JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Kerajaan Majapahit dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara.
Namun, di balik kejayaannya, tersimpan kisah menarik tentang dinamika politik yang menyebabkan kerajaan ini tiga kali mengganti ibu kota.
Pergantian pusat pemerintahan bukan sekadar keputusan administratif, melainkan cerminan dari konflik internal, perebutan kekuasaan, dan strategi bertahan di tengah gejolak zaman.
Artikel ini akan mengulas bagaimana dan mengapa Majapahit berpindah ibu kota, serta dampaknya terhadap stabilitas kerajaan dan warisan sejarahnya.
Dari Trowulan yang megah hingga lokasi-lokasi alternatif yang jarang disebut dalam buku pelajaran, kita akan menelusuri jejak-jejak perubahan yang membentuk wajah Majapahit selama berabad-abad.
Trowulan: Awal Kejayaan
Ibu kota pertama Majapahit berada di Trowulan, sebuah kota yang kini terletak di Mojokerto, Jawa Timur. Di sinilah Raden Wijaya mendirikan pusat pemerintahan setelah mengalahkan pasukan Mongol.
Trowulan berkembang menjadi kota yang megah, dengan sistem tata kota yang maju, saluran air, dan bangunan bata merah yang kini menjadi situs arkeologi penting.
Di masa pemerintahan Hayam Wuruk dan Gajah Mada, Trowulan menjadi simbol kekuatan dan kemakmuran Majapahit.
Daha: Strategi di Tengah Konflik
Setelah wafatnya Hayam Wuruk, Majapahit mulai mengalami konflik internal. Perang Paregreg antara Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi mengguncang stabilitas kerajaan. Dalam situasi genting ini, pusat pemerintahan dipindahkan ke Daha (Kediri).
Langkah ini bukan hanya taktis, tetapi juga politis, untuk menghindari konflik dan menjaga kendali atas wilayah timur yang strategis.
Wilayah Timur: Benteng Terakhir
Menjelang keruntuhannya, Majapahit menghadapi tekanan dari kerajaan-kerajaan Islam yang mulai tumbuh di pesisir utara Jawa.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa sisa-sisa kekuasaan Majapahit bertahan di wilayah timur seperti Blambangan (Banyuwangi), bahkan Bali.
Pemindahan ini menandai akhir dari era Majapahit dan transisi menuju zaman baru dalam sejarah Indonesia.
Baca Juga: Riwayat Perang Paregreg: Awal Perpecahan Dinasti dalam Sejarah Majapahit
Refleksi Sejarah
Perpindahan ibu kota Majapahit bukan sekadar perubahan lokasi, tetapi cerminan dari dinamika politik, konflik kekuasaan, dan strategi bertahan.
Dari Trowulan yang megah hingga wilayah timur yang menjadi benteng terakhir, Majapahit menunjukkan bahwa bahkan kerajaan terbesar pun harus beradaptasi dengan perubahan zaman.
Majapahit berpindah ibu kota sebanyak tiga kali sebagai respons terhadap konflik internal, ancaman eksternal, dan strategi bertahan.
Pergeseran dari Trowulan ke Daha, lalu ke wilayah timur, mencerminkan dinamika politik yang kompleks dan menjadi penanda transisi besar dalam sejarah Nusantara. (ANGELINA)
Editor : Martda Vadetya