Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Inilah Kebijakan Ratu Suhita dalam Menstabilkan Kerajaan Pasca Perang Paregreg! Yuk Baca Selengkapnya!

Imron Arlado • Minggu, 3 Agustus 2025 | 22:11 WIB

 

Perang Paregreg (1404-1406) meninggalkan luka mendalam bagi Kerajaan Majapahit. Konflik perebutan tahta antara Bhe Wirabhumi dan Wikramawardhana tidak hanya melemahkan. sumber foto: pinterets
Perang Paregreg (1404-1406) meninggalkan luka mendalam bagi Kerajaan Majapahit. Konflik perebutan tahta antara Bhe Wirabhumi dan Wikramawardhana tidak hanya melemahkan. sumber foto: pinterets

JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Perang Paregreg (1404-1406) meninggalkan luka mendalam bagi Kerajaan Majapahit. Konflik perebutan tahta antara Bhre Wirabhumi dan Wikramawardhana tidak hanya melemahkan struktur politik. 

Tetapi juga mengguncang stabilitas ekonomi dan memperburuk hubungan dengan daerah bawah.

Ketika Ratu Suhita naik tahta pada tahun 1429 M, ia mewarisi kerajaan yang penuh ketegangan, baik didalam maupun diluar istana.

Namun, melalui serangkaian kebijakan strategis, Ratu Suhita berhasil membawa Majapahit kembali menuju masa pemulihan.

 

Konsolidasi Politik dan Rekonsiliasi Bangsawan

Langkah pertama Ratu Suhita adalah memulihkan persatuan di kalangan bangsawan. Perang Paregreg telah menciptakan perpecahan antara pihak pendukung Bhre Wirabhumi dan Wikramawardhana.

 

 

 

Dengan langkah ini menciptakan kestabilan internal yang menjadi pondasi penting bagi kebijakan berikutnya.

 

Pemulihan Ekonomi Kerajaan

Perang telah menghancurkan banyak pusat perdagangan di Jawa Timur dan merusak arus pajak dari daerah taklukan. Suhita merespons hal ini dengan kebijakan ekonomi yang pragmatis:

 

 

Penguatan Militer dan Stabilitas Wilayah

Walaupun lebih fokus pada pemulihan, Ratu Suhita tetap memperhatikan pertahanan kerajaan dengan:

 

 

 

Diplomasi yang Bijak

Di luar negeri, Suhita tidak hanya mengandalkan kekuatan militer. Ia juga mengirimkan utusan ke Tiongkok untuk menjalin hubungan dengan Dinasti Ming.

Para duta Majapahit datang membawa persembahan, dan sebagai balasanya, Majapahit memperoleh pengakuan sebagai kerajaan besar di mata dunia.

Selain itu, hubungan dengan kerajaan-kerajaan di Bali, Palembang, hingga Maluku diperkuat.

Tidak hanya melalui ancaman, tetapi juga dengan melalui aliansi dagang dan pernikahan politik yang membuat jaringan kekuasaan Majapahit.


Menjaga Budaya dan Harmoni Religi

Bagi Ratu Suhita, kekuasaan Majapahit tidak hanya pada pedang atau perdagangan saja, tetapi juga pada budaya.

Ia mendukung para pujangga untuk menulis kakawin, mencatat sejarah, dan memperkuat identitas Majapahit melalui sastra.

Di tengah masyarakat yang memeluk Hindu dan Buddha, Ratu Suhita menegakan harmoni religi.

Upacara-upacara kerajaan dilakukan dengan megah, mempersatukan rakyat di bawah simbol-simbol kebesaran Majapahit.

 

Baca Juga: Ratu Kencana Wungu, Pemimpin Anggun dari Kerajaan Majapahit yang Kini Terpajang di Bus Trans Jatim

 

Ratu yang Menyelamatkan Kerajaan 

Di balik tembok batu bata merah Trowulan, Ratu Suhita memimpin dengan tangan yang tegas namun adil.

Ia bukan hanya menenangkan luka politik, tetapi juga menghidupkan kembali denyut nadi ekonomi, dan menjaga budaya sebagai perekat bangsa.

Majapahit di bawah Ratu Suhita mungkin tidak mencapai puncak keemasan seperti di masa Hayam Wuruk, tetapi ia berhasil memulihkan kerajaan dari kehancuran yang nyaris tak tercelahkan.

Dalam sejarah Majapahit yang tertulis, ia dikenang sebagai kartu yang menyatukan kembali Majapahit pasca-Paregreg.

Seorang pemimpin yang memahami bahwa kekuatan sejati kerajaan terletak pada persatuan dan kebijaksanaan. AILEEN 

 

Editor : Imron Arlado
#Bhre Wirabhumi #religi #majapahit #perang paregreg #tiongkok #pemulihan ekonomi kerajaan #malaka #Penguatan Militer dan Stabilitas Wilayah #Ratu Suhita #Champa #perkawinan politik #menjaga budaya #harmoni