JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Kitab Sutasoma adalah salah sau karya sastra agung dari masa Kerajaan Majapahit yang ditulis oleh Mpu Tantular pada abad ke-14.
Kitab ini bukan hanya memiliki nilai sastra tinggi, tetapi juga menjadi simbol penting dalam membangun dan memperkuat harmoni antaragama pada masa itu.
Dengan latar belakang kerajaan yang multikultural dan multiagama, Sutasoma menyampaikan pesan toleransi, kasih sayang, dan kedamaian yang bersumber dari ajaran Budha.
- Ajaran Utama Budha dalam Kitab Sutasoma
Kitab Sutasoma menekankan nila-nilai luhur yang sangan sejlan dengan ajaran Budha, antara lain:
- Ahimsa (tidak menyakiti makhluk hidup): Dalam kisahnya, Sutasoma menolak membunuh bahkan terhadap musuhnya. Ia memilih jalan welas asih dan kesadaran diri dalam menyelesaikan konflik.
- Kaih sayang universal: Tokoh utama, Sutasoma digambarkan sebagai sosok penuh cinta kasih kepada semua makhluk, tanpa memandang status, bentuk, maupun kekuatan mereka.
- Pengendalian diri dan pengorbanan: Sutasoma juga menunjukkan pengorbanan diri demi menyelamatkan dunia dari kehancuran, sebuah cerminan dari nilai bodhisattva dalam tradisi Mahayana.
- Simbol Harmoni Agama: “Bhinneka Tunggal Ika”
Salah satu warisan paling terkenal dari kitab Sutasoma adalah kutipan:
“Bhinneka Tunggal Ika, Tan Haana Dharma Mangrwa”
(Berbeda-beda tetapi satu juga, tidak ada kebenaran yang mendua)
Ungkapan ini adalah bentuk filosofi toleransi yang sangat mendalam. Meskipun dalam konteks kitab ini mengacu pada perbedaan antara agama Budha dan Hindu, pesan intinya adalah pentingnya hidup berdampingan dalam perbedaan keyakinan. Kalimat ini kemudian diangkat menjadi semboyan resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang menjadikannya relevan lintas zaman.
- Refleksi Sosial Majapahit yang Plural
Pada masa Majapahit, kehidupan keagamaan sangat beragam: terdapat umat Buddha, Hindu, dan kepercayaan lokal. Sutasoma merefleksikan usaha dari elite intelektual kerajaan untuk menjaga kerukunan dalam perbedaan tersebut.
Kitab ini menjadi sarana edukatif dan spiritual bagi rakyat, menunjukkan bahwa damai dan kesatuan bisa dicapai melalui pengakuan dan penghargaan terhadap perbedaan.
- Relevansi dalam Kehidupan Modern
Nilai-nilai yang diusung oleh Sutasoma sangat relevan dalam kehidupan masyarakat Indonesia masa kini:
Menghidupkan nilai Buddha dalam konteks sosial: Ajaran cinta kasih dan welas asih dari Buddha menginspirasi masyarakat untuk bersikap toleran, sabar, dan tidak mudah tersulut konflik.
Mengatasi fanatisme dan diskriminasi agama: Sutasoma mengajak masyarakat memahami bahwa kebenaran spiritual bisa memiliki banyak jalan, dan perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan.
Kitab Sutasoma lebih dari sekadar karya sastra klasik; ia adalah warisan pemikiran yang mendalam dan progresif dalam menyatukan nilai-nilai ajaran Buddha dengan konteks sosial keagamaan yang plural.
Melalui ajaran ahimsa, toleransi, dan kesatuan dalam perbedaan, kitab ini mengajarkan cara hidup harmonis baik di masa lalu, kini, maupun masa depan. (NIYA)
Editor : Martda Vadetya