Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Lebih dari Sekadar Bata Merah: Simbolisme dan Makna Arsitektur Kerajaan Majapahit

Imron Arlado • Senin, 21 Juli 2025 | 23:11 WIB
Majapahit juga memiliki arsitektur yang memiliki ciri khas kuat, sangat berbeda dengan era Borobudur yang menggunakan batu andesit. Sumber foto: Google
Majapahit juga memiliki arsitektur yang memiliki ciri khas kuat, sangat berbeda dengan era Borobudur yang menggunakan batu andesit. Sumber foto: Google

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Selain dikenal seluruh orang di penjuru Nusantara karena keberhasilannya menyatukan wilayah Nusantara dan kejayaannya dalam bidang politik dan militer.

Majapahit juga memiliki arsitektur yang memiliki ciri khas kuat, sangat berbeda dengan era sebelumnya atau Borobudur pada abad ke 8-9 yang menggunakan batu andesit sebagai bahan baku dan penuh akan relief Budha.

Bangunan candi-candi peninggalan Majapahit memiliki arsitektur yang sangat unik dan khas salah satunya yaitu menggunakan bata merah. Dengan bentuk bangunan yang lebih geometris dan penuh unsur Hindu-Budha serta lokalitas Jawa.

Penggunaan bata merah dalam pembangunan bangunan candi-candi pada zaman Majapahit bukanlah kebetulan semata.

Karena nyatanya, dibalik penggunaan bata merah ada alasan yang cukup praktis, teknis, estetis, dan filosofis, yakni:

  1.       Ketersediaan Bahan Baku Bata Merah yang Melimpah

Majapahit berkembang di muara sungai brantas yang tanahnya lempung atau tanah liat, bahan yang sangat cocok untuk digunakan membuat bata merah.

Tanah liat jenis ini mudah dibentuk dan mudah dibakar, sehingga menjadi bahan bangunan yang efisien dan melimpah di daerah mereka.

  1.       Iklim Tropis dan Kelembaban Tinggi

Bata merah juga digunakan sebagai bahan baku karena bata merah memiliki porositas yang tinggi dan membuatnya tahan terhadap iklim tropis serta panas matahari.

Karena seperti yang sudah diketahui, wilayah Nusantara memiliki iklim yang tropis dan lembab.

 

Baca Juga: Makanan Ini yang Dikonsumsi Raja dan Rakyat di Era Majapahit

 

  1.       Estetika dan Simbolisme

Warna merah pada bata merah menunjukkan simbol keberanian, kemegahan, dan elemen api dalam kosmologi atau dalam ilmu sejarah Hindu-Budha.

Bangunan dengan bata merah di era Majapahit seperti candi, gapura, dan balai tidak hanya digunakan sebagai tempat yang fungsional. Tapi juga mencerminkan kekuatan spiritual dan politik kerajaan.

Selain bahan baku pembangunan, poin lain yang membuat bangunan era Majapahit semakin khas adalah bentuk-bentuk gapura dan kolam yang cukup berbeda dari yang lainnya.

Karena setiap elemen bangunan yang dirancang menunjukkan representasi nilai kehidupan, keyakinan, status sosial, hingga sejarah Hindu-Budha.

Gapura bangunan peninggalan kerajaan Majapahit umumnya memiliki atap dan disebut sebagai gapura Paduraksa seperti yang berada di Candi Bajang Ratu.

Adapun gapura Bentar, gapura dengan model terbelah dua tanpa atap ini seringkali digunakan dalam desain gapura era Majapahit contohnya pada Wringin Lawang.

Di setiap lekuk dan desain bangunan peninggalan milik Majapahit tersimpan filosofi dan simbolis yang sangat dalam.

Karena desainnya yang penuh akan filosofis dan simbolis, arsitektur Majapahit dapat dibaca sebagai ekspresi kekuasaan, agama, dan tatanan budaya serta menjadikan warisan Majapahit lebih sakral.

Tak sedikit juga bangunan Majapahit yang menggunakan tata letak Mandala yang artinya pola konsentris yang mewakili alam semesta.

Dalam pola Mandala, penguasa atau raja kerajaan ditempatkan di posisi tengah sebagai simbol Devaraja atau raja sebagai titisan dewa.

Selain pola tata letak, ornamen yang digunakan pada bangunan Majapahit seperti teratai, makara, dan kala juga memiliki makna simbolis dibaliknya.

 

Baca Juga: Majapahit dan Konsep Nusantara dalam Wacana Kebangsaan

 

Teratai menggambarkan kesucian dan pencerahan. Sementara simbol dari mahluk mitologi pelindung gerbang digambarkan dengan ornamen Makara yang berbentuk campuran buaya dan gajah.

Lalu ornamen Kala digunakan untuk menggambarkan simbol raksasa pelindung atau penolak roh jahat yang biasanya diletakkan di atas pintu.

Kolam dan air pada masa Majapahit juga memiliki peran yang penting sebagai elemen penyuci dan media atau sarana penghubung antara dunia manusia dengan dunia spiritual yang sakral.

Contohnya seperti candi tikus dan kolam segaran yang bukan hanya sumber air, tapi juga tempat ritual penyucian dan simbol kesuburan.

Arsitektur pada zaman Majapahit tidak hanya sekedar susunan bata merah yang rapi. Namun, ia adalah manifestasi dari kekuasaan, simbol kepercayaan, dan bukti akan tatanan dunia yang kompleks.

FANEZA

 

Editor : Imron Arlado
#makara #mandala #simbolisme #candi tikus #majapahit #simbolis #Balai #Filosofis #candi bajang ratu #arsitektur #bata merah #wringin lawang #devaraja #teratai #Kala #kerajaan majapahit #candi #bangunan #gapura bentar #gapura paduraksa #gapura #kolam segaran