JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Selama ini, naskah sejarah Majapahit kerap kali lebih terfokus pada peran tokoh bangsawan laki-laki seperti Raden Wijaya, Gajah Mada, dan Hayam Wuruk.
Tanpa disadari, sejarah yang hanya berfokus pada narasi besar ini kerap mengabaikan peran penting tokoh-tokoh lainnya, terutama tokoh perempuan di balik struktur kekuasaan kerajaan.
Salah satu tokoh-tokoh penting perempuan tersebut adalah Bhre Lasem. Bhre Lasem sendiri merupakan gelar bangsawan yang beberapa kali dipegang oleh para perempuan berdarah bangsawan yang memiliki pengaruh besar dalam susunan kerajaan Majapahit.
Bhre Lasem juga dianggap sebagai penguasa keturunan kerajaan yang saat itu memimpin wilayah Lasem, salah satu wilayah kadipaten (semacam kabupaten) penting yang berada di bawah kekuasaan Majapahit.
Sepanjang sejarahnya sebagai kerajaan vasal atau kadipaten, Lasem hampir selalu dipimpin oleh para tokoh perempuan dari keluarga bangsawan inti kerajaan Majapahit.
Gelar Bhre tidak hanya diberikan kepada penguasa keturunan kerajaan yang memimpin wilayah Lasem saja, tetapi juga diberikan kepada pemimpin wilayah kadipaten lainnya, seperti Bhre Kahuripan, Bhre Mataram, dan Bhre Pamotan.
Sistem jabatan Bhre ini tidak hanya dilaksanakan di Lasem saja, tetapi juga di berbagai wilayah lainnya.
Hal ini dikarenakan kerajaan Majapahit adalah kerajaan yang menggunakan sistem mandala, yakni sistem kekuasaan terpusat yang terdiri atas pusat kerajaan dan wilayah-wilayah di bawah kekuasaan Majapahit yang diperintah oleh kerabat raja.
Jabatan Bhre ini bukan sekedar simbolis, tetapi juga benar-benar melaksanakan tugasnya sebagai yang menangani atau mengatur kekuasaan administratif, militer, ekonomi, dan politik di wilayahnya masing-masing.
Baca Juga: Tambang Pasir Makin Menjamur, Eksploitasi Sungai Brantas Picu Pelarangan
Mereka juga seringkali menjadi penasihat politik kerajaan, penarik upeti, dan pelaksana sekaligus pelindung pertahanan.
Beberapa dari Bhre bahkan merangkap sebagai pejabat tinggi di pusat kerajaan, contohnya seperti Dewi Indu yang pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung Majapahit.
Sumber utama seperti Negarakertagama, Pararaton, dan beberapa prasasti juga menjadi penguat bukti bahwa sejumlah daerah penting telah lebih dari satu kali dipimpin oleh tokoh perempuan.
Dalam Prasasti Wringinpitu bahkan disebutkan bahwa sebanyak kurang lebih 14 wilayah penting di bawah kekuasaan Majapahit termasuk Lasem diperintah oleh perempuan pada masa kepemimpinan Tribhuwana Tunggadewi.
Hal ini dapat terjadi karena didorong oleh sistem pewarisan gelar dan kedudukan di Majapahit tidak membedakan secara gender.
Sementara itu, Bhre Lasem pertama yang memerintah sejak 1351 masehi adalah seorang perempuan pertama yang bernama Dewi Indu atau yang juga dikenal dengan nama Duhitendu Dewi, ia adalah sepupu dari Prabu Hayam Wuruk.
Sepanjang masa kepemimpinannya, ia dikenal sebagai pemimpin yang adil, berani, dan bijaksana. Dewi Indu juga dikenal sebagai figur politik terkemuka yang berada di wilayahnya.
Dewi Indu kemudian menikah dengan Rajasawardhana yang juga dikenal sebagai Bhre Matahun dan panglima perang angkatan laut kerajaan Majapahit.
Melalui pernikahannya dengan Bhre Matahun, wilayah Lasem dan Matahun mengalami penyatuan yang kemudian menjadikan Lasem berkembang sebagai pangkalan laut utama kerajaan.
Kisah Bhre Lasem dan bangsawan perempuan Majapahit ini juga menjadi bukti bahwa seorang perempuan bukan sekedar objek pendamping raja saja, tetapi mereka juga bisa menjadi pilar utama dalam struktur kekuasaan kerajaan.
FANEZA
Editor : Imron Arlado