Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Selain Simpan Kisah Asmara Raja Hayam Wuruk, Kolam Segaran jadi Saksi Bisu Peristiwa Besar yang Guncang Majapahit di Masa Lampau

Imron Arlado • Kamis, 7 Agustus 2025 | 15:30 WIB

 

Seperti yang sudah diketahui, kerajaan Majapahit adalah sebuah kerajaan terbesar di Jawa dengan kekuasaan wilayahnya yang meluas. Sumber foto: Google
Seperti yang sudah diketahui, kerajaan Majapahit adalah sebuah kerajaan terbesar di Jawa dengan kekuasaan wilayahnya yang meluas. Sumber foto: Google

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Seperti yang sudah diketahui, kerajaan Majapahit adalah sebuah kerajaan terbesar di Jawa dengan kekuasaan wilayahnya yang meluas hingga ke mancanegara.

Majapahit mencapai puncak kejayaannya di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada pada tahun 1350 hingga 1389 masehi.

Namun, setelah wafatnya Hayam Wuruk, kerajaan Majapahit mengalami perpecahan dan keruntuhan yang diawali dengan peristiwa besar dan tragis yang disebut dengan perang paregreg.

Di balik naskah sejarah yang berfokus pada kisah kejayaan dan keruntuhannya, terdapat berbagai kisah dari sisi lain yang jarang dibahas.

Salah satunya adalah kisah asmara Hayam Wuruk dengan Dyah Pitaloka Citraresmi yang tragis dan menyayat hati.

Kisah percintaan antara raja Majapahit dan putri dari kerajaan Sunda ini seringkali dikaitkan dengan peninggalan arkeologis besar yang umumnya dikenal sebagai Kolam Segaran.

Kolam segaran sendiri terletak di sebuah tempat yang kala itu digunakan sebagai pusat peradaban atau ibu kota kerajaan Majapahit, yakni di Trowulan, sebuah wilayah yang berada di provinsi Jawa Timur.

Kolam ini memiliki ukuran yang cukup besar yaitu panjangnya sekitar 375 meter dan lebarnya 175 meter.

Dengan ukurannya yang besar, kolam segaran menjadi salah satu peninggalan kolam buatan terbesar di masa klasik Indonesia.

 

Baca Juga: Luka Sejarah, Kisah Asmara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka yang Berakhir Tragis

 

Kedalamannya diperkirakan mencapai kurang lebih 2 meter dan dinding kolamnya yang kokoh terbuat dari bata merah yang tersusun rapi, menunjukkan kreativitas tinggi masyarakat Majapahit.

Dengan kedalaman dan ukuran yang besar sekaligus bahan dasar yang kokoh, menunjukkan bahwa kolam ini tidak dibangun secara sembarangan, melainkan sebagai bagian penting dari kerajaan Majapahit.

Dalam kisah-kisah rakyat Jawa dan di beberapa generasi lokal, kolam segaran kerap kali dikaitkan secara emosional dengan rencana penyambutan megah calon permaisuri Hayam Wuruk, yakni Dyah Pitaloka.

Namun, terjadinya perang bubat saat rombongan Dyah Pitaloka menuju Majapahit yang menewaskan Dyah Pitaloka dalam medan perang, perjamuan tersebut tidak pernah terjadi.

Kemudian, kolam segaran yang mulanya akan dijadikan sebagai tempat penyambutan megah pun berubah fungsi sebagai simbol penghormatan dan kenangan atas wafatnya sang pujaan hati.

Kolam ini juga digunakan sebagai tempat perenungan Hayam Wuruk pada malam bulan bersinar untuk mengenang kisah cintanya yang tak pernah terwujud.

Setelah tragedi tragis itu terjadi, Hayam Wuruk digambarkan sebagai seorang yang murung, sangat terpukul, dan kecewa atas keputusan politik Gajah Mada yang menjadi dasar terjadinya perang bubat.

Akan tetapi, fungsi utama kolam segaran ini masih kerap kali diperdebatkan. Beberapa arkeolog dan sejarawan mempercayai bahwa kolam ini kemungkinan besar digunakan sebagai tempat perjamuan elit istana.

Selain itu, kolam ini juga kemungkinan digunakan sebagai tempat latihan untuk para prajurit air atau pasukan laut Majapahit.

 

Baca Juga: Patih Arya Tadah, Seorang Pendahulu Gajah Mada yang Tak Banyak Dikenal

 

Dalam kisah-kisah rakyat yang diceritakan dan dipercaya secara turun temurun, keberadaan kolam segaran ini juga digunakan sebagai tempat pencucian atau pembuangan piring-piring emas yang selesai dipakai untuk menjamu tamu kehormatan.

Hal itu dilakukan karena dapat memberikan kesan bahwa Majapahit adalah kerajaan jaya dan kaya yang memiliki ribuan alat mewah sehingga setelah satu kali pakai, alat yang telah digunakan langsung dibuang dan tidak perlu digunakan lagi.

Jadi, kolam segaran bukan sekedar kolam biasa yang hanya digunakan sebagai tempat bersantai. Tetapi sebagai saksi bisu dari berbagai peristiwa besar yang pernah mengguncang Majapahit di masa lampau. (FANEZA)

 

 

Editor : Martda Vadetya
#kisah percintaan #hayam wuruk #kisah asmara artis #kolam buatan terbesar #majapahit #fungsi utama #trowulan #fungsi #gajah mada #dyah pitaloka #kerajaan majapahit #Tragedi Tragis #kolam segaran