JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Kerajaan Majapahit adalah salah satu kerajaan terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara. Berdiri sejak abad ke 13 hingga pertengahan abad ke 15 Masehi.
Majapahit bukan hanya unggul dalam bidang politik dan militer, tetapi juga dalam bidang spiritual dan budaya.
Salah satu warisan yang paling menonjol dari era ini adalah kerukunan antar agama, terutama antara Hindu dan Buddha.
Ditengah keberagaman keyakinan masyarakat Majapahit mampu memebangun sebuah tatanan sosial dan spiritual yang harmonis.
Konteks Religius di Nusantara Sebelum dan Selama Majapahit
Sebelum berdirinya Majapahit, pengaruh agama Hindu dan Buddha sudah lebih dulu mengakar di tanah jawa.
Kerajaan-kerajaan seperti Tarumanegara, Mataram kuno, dan Singhasari telah menunjukan dua agama besar ini dalam struktur kekuasan dan budaya.
Ketika Majapahit bangkit, ia mewarisi tradisi tersebut dan membawanya ke tingkat yang lebih tinggi.
Majapahit menganut agama campuran yang dikenal sebagai Siwa-Buddha, yaitu perpaduan antara aliran Sivaisme (Hindu) dan Buddhisme Mahayana dan Tantrayana.
Sinkretisme Sebagai Dasar Spiritualitas
Sinkretisme Hindu-Buddha yang berkembang di Majapahit sangat menonjol dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan.
Agama bukanlah sekadar urusan pribadi, melainkan bagian integral dari tatanan sosial, politik, dan budaya.
Misalnya, raja-raja Majapahit Sering dianggap sebagai titisan dewa atau Dewa Raja, yang tidak hanya memiliki otoritas duniawi tetapi juga spiritual.
Karya sastra seperti Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular adalah bukti hidup sinkretisme ini.
Beragama Upacara Keagamaan Majapahit
Kehidupan keagamaan di Majapahit sangat aktif dan berakar kuat dalam berbagai upacara serta ritus yang dilakukan secara pribadi maupun komunal.
Beberapa upacara penting yang menunjukan kekayaan spiritualitas Majapahit meliputi:
- Upacara Sraddha: Menghormati Arwah Leluhur
Upacara Sraddha adalah salah satu ritual terpenting dalam tradisi Hindu-Buddha di Majapahit. Ini merupakan upacara pemujaan arwah leluhur yang dilakukan 12 tahun setelah kematian seseorang yang dianggap aguang, seperti raja atau tokoh penting.
- Peribadatan di Candi: Ruang Spiritual dan Simbol Kosmos
Candi-candi seperti Penataran, Sukuh, Tikus, Trowulan, dan Jawi menjadi pusat perhatian pelaksanaan upacara keagamaan. Di sinilah pemujaan dilakukan terhadap dewa-dewa seperti Siwa, Wisnu, Brahma, serta Buddha dan Bodhisattva.
- Upacara Pertanian dan Kesuburan
Kehidupan masyarakat Majapahit yang agraris membuat ritual pertanian menjadi bagian penting dalam kalender keagamaan. Persembahan dilakukan kepada Dewi Sri (dewi kesuburan dan padi) dan roh-roh penjaga alam.
- Perayaan Hari Raya Agama
Perayaan seperti Galungan, Kuningan, Siwaratri, Pagerwesi, serta Waisak juga dirayakan, meski dalam bentuk awal yang berbeda dari praktik modern. Perayaan ini diisi dengan prosesi pentas seni, sesajen, dan kegiatan gotong-royong spiritual.
Peran Sentral Pendeta dan Raja
Pendeta (brahmana dan biksu) memegang peranan strategis dalam menjaga tatanan spiritual Majapahit. Mereka bukan hanya pemimpin ritual, tetapi juga penasihat spiritual kerajaan.
Mereka mengajarkan kitab-kitab suci, memimpin upacara penyucian,dan menjadi penghubung antara fana dan spiritual. Beberapa raja bahkan dikaitkan dengan aspek religius yang kuat.
Hayam Wuruk, misalnya, sering digambarkan sebagai raja yang mendalami ajaran agama dan memperhatikan upacara ritual dengan penuh kesungguhan.
Warisan Religi Majapahit di Era Kini
Meskipun Majapahit telah telah lama runtuh, Warisan keagamaan masih hidup. Banyak tradisi Hindu-Budha yang bertahan di Bali, Lombok, dan sebagian wilayah Jawa.
Upacara-upacara seperti Galungan, Waisak, dan ritual penyucian masih dilaksanakan, meski telah mengalami adaptasi zaman.
Di Jawa, khususnya dalam budaya keraton Yogyakarta dan Sukarta, unsur-unsur spiritual Majapahit tetap dijaga dalam tradisi upacara, dan gamelan yang sarat makna filosofi Hindu-Buddha.
Sebuah Pelajaran dari Masa lalu
Majapahit bukan hanya simbol kejayaan politik dan ekonomi, tetapi juga tonggak keberagaman dan toleransi dalam kehidupan spiritual.
Di tengah dunia yang seringkali diwarna i konflik atas perbedaan keyakinan, warisan Majapahit menjadi pengingat bahwa agama seharusnya memperkuat persatuan, bukan perpecahan.
Keharmonisan antara Hindu dan Buddha di Majapahit menunjukan bahwa ketika perbedaan dipandang sebagai kejayaan, bukan ancaman. Masyarakat akan tumbuh dalam damai dan kebijaksanaan.
AILEEN ZNR
Editor : Imron Arlado