JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Kerajaan Majapahit bukan hanya meninggalkan warisan sejarah dan politik yang besar, tetapi juga jejak seni dan budaya yang masih terasa hingga saat ini, khususnya di wilayah Jawa Timur.
Melalui berbagai bentuk seni rakyat dan tradisional, pengaruh Majapahit hidup dan berkembang sebagai identitas kultural yang melekat dalam masyarakat. Jejak ini dapat ditelusuri dalam seni pertunjukkan, seni rupa, kerajinan, hingga tradisi lisan yang diwariskan lintas generasi.
Salah satu warisan budaya Majapahit yang masih ada hingga saat ini adalah wayang. Meskipun wayang memiliki akar lebih tua dari Majapahit, era ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan cerita, nilai moral, dan estetika pertunjukkan.
Cerita-cerita pewayangan seperti Mahabharata dan Ramayana dipadukan dengan nilai-nilai lokal dan dijelaskan ulang dalam konteks kerajaan Majapahit.
Seni ludruk, sebuah pagelaran teater rakyat khas Jawa Timur, juga memuat unsur-unsur keseharian masyarakat Majapahit, baik dari segi bahasa, humor, maupun sindiran sosial.
Pertunjukan ini menggambarkan kehidupan rakyat biasa dengan gaya yang komunikatif dan jenaka, sekaligus mempertahankan struktur cerita tradisional yang mengandung pesan moral.
Candi-candi peninggalan Majapahit seperti Candi Tikus, Candi Bajang Ratu, dan Candi Wringin Lawang di Trowulan bukan hanya monumen sejarah, tetapi juga simbol kejayaan seni arsitektur dan ukiran.
Teknik bata merah, ragam hias flora fauna, serta cara untuk memahami Hindu Budha menjadi ciri khas artistic Majapahit yang banyak diadaptasi dalam arsitektur tradisional rumah maupun bangunan sakral di Jawa Timur.
Selain itu, ragam hias Majapahit seperti motif bunga Teratai, naga, dan garuda masih bisa ditemukan dalam ukiran kayu, batik tulis khas Jawa Timur, serta hiasan gamelan. Ini menunjukkan kelangsungan estetik antara masa lalu dan masa kini.
Tradisi sastra lisan seperti tembang macapat dan pantun rakyat di Jawa Timur banyak memuat nila-nilai ajaran moral yang sejalan dengan ajaran dalam karya sastra Majapahit seperti Negarakertagama dan Sutasoma.
Kisah-kisah lokal seperti legenda Damarwulan dan Minakjinggo juga merupakan cerminan memori kolektif masyarakat terhadap masa kejayaan Majapahit.
Cerita ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sebagai alat edukasi dan pelestarian nilai-nilai kearifan lokal yang berasal dari zaman kerajaan.
Pengaruh kerajaan Majapahit juga nyata dalam kerajinan tangan seperti gerabah Trowulan yang menampilkan bentuk dan motif khas kerajaan. Proses pembuatan yang masih menggunakan Teknik tradisional menunjukkan kelangsungan Teknik produksi yang diwariskan sejak masa lampau.
Demikian pula dalam batik, terutama batik khas Jawa Timur seperti dari Tulungagung dan Madura, beberapa motif klasik yang bernuansa simbolik seperti parang dan kawung dimodifikasi dengan sentuhan lokal yang dapat ditelusuri akar sejarahnya hingga Majapahit.
Ritual-ritual seperti bersih desa, Larung sesaji, dan sedekah bumi merupakan bagian dari tradisi spiritual agraris yang sudah dikenal sejak masa Majapahit.
Upacara-upacara ini menjadi bentuk penghormatan terhadap alam dan leluhur, memperlihatkan kesinambungan antara sistem kepercayaan kuno dan praktik keagamaan masyarakat sekarang.
Jejak budaya dan seni Majapahit dalam tradisi Jawa Timur bukan sekedar peninggalan masa lalu, tetapi hidup sebagai warisan dinamis yang terus berkembang dan beradaptasi.
Masyarakat, seniman, dan budayawan berperan penting dalam menjaga serta menghidupkan kembali nilai-nilai luhur ini melalui karya serta praktik budaya sehari-hari.
Menelusuri jejak Majapahit dalam seni rakyat bukan hanya tentang mengenang masa kejayaan, tetapi juga memahami jati diri budaya yang menjadi pondasi kekuatan bangsa Indonesia hari ini. NIYA
Editor : Imron Arlado