Tribhuwana Tunggadewi dan Gajah Mada seperti gabungan kekuatan tahta dan strategi yang taktis.
Tribhuwana yang memberi dukungan penuh dengan menjadi penopang politik, memberi pengakuan resmi, dan sumber daya.
Sedangkan Gajah Mada yang menjalankannya di lapangan dan menjaga kerajaan agar tetap aman sembari memperluas wilayah dan pengaruh Majapahit hingga ke luar Jawa. (FANEZA)
Editor : Martda Vadetya