Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Kitab Pararaton: Antara Sejarah dan Legenda Para Leluhur Nusantara

Imron Arlado • Kamis, 7 Agustus 2025 | 13:30 WIB
Photo
Photo

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Di tengah naskah kuno Nusantara, Pararaton yang berarti “Kitab Raja-Raja” menempati posisi yang unik.

Pararaton bukan hanya sekedar catatan sejarah, tetapi juga Gudang cerita, legenda, intrik politik, dan mitos yang membentuk citra para raja besar Jawa.

Di dalamnya, sejarah dan legenda berjalan berdampingan, menjadikan Pararaton sebagai sumber penting sekaligus menantang untuk ditafsirkan.

Pararaton ditulis dalam bahasa Jawa kuno dan diperkirakan disusun sekitar abad ke-15 M, setelah kejayaan Majapahit.

Meski waktu penulisannya jauh setelah peristiwa-peristiwa yang dikisahkan, kitab ini menjadi sumber utama dalam memahami tokoh-tokoh besar seperti Ken Arok, Ranggalawe, hingga raja-raja awal Majapahit.

 

 

Secara garis besar, Pararaton terbagi dalam dua bagian utama:

  1. Bagian awal memuat kisah Ken Arok, pendiri Dinasti Rajasa, yang memerintah Singasari. Kisah ini penuh dengan unsur mitos. Kelahiran ajaib, ramalan, pembunuhan, dan perebutan kekuasaan yang dramatis.
  2. Bagian kedua lebih bersifat kronikal, mencatat silsilah raja-raja dari Singasari hingga Majapahit, namun dengan detail yang sering kali singkat dan kurang konsisten.

Salah satu bagian paling terkenal dari Pararaton adalah kisah Ken Arok, seorang anak yatim piatu dari kalangan rendah yang kemudian merebut kekuasaan dan menjadi raja.

Ia membunuh Tunggul Ametung dengan keris buatan Empu Gandring, yang kelak dianggap sebagai keris terkutuk.

Ken Arok lalu menikahi istri Tunggul Ametung, Ken Dedes, dan mendirikan Dinasti Rajasa.

Sebagai sumber sejarah, Pararaton sering dikritik karena tidak akurat secara kronologis.

Ia tidak menyebut tahun-tahun secara sistematis, dan sebagian besar catatannya bersifat naratif bukan deskriptif.

Namun justru di sinilah keistimewaannya, Pararaton mencerminkan cara orang Jawa masa lampau memahami dan merekam sejarah melalui cerita, simbol, dan nilai moral.

 

 

Jika dibandingkan dengan Negarakertagama, yang lebih sistematis dan mencatat data geografis dan pemerintahan, Pararaton lebih menonjolkan sisi manusiawi dan mistis para tokoh.

Ia memberi warna pada bagaimana kekuasaan dipahami bukan hanya sebagai fakta, tetapi juga sebagai bagian dari tatanan kosmis.

Sebagai dokumen budaya, Pararaton mengandung nilai-nilai penting. Konsep karma, legitimasi kekuasaan, kesetiaan, dan pengkhianatan.

Nilai-nilai ini tidak hanya menggambarkan masa lalu, tetapi juga mencerminkan pandangan dunia masyarakat Jawa klasik.

Namun, pentong untuk membawa Pararaton secara kritis. Sebagai perpaduan antara sejarah dan legenda, Pararaton bukan “buku sejarah” dalam pengertian modern, tetapi narasi historis kultural yang menyimpan banyak makna dibalik ceritanya.

Para sejarawan sering menggunakan Pararaton sebagai pelengkap sumber-sumber lain, seperti prasasti dan kitab Negarakertagama, untuk membangun Gambaran yang lebih utuh tentang masa itu.

 

 

Pararaton adalah cermin masa lalu yang buram namun berharga. Ia menyatukan sejarah dan legenda, membentuk narasi leluhur Nusantara yang hidup dalam ingatan kolektif.

Meski kabur batas antara fakta dan fiksi, nilainya sebagai warisan budaya tetap tak ternilai.

Dalam dunia di mana sejarah sering kali dibekukan dalam angka dan kronologi, Pararaton mengajak kita untuk membaca masa lalu dengan mata yang lebih peka terhadap makna, simbol, dan cerita.

Ia bukan hanya catatan para raja, tetapi juga kisah tentang manusia, kekuasaan, dan harapan. (NIYA)

 

 

 

Editor : Martda Vadetya
#sejarah #jawa kuno #kitab pararaton #majapahit #legenda #kitab raja #Ken Arok #ranggalawe #Abad ke 15