JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Kerajaan Majapahit tidak hanya dikenal karena luasnya kekuasaan dan kekuatan militernya, tetapi juga karena kedalaman budayanya yang memukau.
Di tengah gemuruh politik dan ekspansi wilayah, berkembanglah seni yang halus dan sastra yang penuh makna, menjadi saksi bisu keagungan peradaban Nusantara.
Melalui ukiran candi yang detail, tarian kerajaan yang anggun, serta syair kakawin yang sarat filosofi, Majapahit meninggalkan warisan yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga kaya akan nilai spiritual dan intelektual.
Artikel ini akan menelusuri bagaimana seni rupa dan sastra Jawa Kuno menjadi medium ekspresi sekaligus dokumentasi era kejayaan Majapahit.
Majapahit sebagai Pusat Estetika dan Literasi Nusantara
Kerajaan Majapahit (1293–1527 M) merupakan kerajaan Hindu-Buddha terakhir dan terbesar dalam sejarah Indonesia klasik. Selain dikenal sebagai kekuatan politik, Majapahit juga menjadi pusat perkembangan budaya.
Terutama dalam bidang seni dan sastra Jawa Kuno yang menjadi warisan peradaban sampai hari ini.
Baca Juga: Punya Peran Penting, Sungai Brantas dan Sungai Bengawan Solo Jadi Jalur Perdagangan Era Majapahit
Seni Rupa: Estetika yang Mengakar dalam Spiritualitas
Seni rupa Majapahit berkembang pesat di berbagai bentuk arsitektur, patung, relief, hingga kerajinan tangan. Seni bukan sekadar hiasan, melainkan sarana ekspresi spiritual dan legitimasi kekuasaan.
Arsitektur Candi
- Material bata merah digunakan secara luas, menciptakan gaya khas Majapahit yang berbeda dari pendahulunya (misal, Singhasari yang menggunakan batu andesit).
- Contoh penting: Candi Tikus, diduga merupakan tempat penampungan air atau pemandian ritual, mencerminkan tata ruang yang simbolis.
Relief Naratif dan Dekoratif
- Dinding candi dipenuhi relief yang menggambarkan adegan dari kisah epik seperti Ramayana dan Mahabharata, menunjukkan nilai moral dan filosofi Hindu.
- Relief flora, fauna, dan makhluk mistis seperti naga atau kala menjadi simbol perlindungan dan kosmos.
Baca Juga: Ditopang Sungai Brantas dan Bengawan Solo, Perahu Kayu Padati Lalu Lintas Sungai Zaman Majapahit
Seni Patung dan Arca
- Arca dewa-dewi seperti Durga, Ganesha, dan Siwa dalam berbagai manifestasi dibuat untuk pemujaan dan pelindung kerajaan.
- Arca raja yang di Dewakan (devaraja) menunjukkan konsep kekuasaan ilahi.
Sastra Jawa Kuno: Cerminan Intelektual dan Filosofis Majapahit
Sastra Jawa Kuno pada masa Majapahit tidak hanya berkembang secara kuantitatif, tetapi juga menunjukkan kedalaman intelektual dan spiritual.
Kakawin Nagarakretagama
- Ditulis oleh Mpu Prapanca pada 1365 M sebagai puji-pujian terhadap Raja Hayam Wuruk.
- Menggunakan metrum kakawin (Sansekerta dan Jawa Kuno) untuk menguraikan struktur pemerintahan, daerah taklukan, dan kegiatan keagamaan.
Pararaton
- Berisi kisah-kisah legenda raja seperti Ken Arok dan raja-raja Singasari hingga awal Majapahit.
- Walau bersifat semi-historis, Pararaton mencerminkan nilai-nilai kepahlawanan dan mistisisme Jawa.
Fungsi Sastra Majapahit:
- Legitimasi politik melalui narasi keturunan ilahi dan kejayaan raja.
- Pendidikan etika bagi masyarakat melalui cerita moral dan kisah panutan.
- Pelestarian budaya dan spiritualitas lewat simbolisme dan ajaran mistis dalam tek
Baca Juga: Tambang Pasir Makin Menjamur, Eksploitasi Sungai Brantas Picu Pelarangan
Interkoneksi Seni dan Sastra: Candi Sebagai Naskah Visual
Seni dan sastra tidak berdiri sendiri. Relief di candi sering kali merupakan representasi visual dari cerita dalam kakawin. Dengan demikian:
- Candi berfungsi layaknya “buku batu” yang dapat dibaca secara visual oleh masyarakat.
- Simbol-simbol dalam seni rupa memiliki padanan naratif dalam teks sastra.
- Hal ini menunjukkan kesatuan estetika Majapahit: seni sebagai teks, dan teks sebagai seni.
Warisan seni dan sastra Kerajaan Majapahit bukan sekadar peninggalan masa lampau, melainkan cerminan jiwa dan peradaban yang agung.
Melalui relief candi, arca, serta karya sastra seperti Kakawin Negarakertagama dan Sutasoma, kita diajak memahami nilai spiritual, intelektual, dan sosial masyarakat Majapahit.
Memelihara dan mengapresiasi warisan budaya ini adalah tanggung jawab bersama, agar generasi mendatang tak hanya mengenang kejayaan, tetapi juga menjadikannya inspirasi untuk berkarya dan berbudaya.
Majapahit mungkin telah tiada, namun gema estetikanya tetap hidup di antara kita dalam seni, puisi, dan semangat persatuan.
ANGELINA
Editor : Imron Arlado