JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Majapahit telah dikenal sebagai kerajaan yang megah dan terbesar di Nusantara.
Pemeimpin sekligus strategi politik dan militernya yang cerdik mampu membawa Majapahit menuju puncak kejayaan dan kekuasaannya yang meluas hingga ke mancanegara.
Namun, sebelum mencapai masa keemasannya, Majapahit dibangun di atas fondasi kokoh oleh pendirinya, yakni Raden Wijaya.
Raden Wijaya adalah sosok hebat sekaligus raja pertama dibalik berdirinya kerajaan terbesar di Nusantara.
Ia naik tahta pada tahun 1293 masehi dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana yang memiliki makna indah dan dalam, yakni pemimpin yang terkemuka, agung, dan berjaya.
Untuk menyejaterahkan kerajaan serta rakyatnya, Raden Wijaya mencetuskan berbagai macam strategi.
Mulai dari strategi politik, ekonomi, hingga militer. Salah satu strategi utama yang digunakan oleh Raden Wijaya adalah pernikahan politik. Sebuah pernikahan yang didasari niat untuk memperluas relasi serta aliansi kerajaan.
Menurut naskah utama sejarah seperti Kakawin Negarakertagama, Prasasti Balawi, dan Pararton, Raden Wijaya menikahi empat putri Raja Kertanegara dari kerajaan Singasari yang sebelumnya memerintah dan berkuasa di tanah Jawa Timut.
Seperti strategi yang sudah ditetapkan, pernikahan Raden Wijaya dan empat putri Raja Kertanegara bukan sekedar urusan pribadi.
Melainkan bagian dari strategi politik untuk menyatukan kekuatan antar kerajaan, mempertahankan kekuasaan, dan memperluas wilayah kekuasaan.
Karena dengan menikahi putri-putri raja sebelumnya, ia dapat memperkuat klaim sah dan resmi atas Singasari dan Majapahit sekaligus mencegah terjadinya konflik perebutan tahta di masa depan.
Empat istri Raden Wijaya yang merupakan putri dari Kertanegara adalah Tribhuwaneswari, Narendraduhita. Jayendradewi, dan Gayatri Rajapatni.
Selain menikahi putri dari kerajaan Singasari, Raden Wijaya juga dipercaya menikahi satu putri dari kerajaan Melayu Dharmsasraya yang bernama Indreswari.
Istri pertama Raden Wijaya adalah Tribhuwaneswari yang memiliki nama lengkap Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuwaneswari, ia adalah putri sulung Kertanegara.
Tribhuwaneswari adalah istri sah atau permaisuri utama paling tua yang sering disebut sebagai istri pertama yang dinikahi saat Singasari masih berdiri.
Kemudian, istri kedua Raden Wijaya adalah Sri Mahadewi Dyah Dewi Narendraduhita yang lebih akrab disapa dengan Narendraduhita, putri kedua Kertanegara dan adik dari Tribhuwaneswari.
Istri ketiganya adalah Sri Jayendradewi Dyah Dewi Prajnaparamita, putri ketiga Kertanegara yang lebih dikenal dengan nama panggilan Jayendradewi atau Prajnaparamita.
Namun, pernikahan Raden Wijaya dengan ketiga istrinya tidak dikaruniai seorang anak. Ia baru dikaruniai seorang anak pada pernikahannya yang keempat dan kelima, yakni dengan Gayatri Rajapatni dan Indreswari.
Gayatri Rajapatni yang memiliki nama lengkap Sri Rajendradewi Dyah Dewi Gayatri adalah anak bungsu dari Kertanegara yang menjadi istri keempat Raden Wijaya.
Ia adalah istri Raden Wijaya yang paling istimewa dan memiliki peran yang sangat penting dalam struktur kekuasaan kerajaan Majapahit.
Pernikahan Raden Wijaya dan Gayatri Rajapatni juga dikaruniai dua orang anak yang bernama Tribhuwana Tunggadewi dan Rajadewi Maharajasa.
Tribhuwana Tunggadewi kemudian naik tahta menjadi ratu pertama yang memimpin kerajaan Majapahit untuk menggantikan posisi kakak tirinya, Jayanegara.
Sementara itu, pernikahan Raden Wijaya dengan istri kelimanya, Sri Indreswari atau yang juga dikenal sebagai Dara Petak, putri dari kerajaan Melayu Dharmasraya, dikaruniai oleh seorang anak laki-laki yang diberi nama Jayanegara.
Jayanegara juga sempat naik tahta menjadi raja kedua kerajaan Majapahit yang kemudian digantikan oleh adik tirinya, Tribhuwana Tunggadewi, setelah wafatnya.
Pernikahan Raden Wijaya dengan para istrinya merupakan kisah menarik tentang strategi genius yang diciptakan oleh Raden Wijaya untuk memperkuat kekuasaan serta kekuatan yang tersisa di Singasari.
Kisah ini juga membuktikan bahwa kejayaan Majapahit tidak dibangun hanya dengan perang dan aliansi militer, tetapi juga melalui kecermatan strategi pernikahan politik dan peran perempuan bangsawan.
FANEZA
Editor : Imron Arlado