JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Di tengah hamparan sawah dan desa-desa tenang di kawasan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, berdirilah sebuah bangunan kuno yang memendam kisah misterius dari masa lampau, yaitu Candi Brahu.
Meski bentuknya tidak semegah borobudur atau prambanan, candi ini menyimpan teka-teki sejarah yang hingga kini belum terpecahkan.
Terutama terkait dengan ritual pembakaran jenazah para raja Majapahit.
Candi Brahu: Jejak Masa lalu yang tidak terlupakan
Candi Brahu merupakan salah satu peninggalan arkeologis penting dari masa Kerajaan Majaphit.
Terbuat dari batu bata merah dan berdiri dengan tinggi sekitar 20 meter, candi ini di bangun pada abad ke-15 M.
Berbeda dengan candi-candi Hindu lainnya yang umumnya berbentuk ramping ke atas, Candi Brahu memiliki bentuk yang membulat dan melebar di bagian atas.
Penemuan artefak Buddha, seperti arca dan sisa perunggu, semakin menguatkan dugaan bahwa candi ini berfungsi sebagai tempat ritual keagamaan Buddha Mahayana.
Dan yang masih dipraktikkan di masa akhir Majapahit, ketika pengaruh sinkretisme antara Hindu dan Buddha begitu kuat.
Tempat Pembakaran Jenazah Raja?
Salah satu teori paling menarik mengenai Candi Brahu adalah bahwa candi ini dulunya digunakan sebagai tempat pembakaran jenazah raja.
Hal ini tercantum dalam sumber-sumber lokal dan beberapa catatan arkeologis.
Menurut legenda masyarakat sekitar, Brahu berasal dari kata “wanaru” atau “wanaru brahu”, yang konon merujuk pada bangunan suci tempat kremasi bangsawan.
Beberapa arkeolog juga menemukan abu, arang, dan sisa logam di sekitar area candi, yang menguatkan teori bahwa kegiatan kremasi pernah dilakukan di sini
Namun, hingga saat ini belum ditemukan prasasti atau catatan resmi yang menyebut secara eksplisit nama raja yang dikremasi di Candi Brahu.
Tradisi Kremasi dalam Budaya Jawa Kuno
Pembakaran jenazah dalam tradisi Hindu-Buddha merupakan simbol pelepasan jiwa dari dunia fana.
Dalam konteks kerajaan Majapahit, Raja dianggap sebagai titisan dewa, sehingga proses kematian dan pengabuan jenazah memiliki makna spiritual dan politis yang mendalam.
Setelah dibakar, abu raja biasanya disemayamkan dalam stupa atau tempat khusus sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Jika benar Candi Brahu menjadi lokasi kremasi, maka tempat ini bukan sekadar situs religius, tetapi juga pusat penghormatan tertinggi bagi para penguasa Majapahit.
Antara Mitos dan Fakta: Misteri yang Belum Terungkap
Meski banyak teori berkemabng, tidak adab bukti konklusif yang menjelaskan siapa saja raja yang dimakamkan atau dikremasi di Brahu.
Nama-nama besar seperti Raden Wijaya, Jayanegara, atau Hayam Wuruk memang disebut dalam naskah kuno, namun tidak pernah dikaitkan secara langsung dengan candi ini.
Namun, ketidakhadiran bukti bukan berarti ketiadaan peristiwa, banyak tradisi Jawa yang diwariskan secara lisan.
Dan sejarah Majapahit pun sebagian besar dikomplikasi dari kidung, babad, dan catatan para cendekiawan.
Baca Juga: Sistem Pendidikan: Mengungkap Aspek Penting Yang Terlupakan Dibalik Kemakmuran Kerajaan Majapahit
Warisan yang Perlu Dijaga
Candi Brahu hari ini berdiri sebagai saksi bisu kejayaan masa lalu, meski tak sepopuler candi-candi lainya. Situs ini menyimpan kekayaan sejarah dan spiritual yang luar biasa.
Bagi para pelajar, sejarawan, dan wisatawan, Brahu menawarkan lebih dari sekadar keindahan arsitektur.
Dan ia juga menawarkan sebuah pintu menuju misteri Majapahit yang belum sepenuhnya terungkap.
Pemerintah dan masyarakat perlu lebih serius dalam merawat dan menggali potensi sejarah Candi Brahu.
Bukan hanya sebagai destinasi wisata, tapi juga sebagai ruang edukasi dan pelestarian budaya.
Candi Brahu bukan sekadar banguana tua yang terlupakan. Ia adalah jejak dari sistem kepercayaan, ritual, dan kekuasaan yang pernah berjaya di tanah Jawa.
Misteri tentang pembakaran jenazah raja-raja Majapahit mungkin belum terjawab sempurna. Namun justru karena itulah, Candi Brahu tetap memikat dan menggugah rasa ingin tahu kita semua.
AILEEN ZNR