Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Sosok Raja yang Nyaris Tak Tercatat dalam Sejarah Majapahit, Siapa Sebenarnya Rajasawardhana?

Imron Arlado • Kamis, 7 Agustus 2025 | 06:33 WIB

 

Ketika mendengar nama Majapahit, kita hampir selalu mengingat sosok besar seperti Raden Wijaya, Hayam Wuruk, atau Gajah Mada yang sering mengantarkan kerajaan ini pada puncak. sumber foto: pinterets
Ketika mendengar nama Majapahit, kita hampir selalu mengingat sosok besar seperti Raden Wijaya, Hayam Wuruk, atau Gajah Mada yang sering mengantarkan kerajaan ini pada puncak. sumber foto: pinterets

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Ketika mendengar nama Majapahit, kita hampir selalu mengingat sosok besar seperti Raden Wijaya, Hayam Wuruk, atau Gajah Mada yang sering mengantarkan kerajaan ini pada puncak kejayaannya.

Namun, sejarah Majapahit bukan hanya tentang masa kejayaan saja. Tetapi dibalik periode emas itu, ada era kemunduran yang dipenuhi pergolakan politik dan perebutan kekuasaan.

Di tengah kerumitan itu, muncul nama Sri Rajasawardhana, seorang raja yang hanya memerintah sebentar namun menyisakan jejak penuh misteri.

Meskipun tercatat dalam sumber sejarah seperti Pararaton dan Prasasti Waringin Pitu, kisah yang nyaris tenggelam, membuatnya dijuluki sebagai raja yang hampir tidak tercatat.

 

Baca Juga: Tambang Pasir Makin Menjamur, Eksploitasi Sungai Brantas Picu Pelarangan

 

Asal-Usul dan Latar Belakang Keluarga

Rajasawardhana diyakini memiliki nama asli Dyah Wijayakumara. Ia disebut dalam Prasasti Waringin Pitu (1447) sebagai putra sulung Raja Kertawijaya.

Sebelum naik tahta, ia memegang beberapa gelar penting yang menunjukan posisinya dalam struktur pemerintahan Majapahit:

 

Jabatan-jabatan ini bukan hanya sekedar simbol, melainkan bagian dari sistem politik Majapahit dimana anggota keluarga kerajaan diberikan wilayah kekuasaan tertentu.

 

Naik Takhta di Tengah Kemelut

Tahun 1451, setelah wafatnya Raja Kertawijaya, Rajawardhana naik tahta sebagai penguasa baru Majapahit. Namun, ia tidak mewarisi kerajaan yang stabil. Pada masa itu, Majapahit ssudah mulai melemah akibat:

 

 

Rajasawardhana mewarisi sebuah kerajaan yang sedang berada di ambang perpecahan. Kekuasaan raja sudah tidak lagi absolut, dan perebutan pengaruh di dalam istana memperkeruh situasi politik.

 

Pemerintahan yang Singkat

Masa pemerintahan Rajasawardhana hanya berlangsung sekitar dua tahun (1451 - 1453 M). Dalam waktu yang singkat itu, tidak banyak kebijakan atau bahkan pembangunan yang tercatat.

 

 

Sejarawan meyakini bahwa sebagian besar pemerintahanya dihabiskan untuk meredakan konflik internal dan menjaga stabilitas kerajaan yang rapuh.

Setelah Rajasawardhana wafat, Majapahit mengalami kekosongan kekuasaan selama tiga tahun. Baru pada tahun 1456, tahta akhirnya diisi kembali oleh Girishawardhana (Hyang Purwawisesa). 

 

Misteri di Balik Kematian

Kematian Rajasawardhana masih menjadi teka-teki yang memicu perdebatan di kalangan sejarawan. Beberapa versi yang berkembang antara lain:

 

  1. Konflik Politik

Ada dugaan bahwa kematian terkait dengan intrik di istana. Pertarungan antar bangsawan yang semakin sengit mungkin menyebabkan ia digulingkan atau dibunuh secara politik.

    2. Legenda Tragis 

Cerita rakyat yang menyebutkan bahwa Rajasawardhana mengalami gangguan ingatan dan akhirnya mengakhiri hidupnya dengan menceburkan diri ke laut.

 

Meskipun kisah ini lebih bersifat mitos dari pada fakta, legenda tersebut menunjukan bagaimana kematiannya menjadi dari narasi yang tidak jelas.

 

 

Mengapa Ia Hampir Tak Tercatat?

Ada beberapa alasan mengapa nama Rajasawardhana jarang disebut dalam buku-buku sejarah populer:

 

  1. Pemerintahan yang sangat singkat sehingga tidak banyak kebijakan atau pembangunan yang dikenang.
  2. Minimnya sumber primer. Selain Prasasti Waringin Pitu dan Pararaton, hampir tidak ada catatan lain yang mendetail tentang masa pemerintahanya.
  3. Periode kemunduran Majapahit, yang membuat fokus sejarah lebih tertuju pada keruntuhan kerajaan daripada raja-rajanya.

 

Karena hal itu, Rajasawardhana lebih sering menjadi nama di pinggiran sejarah ketimbang sosok yang benar-benar di telusuri sejarah mendalam.

 

Warisan yang Tersisa

Walaupun hanya sedikit tercatat, Rajasawardhana tetap memainkan peran penting. Ia adalah penghubung antara Kertawijaya dan Girishawardhana, dua penguasa yang menjadi bagian dari masa transisi menjelang keruntuhan Majapahit.

 

 

Pemerintahannya juga menjadi cermin lemahnya kekuasaan pusat pada masa itu. Kisahnya memperlihatkan bagaimana konflik internal dapat mempercepat kejatuhan kerajaan.

Rajasawardhana bukanlah raja yang dikenal karena kejayaan atau kebijaksanaan gemilang. Sebaliknya, ia dikenal karena misterinya.

Ian adalah cerminan dari periode suram Majapahit, dimana perebutan kekuasaan dan melemahnya otoritas pusat menggerogoti kerajaan yang dulu begitu perkasa. (AILEEN)

Editor : Martda Vadetya
#Rajasawardhana #Raden Wijaya #hayam wuruk #Girishawardhana #Kertawijaya #majapahit #pararaton #prasasti waringin pitu #gajah mada #politik #Dyah Wijayakumara