JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Ketika menyebut nama Majapahit, yang terlintas dibenak banyak orang adalah kejayaan politik, kekuasaan maritim, serta figur legendaris dari Gajah Mada dan Hayam Wuruk.
Namun, dibalik catatan sejarah yang penuh dengan ambisi dan peperangan. Tersembunyi sebuah bukti nyata bahwa kerajaan ini juga unggul dalam teknologi sipil dan tata lingkungan.
Salah satu peninggalan yang paling mencolok dan penuh makna adalah Candi Tikus, sebuah struktur arsitektur yang bukan haknya unik secara visual.
Tapi juga menyimpan kisah yang luar biasa tentang pengelolaan air dan irigasi di masa depan.
Lokasi dan Penemuan Candi Tikus
Candi Tikus terletak di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Wilayah ini dipercaya sebagai pusat Kerajaan Majapahit pada abad ke-13 hingga ke-15.
Situs ini ditemukan pada tahun 1914 oleh penduduk setempat yang tengah membasmi hama tikus.
Dari sinilah asal-usul nama Candi Tikus berasal, karena sebelum digali, tempat ini dipenuhi sarang tikus yang merusak lahan pertanian warga.
Setelah dilakukan ekskavasi, terbuka sebuah struktur candi yang tidak biasa, seperti kolam bertingkat dengan saluran air dan bangunan kecil di tengahnya yang menyerupai yoni atau altar suci.
Fungsi Candi Tikus: Bukan Sekadar Tempat Suci
Sejak awal, para arkeolog menduga bahwa fungsi utama Candi Tikus bukan hanya sebagai tempat persembahyangan.
Melainkan sebagai bagian dari sistem irigasi dan pemurnian air di lingkungan pusat kerajaan.
Inilah beberapa bukti yang mendukung hipotesis di antara lain:
- Saluran air masuk dan keluar yang tertata rapi, menunjukan adanya sistem sirkulasi air.
- Bangunan kolam yang berundak, diduga berfungsi sebagai tempat penyaringan air secara alami.
- Struktur tengah menyerupai menara (stupa atau yoni) kemungkinan digunakan sebagai simbol pemurnian atau titik pusat aliran.
Pentingnya Irigasi Dalam Kehidupan Majapahit
Majapahit adalah kerajaan agraris-maritim. Sebagian besar kebutuhan hidup rakyatnya dipenuhi melalui pertanian, terutama padi, dan hasil-hasil perkebunan.
Untuk menjamin kestabilan produksi pangan di wilayah yang luas, sistem pengairan yang efisien menjadi mutlak dibutuhkan.
Sistem irigasi seperti Candi Tikus menjadi bagian dari jaringan pengelolaan air yang terencana, tidak hanya juga kehidupan sehari-hari.
Keseimbangan Alam dan Teknologi
Satu hal yang sangat menarik dari Candi Tikus adalah bagaimana teknologi yang digunakan tidak melawan alam, melainkan bersinergi dengan nya.
Sistem resapan air yang mengandalkan gravitasi, penggunaan batu bata merah lokal dan aliran yang alami.
Dan hal itu menunjukan bahwa masyarakat Majaphit menghormati keseimbanagn alam.
Di masa sekarang, ketika dunia menghadapi krisis air bersih, perubahan iklim, dan kerusakan lingkungan, pendekatan tradisional seperti ini justru relevan untuk dikaji ulang.
Arsitektur yang Penuh Simbol
Secara visual, Candi Tikus sangat khas. Dindingnya terdiri dar batu bata merah yang tersusun presisi.
Bentuknya yang seperti kolam berundak dengan jalur masuk turun ke bagian bawah, mengelilingi bangunan kecil yang menyerupai stupa dan yoni.
Para ahli menduga bahwa Candi Tikus juga memiliki fungsi spiritual, mungkin sebagai tempat pemurnian air suci atau mandi ritual.
Ini bisa menjelaskan mengapa banguananya tampak begitu terencana dan indah.
Pelajaran dari Masa Lalu
Candi Tikus adalah warisan arsitektur dan teknologi yang seharusnya tidak hanya dikenang, tapi juga dipelajari dan diinspirasi ulang.
Ia membuktikan bahwa masyarakat Nusantara pada abad ke- 14 memiliki kecerdasan lokal yang sangat tinggi, bahkan tanpa alat modern.
Baca Juga: Majapahit, Cerminan Masa Lalu yang Menginspirasi Masa Kini, Kok Bisa?
Di era digital dan pembangunan masif seperti sekarang, banyak sistem teknologi yang justru mengabaikan keberlanjutan dan keseimbangan.
Padahal, Majapahit telah memberi kita contoh bahwa kemajuan peradaban bisa berjalan selaras dengan alam.
Simbol Kecerdasan Majapahit
Lebih dari sekedar bangunan tua, Candi Tikus adalah simbol kecanggihan peradaban Majapahit dan dari cara mereka mengelola air.
Menjaga kehidupan rakyatnya, sehingga membangun sistem yang kuat dan berkelanjutan.
Majapahit tidak hanya dikenal karena ambisi politiknya, tetapi juga karena kemampuan teknis dan rekayasa sosialnya.
Dan Candi Tikus adalah saksi bisu bahwa nenek moyang kita bukan hanya penjaga budaya, tetapi juga insinyur peradaban yang visioner. AILEEN ZNR