JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Penulisan naskah sejarah Majapahit kerap kali hanya fokus menyorot pada dua fase, yakni masa kejayaan dan keruntuhan kerajaan Majapahit.
Puncak kejayaan Majapahit sendiri dipimpin oleh Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Sementara masa keruntuhan kerajaan Majapahit terjadi pasca wafatnya Hayam Wuruk.
Di balik sejarah kejayaan dan keruntuhan itu, ada satu fase fenomenal kerajaan Majapahit yang jarang sekali diperbincangkan.
Kejadian fenomenal itu terjadi saat para rombongan dari kerajaan Majapahit berhasil mengalahkan kekuatan Mongol (dinasti yuan) yang saat itu dipimpin oleh Kubilai Khan.
Majapahit berhasil mengalahkan utusan Kubilai Khan yang saat itu dikenal dengan keangkuhannya bahwa tidak ada satu wilayah pun yang bisa mengalahkan mereka, dengan strategi militer dan diplomatiknya yang luar biasa hebat.
Kejadian ini menjadi bukti bahwa Majapahit merupakan kerajaan yang berisi para pemimpin cerdik dan taktis.
Hal ini memungkinkan Majapahit lahir bukan hanya karena warisan, namun karena strategi cerdas dalam menghadapi jajahan kelompok asing.
Namun, sebelum kerajaan Majapahit berdiri, kekuasaan di Jawa dipegang oleh Kertanegara, seorang pemimpin dari kerajaan Singasari.
Kertanegara dikenal sebagai pribadi yang ekspansif dan sangat berani untuk menentang pengaruh luar, termasuk pengaruh dari Mongol.
Baca Juga: Tambang Pasir Makin Menjamur, Eksploitasi Sungai Brantas Picu Pelarangan
Ia bahkan mengirimkan ekspedisi pamalayu ke Sumatera untuk memperluas kekuasaan Singasari, yang kemudian berakibat fatal, yakni terbunuhnya Kertanegara di tangan Jayakatwang yang memberontak dan runtuhnya kerajaan Singasari.
Kekuasaan jawa kemudian jatuh di tangan Jayakatwang. Sementara Raden Wijaya, menantu Kertanegara yang saat itu berhasil selamat dari kekacauan mulai membangun kekuatan dengan mendirikan suatu kerajaan yang bernama Majapahit.
Di sisi lain, ternyata semasa hidupnya Kertanegara memiliki masalah yang belum terselesaikan dengan Kubilai Khan sang pemimpin Mongol.
Kesalahan Kertanegara saat itu adalah menolak membayar upeti bahkan hingga melukai utusan Mongol yang saat itu dikirim ke Jawa
Kubilai Khan yang memang dikenal memiliki pribadi yang ekspansif dan tak suka dihina pun menyusun rencana untuk mengirim ekspedisi hukuman ke Jawa sebagai balasan, tanpa tahu bahwa Kertanegara telah meninggal dunia.
Ekspedisi hukuman ini diberangkatkan pada tahun 1293, dengan jumlah pasukan sekitar 20.000 hingga 30.000 pasukan, lengkap dengan kapal sekaligus senjata tempur.
Namun sesampainya di Jawa, mereka baru mengetahui suatu fakta bahwa raja yang mereka cari, Kertanegara, telah wafat dan kekuasaan telah sepenuhnya jatuh ke tangan Jayakatwang.
Meski begitu, pasukan Mongol tetap tidak mengubah keputusannya untuk membalaskan dendam kepada Kertanegara dan membuat jawa tunduk di bawah kekuasaannya.
Maka di saat itu Mongol menyerang Jayakatwang sebagai pengganti Kertanegara.
Raden Wijaya yang saat itu berhasil selamat dari kekacauan mulai memanfaatkan kericuhan dengan bersekutu dengan pasukan Mongol untuk membalaskan dendamnya kepada Jayakatwang.
Ia menyetujui segala tuntutan Mongol yang meminta upeti dengan syarat membantu menjatuhkan Jayakatwang.
Tanpa ada yang menyadari bahwa Raden Wijaya telah merancang strategi cerdik dibalik ajakannya untuk bersekutu dengan Mongol.
Akhirnya, menggandeng Mongol, Raden Wijaya berhasil menyerbu kediri yang kemudian jatuh bersamaan dengan ditangkapnya Jayakatwang.
Setelah meraih kemenangannya, Raden Wijaya berpamitan kepada panglima Mongol untuk kembali ke Majapahit dengan alasan menyiapkan upeti bagi pasukan mongol. Tanpa merasa curiga, panglima Mongol mengizinkannya pergi.
Sesampainya di Majapahit, alih-alih menyiapkan upeti, Raden Wijaya justru mematangkan kembali strategi yang telah disusunnya dan merencanakan serangan dadakan.
Ia kemudian memerintahkan pasukannya untuk menyerang Mongol yang saat itu tengah berpesta merayakan kemenangannya.
Serangan kilat tersebut sukses besar dalam menaklukkan para pasukan Mongol. Total korban yang berada di pihak Mongol diperkirakan mencapai 12.000 hingga 18.000 orang. Tiga jendral Mongol bahkan dihukum cambuk oleh Kubilai Khan akibat kegagalan ini.
Baca Juga: Peran Perempuan di Balik Singgasana: Tokoh Wanita Majapahit yang Terlupakan
Kemenangan ini adalah kemenangan monumental Majapahit sebab Majapahit mengawali eksistensi serta reputasinya sebagai wilayah yang benar-benar merdeka.
Selain itu, wilayah Jawa dan Nusantara sejak saat itu tak pernah lagi dijajah secara besar-besaran oleh kekaisaran Tiongkok dan pasukan asing lainnya hingga era kolonial. (FANEZA)
Editor : Martda Vadetya