JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Sedari dulu, Majapahit dikenal sebagai kerajaan yang memiliki sistem pemerintahan, strategi ekspansi, dan kekuatan militer yang cerdik serta kuat.
Namun, dibalik banyaknya naskah sejarah ataupun informasi mengenai kejayaan kerajaan Majapahit, ada satu aspek yang seringkali luput dibicarakan yakni sistem pendidikan pada era Majapahit.
Pada era kerajaan Majapahit, mereka belum mengenal adanya institusi formal seperti sekolah dasar, sekolah menengah, dan universitas.
Namun, meskipun pada era Majapahit pendidikan belum setinggi sekolah masa kini, pendidikan di era ini tersalur dengan sangat baik.
Penyaluran pendidikan di era Majapahit dilakukan melalui padepokan di mana tempat ini umumnya digunakan untuk belajar dan bermeditasi serta sering dikaitkan dengan tokoh-tokoh spiritual yang gemar bermeditasi.
Tak hanya di padepokan, asrama keagamaan juga menjadi salah satu tempat penyaluran pendidikan di masa Majapahit karena tempat ini adalah tempat dimana para calon pendeta atau brahmana belajar langsung dari guru spiritualnya.
Penyaluran pendidikan juga dilakukan di lingkungan istana. Perguruan ini dikhususkan hanya untuk keluarga istana seperti putra putri bangsawan dan pejabat senior yang harus mempelajari ilmu diplomasi, pemerintahan, bahasa, serta strategi. Guru-guru yang terlibat pun berasal dari kalangan Brahmana.
Mandala dan pura juga digunakan untuk menyalurkan pendidikan seputar etika dan filsafat. Namun, di tempat ini pendidikan yang diajarkan lebih fokus pada ajaran keagamaan Hindu-Budha.
Tak berhenti disitu, rumah para pujangga juga menjadi salah satu tempat penyaluran pendidikan di era Majapahit. Perguruan yang disalurkan disini umumnya lebih fokus pada ajaran sastra, estetika, penulisan aksara, dan seni pertunjukan.
Meskipun sistem pendidikannya tidak se-modern saat ini, sistem pendidikan di masa ini sudah bersifat terstruktur dan mengakar pada nilai-nilai keagamaan Hindu-Budha. Tak hanya itu, hal ini pun dapat membentuk masyarakat dengan daya pikir yang tinggi.
Baca Juga: Awal Kejayaan dan Akhir Tragedi: Sejarah Kerajaan Majapahit
Ajaran keagamaan Hindu yang diajarkan pada masa kerajaan Majapahit berfokus pada filsafat hidup, pengenalan dan pemahaman terhadap Sang Hyang Widhi (Tuhan), roh atau atman, karma, reinkarnasi, serta mokhsa atau pembebasan.
Sedangkan ajaran keagamaan Budha berfokus pada penanaman nilai-nilai anti kekerasan atau yang disebut ahimsa dalam Budha, kesabaran, moral serta adab sosial. Ajaran Budha lebih menitikberatkan pada nilai kemanusiaan dan kehidupan sosial.
Selain pengetahuan agama, pendidikan yang diajarkan dalam era ini juga meliputi makna dari naskah-naskah kuno seperti kitab Negarakertagama yang ditulis oleh pujangga bernama Mpu Prapanca.
Bahkan dalam naskah sejarah tercatat adanya perpustakaan bernama “Sana Pustaka” yang digunakan sebagai pusat untuk menyimpan literatur berharga.
Pendidikan pada era Majapahit juga bersifat lisan, praktek langsung, dan bertahap secara spiritual atau sosial serta tidak mengenal adanya sertifikat bagi yang unggul seperti saat ini. Namun, ada pengakuan simbolis seperti pandita, penasihat, dan pujangga.
Tetapi sayangnya, di masa ini terjadi kesenjangan pada sistem pendidikan. Sistem Pendidikan pada era Majapahit dikenal sangat elitisi atau sangat berpusat pada kalangan atas saja. Contohnya seperti:
Para kaum golongan atas sudah dipastikan memiliki akses penuh dalam mendapatkan Pendidikan tingkat tinggi yang langsung diajarkan oleh guru atau brahmana utama untuk mempelajari ilmu tata pemerintahan, strategi militer, diplomasi, serta etika seorang pemimpin.
Sedangkan para masyarakat umum yang tidak termasuk dalam silsilah kerajaan, mereka tetap bisa belajar. Namun pendidikan yang diajarkan memiliki kualitas dan kedalaman materi yang tidak setinggi Pendidikan istana.
Mereka hanya memperoleh pembelajaran tentang dasar agama, moralitas, keterampilan hidup, dan budaya.
Tetapi meski begitu, mandala atau asrama keagamaan lainnya tidak terbatas pada kaum elit, asrama ini menerima calon pendeta dan murid-murid yang ingin mendalami ajaran agama, baik laki-laki maupun perempuan.
Dilengkapi dengan syarat utama yaitu tekad, disiplin, dan siap menjalankan pengabdian spiritual.
Baca Juga: Meneladani Toleransi di Era Majapahit: Keragaman dalam Satu Kekuasaan
Namun, hal ini tetap tidak menutup kenyataan bahwa akses pendidikan di era Majapahit berada dalam struktur sosial yang bertingkat
Hal ini juga membuktikan bahwa kerajaan yang makmur dalam hampir seluruh aspek tidak menutup kemungkinan adanya diskriminasi di aspek lainnya yang jarang dibicarakan. FANEZA
Editor : Imron Arlado