JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Seperti yang sudah diketahui, kerajaan Majapahit adalah sebuah kerajaan maritim terbesar yang ada di Nusantara. Luas wilayahnya pun terbentang mulai dari Jawa hingga ke sebagian wilayah di luar Jawa.
Puncak kejayaan kerajaan Majapahit terjadi di abad ke 14 di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada.
Namun, seiring berjalannya waktu, pengaruh kerajaan Majapahit mulai mengalami penurunan.
Di tengah masa pergantian ini, tokoh Raja Brawijaya muncul sebagai raja terakhir kerajaan Majapahit.
Ia menjadi saksi hidup transisi kerajaan Majapahit, yang mulanya berada di puncak kejayaan lalu lambat laun terus mengalami penurunan hingga keruntuhan.
Sebutan “Brawijaya” sebenarnya bukanlah nama pribadi raja yang tengah memimpin saat itu. Brawijaya adalah julukan atau gelar kehormatan untuk raja-raja Majapahit di masa-masa terakhir.
Dalam naskah sejarah, tertulis bahwa raja terakhir kerajaan Majapahit kerap kali dikaitkan dengan Sri Kertabumi yang juga dikenal sebagai Raden Alit atau Bhre Kertabumi.
Sri Kertabumi sendiri merupakan putra dari Prabu Bratanjung. Sri Kertabumi yang memiliki gelar Prabu Brawijaya V ini juga dikenal sebagai raja yang memiliki banyak anak, baik dari permaisuri dan juga selirnya.
Tak sedikit anaknya pun sukses menjadi tokoh-tokoh penting. Contohnya seperti Raden Patah yang mendirikan Demak, Batara Katong sang bupati Ponorogo, dan Bondan Kejawan selaku leluhur dari raja-raja kerajaan Mataram.
Dalam tradisi rakyat Jawa dan Babad Tanah Jawi, Prabu Brawijaya V digambarkan sebagai tokoh besar yang bijaksana, namun memiliki sisi yang misterius.
Tetapi sayangnya, identitas Prabu Brawijaya V pun masih seringkali diperdebatkan karena telah tercampur antara fakta, sejarah, dan legenda.
Baca Juga: Tambang Pasir Makin Menjamur, Eksploitasi Sungai Brantas Picu Pelarangan
Prabu Brawijaya V menjabat sebagai raja kerajaan Majapahit selama kurang lebih 10 tahun sejak tahun 1468 hingga 1478 masehi saat periode terakhir kerajaan Majapahit.
Selama masa jabatannya, ia telah menghadapi berbagai konflik internal maupun eksternal yang terjadi di masa-masa akhir kerajaan Majapahit.
Salah satu peristiwa besar di masa pemerintahannya yaitu perang paregreg. Perang paregreg sendiri adalah perang saudara yang terjadi antara keluarga Majapahit sendiri yang semakin melemahkan sistem kerajaan.
Perang ini juga menyebabkan beberapa wilayah yang berada di bawah kekuasaan Majapahit seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi melepaskan diri dari Majapahit.
Selain itu, pesatnya penyebaran kerajaan-kerajaan islam juga menjadi salah satu faktor penting menyusutnya pengaruh Majapahit.
Meskipun Majapahit tetap terlihat kuat dalam bidang kultural dan ekonomi, sebenarnya Majapahit tengah mengalami penurunan di bidang politik.
Dalam naskah sejarah juga tertulis bahwa keruntuhan Majapahit bukanlah suatu peristiwa tunggal yang langsung menyebabkan kerajaan Majapahit runtuh dalam satu hari, peristiwa keruntuhan Majapahit adalah peristiwa yang berproses.
Permulaan keruntuhan Majapahit ini diawali dengan munculnya kerajaan Demak sebagai kerajaan islam pertama yang sukses mencapai puncak kejayaannya hingga mampu menyaingi kerajaan Majapahit.
Konflik persaingan antara Majapahit dan Demak tidak dapat dihindari. Pasukan Demak kemudian menyerang kerajaan Majapahit yang disebut sebagai peristiwa Palihan Nagari. Penyerangan ini menandai keruntuhan Majapahit secara de facto.
Lalu setelah menerima kekalahannya, Prabu Brawijaya V selaku raja terakhir kerajaan Majapahit memutuskan untuk mundur dari jabatannya dan pergi mengasingkan diri.
Meski mengalami kegagalan dalam mempertahankan Majapahit, selama masa kepemimpinannya Prabu Brawijaya V dikenal sebagai sosok yang toleran terhadap perkembangan islam.
Ia juga menjadi simbol transisi zaman karena ia telah menyaksikan peralihan peradaban kerajaan yang dari Hindu ke Islam, dari kerajaan kuno ke dinasti baru.
Ia memang gagal mempertahankan kejayaan Majapahit, namun ia adalah seorang pemimpin yang menerima perubahan zaman.
Brawijaya juga muncul dalam berbagai cerita rakyat sebagai simbol kejayaan masa lalu yang dikagumi. Ia juga dikenang melalui berbagai bentuk seperti nama tempat, nama jalan, nama universitas, situs keramat, hingga tokoh pewayangan. (FANEZA)
Editor : Martda Vadetya