JAWA POS RADAR MAJAPAHIT - Perang Paregreg (1404-1406) meninggalkan luka mendalam bagi Kerajaan Majapahit. Konflik perebutan tahta antara Bhre Wirabhumi dan Wikramawardhana tidak hanya melemahkan struktur politik.
Tetapi juga mengguncang stabilitas ekonomi dan memperburuk hubungan dengan daerah bawah.
Ketika Ratu Suhita naik tahta pada tahun 1429 M, ia mewarisi kerajaan yang penuh ketegangan, baik didalam maupun diluar istana.
Namun, melalui serangkaian kebijakan strategis, Ratu Suhita berhasil membawa Majapahit kembali menuju masa pemulihan.
Konsolidasi Politik dan Rekonsiliasi Bangsawan
Langkah pertama Ratu Suhita adalah memulihkan persatuan di kalangan bangsawan. Perang Paregreg telah menciptakan perpecahan antara pihak pendukung Bhre Wirabhumi dan Wikramawardhana.
- Pengangkatan pejabat dari kedua kubu: Suhita memberikan jabatan penting kepada tokoh-tokoh yang sebelumnya berseteru agar tercipta rekonsiliasi.
- Perkawinan politik: Beberapa aliansi keluarga bangsawan diperkuat melalui pernikahan untuk menutup celah konflik lama.
- Restorasi otoritas pusat: Ia menegaskan kembali dominasi kerajaan terhadap daerah-daerah vasal yang sempat goyah loyalitasnya.
Dengan langkah ini menciptakan kestabilan internal yang menjadi pondasi penting bagi kebijakan berikutnya.
Pemulihan Ekonomi Kerajaan
Perang telah menghancurkan banyak pusat perdagangan di Jawa Timur dan merusak arus pajak dari daerah taklukan. Suhita merespons hal ini dengan kebijakan ekonomi yang pragmatis:
- Pemulihan jalur dagang: Ia memerintahkan perbaikan pelabuhan dan jalur transportasi, termasuk pelabuhan penting seperti Tuban dan Gresik.
- Reformasi pajak: Pajak diperingan bagi wilayah yang terdampak perang, sehingga mendorong pemulihan ekonomi daerah.
- Dukungan pada perdagangan maritim: Ratu Suhita memperkuat hubungan dagang dengan Malaka, Tiongkok, dan Champa untuk menghidupkan kembali arus komoditas penting seperti besar, rempah, dan kain.
Penguatan Militer dan Stabilitas Wilayah
Walaupun lebih fokus pada pemulihan, Ratu Suhita tetap memperhatikan pertahanan kerajaan dengan:
- Modernisasi angkatan laut: Menyadari pentingnya kontrol atas jalur laut, ia memperkuat armada maritim Majapahit.
- Ekspedisi militer ke daerah taklukan: Beberapa sumber menyebutkan adanya penegakan kembali kekuasaan di wilayah-wilayah yang sempat memisahkan diri.
- Penekanan pada keamanan internal: Pasukan kerajaan juga dikerahkan untuk menjaga keamanan pedesaan dan mencegah pemberontakan.
Diplomasi yang Bijak
Di luar negeri, Suhita tidak hanya mengandalkan kekuatan militer. Ia juga mengirimkan utusan ke Tiongkok untuk menjalin hubungan dengan Dinasti Ming.
Para duta Majapahit datang membawa persembahan, dan sebagai balasanya, Majapahit memperoleh pengakuan sebagai kerajaan besar di mata dunia.
Selain itu, hubungan dengan kerajaan-kerajaan di Bali, Palembang, hingga Maluku diperkuat.
Tidak hanya melalui ancaman, tetapi juga dengan melalui aliansi dagang dan pernikahan politik yang membuat jaringan kekuasaan Majapahit.
Menjaga Budaya dan Harmoni Religi
Bagi Ratu Suhita, kekuasaan Majapahit tidak hanya pada pedang atau perdagangan saja, tetapi juga pada budaya.
Ia mendukung para pujangga untuk menulis kakawin, mencatat sejarah, dan memperkuat identitas Majapahit melalui sastra.
Di tengah masyarakat yang memeluk Hindu dan Buddha, Ratu Suhita menegakan harmoni religi.
Upacara-upacara kerajaan dilakukan dengan megah, mempersatukan rakyat di bawah simbol-simbol kebesaran Majapahit.
Baca Juga: Ratu Kencana Wungu, Pemimpin Anggun dari Kerajaan Majapahit yang Kini Terpajang di Bus Trans Jatim
Ratu yang Menyelamatkan Kerajaan
Di balik tembok batu bata merah Trowulan, Ratu Suhita memimpin dengan tangan yang tegas namun adil.
Ia bukan hanya menenangkan luka politik, tetapi juga menghidupkan kembali denyut nadi ekonomi, dan menjaga budaya sebagai perekat bangsa.
Majapahit di bawah Ratu Suhita mungkin tidak mencapai puncak keemasan seperti di masa Hayam Wuruk, tetapi ia berhasil memulihkan kerajaan dari kehancuran yang nyaris tak tercelahkan.
Dalam sejarah Majapahit yang tertulis, ia dikenang sebagai kartu yang menyatukan kembali Majapahit pasca-Paregreg.
Seorang pemimpin yang memahami bahwa kekuatan sejati kerajaan terletak pada persatuan dan kebijaksanaan. AILEEN
Editor : Imron Arlado