JAWA POS RADAR MAJAPAHIT – Dalam catatan sejarah Kerajaan Majapahit, sosok-sosok laki-laki seperti Gajah Mada, Hayam Wuruk, dan Raden Wijaya kerap menjadi pusat perhatian.
Namun di balik kejayaan dan intrik politik kerajaan besar ini, terdapat peran penting perempuan yang kerap luput dari sorotan.
Tokoh-tokoh wanita seperti Tribhuwana Tunggadewi, Gayatri Rajapatni, dan bahkan sosok-sosok misterius seperti Dara Petak memiliki pengaruh besar dalam jalannya pemerintahan dan arah kebijakan Majapahit.
Sayangnya, nama-nama mereka perlahan terkubur dalam bayang sejarah yang lebih banyak menyoroti dominasi laki-laki. Di artikel ini kita akan mengungkap peran penting para tokoh wanita Majapahit yang terlupakan.
- Tribhuwana Tunggadewi
- Putri dari Gayatri Rajapatni dan Raden Wijaya.
- Naik tahta pada tahun 1328 M, menggantikan kakaknya Jayanagara.
- Memerintah selama 22 tahun dan dikenal sebagai Sri Maharaja Sri Wisnuwardhani.
- Bersama Gajah Mada, ia memadamkan pemberontakan di Sadeng dan Keta.
- Ia juga mengeluarkan prasasti pembangunan candi dan keputusan penting sebagai kepala negara dan kepala kerabat.
Baca Juga: Ratu Kencana Wungu, Pemimpin Anggun dari Kerajaan Majapahit yang Kini Terpajang di Bus Trans Jatim
- Gayatri Rajapatni
- Ibu dari Tribhuwana, istri utama Raden Wijaya.
- Meski tidak memerintah langsung, ia sangat berpengaruh dalam penunjukan raja dan arah politik kerajaan.
- Disebut sebagai sosok kuat yang menentukan siapa yang layak naik tahta.
- Kusumawarddhani
- Putri dari Hayam Wuruk dan Paduka Sori.
- Meskipun suaminya, Wikramawardhana, mengambil alih tahta, ia disebut sebagai prabhu stri atau ratu penguasa.
- Perannya penting dalam menjaga stabilitas kerajaan, meski akhirnya terjadi konflik internal seperti Perang Paregreg.
- Dyah Suhita (Dewi Kencana)
- Salah satu ratu yang memerintah Majapahit di masa akhir kejayaannya.
- Menunjukkan bahwa perempuan tetap dipercaya memimpin bahkan saat kerajaan mulai melemah.
Baca Juga: Misteri Kerajaan Majapahit dan Ritual-Ritual Gaib
Kenapa Ini Jarang Dibahas?
1. Bias Patriarki dalam Penulisan Sejarah
- Banyak sumber sejarah ditulis oleh laki-laki pada masa lalu, dengan fokus pada tokoh-tokoh pria seperti Gajah Mada dan Hayam Wuruk.
- Peran perempuan sering dianggap sebagai “pendukung” atau “pengiring,” bukan pemimpin aktif, meski kenyataannya berbeda.
2. Minimnya Dokumentasi dan Visualisasi
- Prasasti dan relief yang menggambarkan perempuan sebagai pemimpin sangat terbatas.
- Arca atau figurin perempuan lebih sering digambarkan sebagai simbol estetika atau mitologi, bukan tokoh politik.
3. Fokus Sejarah pada Masa Keemasan
- Masa pemerintahan Hayam Wuruk dianggap sebagai puncak kejayaan Majapahit, sehingga fase transisi yang dipimpin oleh Tribhuwana dan Suhita kurang mendapat perhatian.
- Padahal, tanpa fondasi dari Gayatri dan Tribhuwana, kejayaan itu mungkin tak akan tercapai.
Baca Juga: Ritual Sati: Tradisi Tragis di Era Majapahit Antara Kesetiaan dan Pengorbanan
4. Kompleksitas Silsilah dan Kekuasaan
- Beberapa tokoh perempuan memerintah bersama suami atau dalam struktur kekuasaan yang kompleks, sehingga peran mereka sering “tercampur” atau dikaburkan dalam narasi sejarah.
- Misalnya, Kusumawarddhani disebut sebagai prabhu stri, tapi suaminya yang lebih dikenal sebagai raja.
5. Kurangnya Popularitas di Pendidikan Formal
- Buku pelajaran dan media populer jarang mengangkat tokoh perempuan secara mendalam.
- Padahal, tokoh seperti Gayatri bahkan disebut sebagai “dalang politik” di balik naiknya Tribhuwana dan jatuhnya Jayanagara.
Baca Juga: Raden Wijaya Pendiri Majapahit dan Strategi di Balik Runtuhnya Singhasari
Empat tokoh perempuan Majapahit seperti Gayatri Rajapatni, Tribhuwana Tunggadewi, Kusumawarddhani, dan Dyah Suhita punya peran besar dalam sejarah.
Namun jarang dibahas karena bias patriarki, minimnya dokumentasi visual, fokus sejarah pada tokoh pria, dan kurangnya popularitas di pendidikan serta media. Padahal, merekalah pondasi di balik kejayaan Majapahit.
ANGELINA
Editor : Imron Arlado