JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Majapahit adalah salah satu kerajaan terbesar di Nusantara yang berdiri pada abad ke-13.
Kerajaan Majapahit didirikan oleh seorang pria bernam Raden Wijaya, putra dari Rakryan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal.
Raden Wijaya mendirikan Majapahit pada tahun 1293 masehi. Kerajaan ini kemudian berhasil mencapai puncak kejayaannya pada tahun 1350-1389 masehi di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada.
Hampir seluruh orang hanya mengetahui Majapahit sebagai kerajaan yang sangat jaya dan megah pada masanya karena kekuasaannya yang luas serta para bangsawan pemimpin yang cerdas dan taktis.
Padahal, dibalik kisah kejayaannya, terdapat satu kisah menyayat hati yang tak banyak diperbincangkan selama ini.
Kisah tersebut adalah kisah menyedihkan nasib percintaan Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka Citraresmi dari kerajaan Sunda.
Tak hanya strategi militer dan politik, cinta juga menjadi bagian penting dalam naskah sejarah, terutama di lingkungan kerajaan pusat.
Hal ini karena pernikahan para bangsawan di masa itu kerap kali dianggap dan digunakan sebagai alat diplomasi untuk menyatukan kerajaan dan memperluas serta memperkuat relasi.
Cerita asmara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka ini menjadi salah satu kisah cinta yang paling terkenal namun harus berakhir tragis karena konflik politik.
Hayam Wuruk sendiri adalah raja Majapahit yang menjabat sejak tahun 1350 hingga 1389.
Sepanjang masa kepemimpinannya, ia dianggap sebagai pemimpin yang bijak, adil, dan berhasil membawa kerajaan ke puncak kejayaan bersama dengan Mahapatih Gajah Mada.
Sementara itu, Dyah Pitaloka Citraresmi adalah seorang putri kerajaan Sunda Galuh. Sebuah kerajaan yang berdaulat, makmur, dan para keluarga kerajaannya memiliki nilai martabat yang tinggi di Jawa Barat
Dyah Pitaloka terkenal akan parasnya yang cantik serta pribadinya yang hangat dan penuh kasih sayang.
Ia juga dikenal sebagai seorang perempuan yang memiliki kecantikan, kelembutan, dan kehormatan dirinya yang tinggi.
Kisah cinta mereka bermula saat Hayam Wuruk mendengar kabar menarik tentang paras cantik dan pribadi luhur yang dimiliki Dyah Pitaloka.
Ia terpesona dengan sang putri pada pandangan pertama. Tak menunggu lama dan tanpa ragu, Hayam Wuruk segera mengirim utusan ke kerajaan Sunda untuk melamar Dyah Pitaloka.
Lamaran tersebut tentu disambut hangat dan diterima dengan senang hati oleh Raja Sunda.
Sang raja menganggap bahwa dengan pernikahan tersebut, akan menjadi penguat hubungan antara dua kerajaan dengan damai dan setara.
Rombongan Sunda kemudian berangkat ke kerajaan Majapahit dengan membawa Dyah Pitaloka bersama para bangsawan lainnya untuk melangsungkan upacara pernikahan.
Upacara pernikahan ini nantinya akan menjadi simbol indah dari kerja sama antar dua pusat kekuasaan terbesar di Nusantara.
Namun, segalanya berubah secara drastis seperti mimpi buruk yang berubah menjadi kenyataan saat rombongan sunda tiba di lapangan bubat, wilayah Majapahit.
Di sana, berdiri sang Mahapatih Gajah Mada yang menghadang para rombongan Sunda.
Ia mengambil alih kendali diplomasi dan menolak untuk mengakui bahwa pernikahan Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka adalah bentuk aliansi damai.
Gajah Mada memperkeruh suasana dengan menuntut agar rombongan sunda mengakui pernikahan itu sebagai bentuk penyerahan diri kerajaan Sunda terhadap Majapahit.
Mendengar hal itu, raja sunda tentu merasa tak terima dan memberontak. Ia merasa hadirnya yang memiliki niat baik tak disambut dengan hangat dan merasa sangat terhina.
Pertempuran tak terelakkan pun terjadi. Pasukan sunda yang tak siap untuk berperang dan jumlahnya jauh lebih kecil dikalahkan dengan mudah oleh pasukan Majapahit.
Di keadaan yang ricuh dengan perasaan duka dan marah yang berkecamuk, Dyah Pitaloka memutuskan untuk mengakhiri hidupnya saat itu juga.
Keputusan ini ia ambil bukan semata-mata karena cinta, tetapi sebagai bentuk pembelaan terhadap kehormatannya sebagai seorang perempuan yang tak rela dijadikan alat kekuasaan.
Tragedi Bubat adalah titik pertemuan yang getir antara cinta, politik, dan kehormatan. Cinta yang dimiliki Hayam Wuruk untuk Dyah Pitaloka masih tak mampu untuk melawan ambisi Gajah Mada.
Baca Juga: Majapahit dalam Seni dan Sastra Jawa Kuno
Peristiwa ini tidak pernah benar-benar dilupakan, di tanah sunda kisah ini dikenang sebagai luka sejarah.
Dalam naskah kidung sunda pun kisah ini diceritakan dengan penuh kesedihan dan kemarahan yang melingkup.
Sedangkan, di Majapahit nama Hayam Wuruk tetap harum. Tetapi, bayang-bayang tragedi ini masih terus menghantui hidup Hayam Wuruk dan masa pemerintahannya.
Hal ini dibuktikan dari Hayam Wuruk yang tidak pernah mengambil permaisuri resmi setelah tragedi menyayat hati tersebut sebagai pertanda bahwa lukanya tidak pernah benar-benar sembuh.
FANEZA
Editor : Imron Arlado