JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di balik kejayaan Kerajaan Majapahit yang menguasai Nusantara, ada kekuatan lain yang jarang dibahas. Yakni kolaborasi antara para resi dan raja.
Para resi bukan sekadar tokoh spiritual. Tetapi juga penasihat agung yang membantu kerajaan dalam hal strategi perang, hukum, dan kebijakan pemerintahan. Mereka dipercaya memiliki kemampuan gaib dan kebijaksanaan tinggi.
Yang menjadikan penopang kekuatan Majapahit, terutama di masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Majapahit tidak hanya berdiri di atas kekuatan militer dan politik, tetapi juga pada fondasi spiritual yang kokoh.
Para resi seperti Ki Ageng Saloko Gading dan Ki Ageng Gagak Serut berperan penting dalam membentuk arah kerajaan, serta bagaimana kolaborasi mereka dengan raja menciptakan harmoni antara dunia lahir dan batin.
Peran Resi dalam Struktur Kekuasaan Majapahit
Dalam struktur kekuasaan Majapahit, para resi menempati posisi yang unik. Mereka bukan bagian dari birokrasi formal, tetapi pengaruhnya sangat besar. Resi sering kali menjadi guru spiritual, penasihat pribadi raja, dan penjaga nilai-nilai dharma.
Mereka dipercaya mampu melihat jauh ke depan, memberikan petunjuk melalui meditasi dan tapa, serta menjaga keseimbangan antara kekuasaan duniawi dan spiritual.
Contoh nyata adalah peran Empu Bharada dan Empu Tantular, yang dikenal sebagai tokoh spiritual dan intelektual. Empu Tantular bahkan menulis karya monumental Sutasoma, yang memuat ajaran toleransi dan persatuan dalam semboyan “Bhinneka Tunggal Ika.”
Baca Juga: Ketika Jalur Perdagangan Maritim Dikuasai Majapahit, Inilah Armada Laut Terkenal dari Nusantara
Raja sebagai Pemimpin Duniawi dan Spiritual
Raja Majapahit tidak hanya memerintah secara politik, tetapi juga menjalankan peran sebagai pemimpin spiritual. Hayam Wuruk, misalnya, dikenal sebagai raja yang taat pada ajaran Hindu-Buddha dan sering berkonsultasi dengan para resi sebelum mengambil keputusan penting.
Ia memahami bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan spiritual akan rapuh. Kolaborasi ini menciptakan sistem pemerintahan yang tidak hanya kuat secara militer, tetapi juga stabil secara sosial dan budaya. Rakyat merasa terlindungi, karena pemimpin mereka dianggap memiliki restu dan bimbingan dari kekuatan ilahi.
Harmoni antara Dharma dan Artha
Majapahit adalah contoh bagaimana dharma (kebenaran dan kewajiban moral) dan artha (kemakmuran duniawi) bisa berjalan beriringan.
Para resi menjaga agar raja tidak tergelincir dalam keserakahan, sementara raja memastikan ajaran para resi bisa diterapkan dalam kehidupan nyata. Inilah yang membuat Majapahit bertahan lama dan dikenang sebagai kerajaan besar.
Kolaborasi antara resi dan raja bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi warisan nilai yang relevan hingga kini.
Baca Juga: Ketika Jalur Perdagangan Maritim Dikuasai Majapahit, Inilah Armada Laut Terkenal dari Nusantara
Di tengah dunia modern yang sering terjebak dalam materialisme, kisah Majapahit mengingatkan kita bahwa kepemimpinan sejati lahir dari keseimbangan antara kekuatan dan kebijaksanaan, antara dunia lahir dan batin.
Majapahit bukan hanya kerajaan besar karena wilayahnya yang luas, tetapi karena fondasi spiritual yang kuat. Para resi dan raja membuktikan bahwa kejayaan sejati tidak hanya ditentukan oleh pedang dan istana, tetapi juga oleh doa, tapa, dan kebijaksanaan.
ANGELINA
Editor : Imron Arlado