Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Riwayat Perang Paregreg: Awal Perpecahan Dinasti dalam Sejarah Majapahit

Imron Arlado • Kamis, 7 Agustus 2025 | 15:00 WIB
Majapahit adalah kerajaan terbesar di Nusantara yang mencapai kejayaannya di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Sumber foto: Google
Majapahit adalah kerajaan terbesar di Nusantara yang mencapai kejayaannya di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Sumber foto: Google

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Majapahit adalah kerajaan terbesar di Nusantara yang didirikan oleh Raden Wijaya dan mencapai kejayaannya di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Gajah Mada.

Namun, di balik kisah kejayaan Majapahit tersimpan beberapa kisah kelam yang dibiarkan terpendam yang seakan-akan disembunyikan.

Salah satu konflik internal antar bangsawan yang berakhir tragis dan tidak banyak dibahas adalah kisah Bhre Wirabhumi dengan Wikramawardhana.

Bhre Wirabhumi adalah anak laki laki Hayam Wuruk dari seorang selir yang namanya tidak dicantumkan dalam naskah sejarah. Meskipun ia adalah anak dari seorang selir, darahnya tetap darah raja.

Bhre Wirabhumi juga diberi kekuasaan dan kepercayaan untuk memerintah di wilayah timur Majapahit, yakni blambangan.

Karena itu ia diberi jabatan Bhre Wirabhumi yang berarti penguasa wilayah timur.

Ambisi Bhre Wirabhumi untuk menjadi raja dan memerintah suatu wilayah sangat penuh dipengaruhi oleh posisinya sebagai putra sah atau biologis Hayam Wuruk.

Sementara itu, Wikramawardhana adalah seorang lelaki yang berasal dari kalangan bangsawan tinggi.

Wikramawardhana kemudian menikah dengan Kusumawardhani yang merupakan putri sah Hayam Wuruk dari permaisuri.

Pernikahannya dengan Kusumawardhani bukan sekedar hubungan personal, melainkan bagian dari strategi politik yang kemudian menjadikannya penerus sah tahta Majapahit.

 

Baca Juga: Luka Sejarah, Kisah Asmara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka yang Berakhir Tragis

 

Ambisinya untuk menjadi seorang raja Majapahit juga semakin bertambah saat ia memiliki dukungan positif dan kuat dari istana pusat, keluarga permaisuri, dan elit Majapahit lainnya.

Setelah wafatnya Hayam Wuruk pada tahun 1389, muncul dua klaim kekuasaan sah yang menyebutkan bahwa Wikramawardhana mendapat warisan kekuasaan karena statusnya sebagai menantu dan suami putri mahkota.

Di sisi lain, Bhre Wirabhumi juga mendapatkan warisan kekuasaan karena posisinya sebagai anak kandung raja meskipun bukan dari permaisuri.

Akan tetapi, pembagian klaim kekuasaan seperti itu justru menyebabkan pembagian kekuasaan yang tidak resmi.

Karena setelah wafatnya Hayam Wuruk, tidak ada satupun tokoh yang langsung ditunjuk dan diakui sebagai penerus raja secara mutlak.

Hal ini akhirnya membuat kedua belah pihak, yakni Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi, mengklaim hak mereka atas posisi kedudukan masing-masing sebagai menantu dan anak kandung raja.

Tanpa disadari, hal ini justru mengakibatkan terbelahnya kekuasaan kerajaan. Wikramawardhana yang berkuasa di pusat kerajaan, dan Bhre Wirabhumi yang berkuasa secara mandiri di Blambangan.

Dualisme ini memperlihatkan bahwa Majapahit tidak memiliki sistem suksesi atau pewarisan tahta yang baku dan kuat.

Tidak adanya peraturan tertulis mengenai siapa saja yang berhak atas tahta menyebabkan adanya perebutan tahta setiap kali raja wafat.

Perasaan merasa lebih pantas untuk mendapatkan tahta utama pasti tumbuh dalam jiwa salah satu pewaris, contohnya seperti Bhre Wirabhumi yang merasa tidak puas atas kekuasaannya dan merasa lebih berhak untuk mendapatkan tahta utama.

Konflik internal yang telah lama dipendam perlahan-lahan mulai memanas, perang besar pun tak terelakkan.

Perang ini dikenal dengan sebutan perang paregreg, yang berlangsung sejak tahun 1404 hingga tahun 1406 masehi.

 

Baca Juga: Patih Arya Tadah, Seorang Pendahulu Gajah Mada yang Tak Banyak Dikenal

 

Dalam bahasa Jawa, paregreg memiliki arti perang saudara, yang menandakan bahwa perang ini terjadi karena konflik dalam satu keluarga kerajaan.

Perang ini melibatkan kekuatan militer yang berskala besar dari kedua kubu yang terlibat, sehingga pertempuran pun berlangsung sengit.

Dengan pasukan Wikramawardhana yang lebih kuat, akhirnya pasukan Bhre Wirabhumi mengalami kekalahan telak dan Bhre Wirabhumi pun tertangkap.

Tak hanya sekedar ditangkap dan ditahan, dalam beberapa naskah sejarah menyebutkan bahwa setelah ditangkap Bhre Wirabhumi dihukum mati.

Perang paregreg sudah dipastikan membawa dampak yang sangat besar terhadap Majapahit.

Perang ini juga menciptakan perpecahan antar bangsawan dan menurunnya rasa percaya kepada politik yang mendalam.

Stabilitas kerajaan dari berbagai aspek pun terganggu akibat perang besar ini. Terutama stabilitas pemerintahan yang mana wilayah-wilayah tak lagi sepenuhnya patuh dan taat kepada pusat.

Rasa solidaritas, kebersamaan, dan keakraban di lingkungan elite kerajaan pun melemah. Memperbesar kemungkinan adanya pemberontakan di masa depan.

Tak berhenti di situ, perang ini juga memberi pengaruh pada kekuatan militer dan keamanan. Sumber daya militer terkuras habis untuk perang internal, bukan untuk melindungi perbatasan.

 

Baca Juga: Hubungan Perdagangan Majapahit dengan Dunia Islam dan India Selatan

 

Hal ini kemudian menyebabkan daerah-daerah Maluku, Kalimantan, dan wilayah luar Jawa lainnya melepaskan diri secara bertahap.

Konflik antar saudara ini membuktikan bahwa keruntuhan sebuah kerajaan dapat dimulai dari perpecahan internal keluarga.

Meskipun Majapahit tetap bisa berdiri setelah memenangkan perang. Namun, kekuasaannya tidak pernah pulih sepenuhnya.

Kisah ini juga menjadi pembelajaran berharga mengenai mengelola strategi persatuan dan pengelolaan secara bijak dalam suatu pemerintahan. (FANEZA)

Editor : Martda Vadetya
#Bhre Wirabhumi #Raden Wijaya #hayam wuruk #majapahit #perang paregreg #perang saudara #konflik internal #gajah mada #perebutan kekuasaan #kerajaan majapahit #Wikramawardhana