JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Kerajaan Majapahit dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara. Berdiri pada abad ke-13 dan mencapai puncak kejayaan pada abad ke-14 di bawah pemerintahan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Majapahit menjadi simbol persatuan Nusantara pra kolonial.
Namun, kejayaan tersebut tidak dapat bertahan lama. Pada akhir abad ke-15, Majapahit mengalami kemunduran, dan seiring berjalannya waktu, tongkat estafet kekuasaan di Jawa berpindah ke tangan Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di tanah Jawa.
Peralihan kekuasaan ini bukan sekedar pergantian dinasti, melainkan mencerminkan transformasi besar dalam sistem politik, budaya, dan agama masyarakat Jawa.
Majapahit mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350–1389). Di bawah kepemimpinan Gajah Mada sebagai mahapatih, Majapahit dikenal dengan ambisinya untuk menyatukan seluruh Nusantara melalui Sumpah Palapa.
Namun, setelah wafatnya Gajah Mada dan Hayam Wuruk, Majapahit mulai mengalami kemunduran. Penyebab utama keruntuhan Majapahit adalah konflik internal, terutama Perang Paregreg (1405-1406), yang merupakan perang saudara antara Bhre Wirabhumi dan Wikramawardhana.
Konflik ini menjadi penyebab lemahnya stabilitas politik Majapahit dan membuka celah bagi munculnya kekuatan-kekuatan baru di pesisir utara Jawa, terutama yang berbasis Islam dan terlibat aktif dalam jaringan perdagangan internasional.
Kesultanan Demak didirikan oleh Raden Patah pada awal abad ke-16. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Raden Patah merupakan keturunan Majapahit, yakni putra dari raja terakhir Majapahit yang lahir dari seorang putri Cina.
Hal ini memperlihatkan bahwa Demak tidak muncul dalam kekosongan, tetapi memiliki koneksi historis dengan Majapahit. Demak berkembang sebagai pusat kekuatan baru karena letaknya yang strategis di pesisir utara Jawa, pusat perdagangan yang ramai pada masa itu.
Selain itu, dukungan para Wali Songo sebagai penyebar agama Islam turut memperkuat legitimasi politik dan keagamaan Demak di tengah masyarakat Jawa yang sedang mengalami perubahan kepercayaan.
Peralihan kekuasaan dari Majapahit ke Demak berlangsung secara bertahap, bukan dalam bentuk penaklukan langsung. Ketika Majapahit melemah, Demak perlahan mengisi kekosongan kekuasaan di Jawa.
Simbolisnya, jatuhnya ibu kota Majapahit ke tangan Demak pada sekitar tahun 1527 menandai berakhirnya era Hindu-Buddha dan dimulainya era Islam di Jawa.Uniknya, transisi ini tidak serta-merta menghapus budaya lama.
Bahkan, menyebabkan terjadinya proses akulturasi antara budaya Hindu-Budha dan Islam yang melahirkan bentuk-bentuk budaya baru yang khas Jawa, seperti arsitektur masjid berbentuk joglo dan seni pertunjukan wayang yang berisi nilai-nilai Islam namun tetap menggunakan cerita Mahabharata dan Ramayana.
Dampak Transisi terhadap Peradaban Jawa
Transisi kekuasaan dari Majapahit ke Demak membawa dampak besar terhadap kehidupan masyarakat Jawa, di antaranya:
- Islamisasi Jawa: Demak memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Jawa dan menjadi pusat dakwah serta pendidikan Islam.
- Perubahan sistem politik: Struktur kekuasaan berubah dari kerajaan Hindu-Budha menjadi kesultanan Islam, dengan konsep pemimpin sebagai “sultan” yang sekaligus berperan sebagai pemimpin agama.
- Perkembangan budaya sinkretik: Masyarakat Jawa mengembangkan budaya baru yang merupakan hasil perpaduan unsur lokal, Hindu-Buddha, dan Islam, yang masih dapat dilihat hingga kini.
- Kemunculan kerajaan-kerajaan Islam lain: Setelah Demak, muncul kekuatan baru seperti Kesultanan Pajang dan Mataram Islam yang mewarisi semangat Islamisasi dan politik lokal Jawa.
Peralihan kekuasaan dari Majapahit ke Demak merupakan peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Tidak hanya menandai akhir dari era kerajaan Hindu-Buddha, tetapi juga menjadi awal dari Islam sebagai kekuatan politik dan budaya utama di Jawa.
Transisi ini membentuk fondasi bagi lahirnya peradaban Jawa Islam yang khas dan menjadi bagian dari identitas Indonesia modern.
Dengan memahami masa transisi ini, kita bisa melihat bahwa sejarah Indonesia bukanlah tentang pemutusan, tetapi kesinambungan dan perpaduan budaya yang terus berkembang.
NIYA
Editor : Imron Arlado