JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Di tengah hiruk pikuk zaman, sebuah kerajaan besar yang pernah menjadi simbol kejayaan Nusantara seolah perlahan memudar dari ingatan masyarakat. Kerajaan Majapahit pada abad ke 14 menjadi pusat kekuatan politik dan budaya Asia Tenggara. Yang kini lebih banyak dikenal hanya sebatas nama jalan, prasasti, atau pelajaran sejarah singkat di sekolah.
Kerajaan Majapahit, sebuah warisan emas Nusantara, meninggalkan jejak kejayaan yang masih terasa hingga kini. Peninggalan-peninggalan seperti candi, prasasti, dan karya sastra seperti Negarakertagama, menjadi saksi bisu masa keemasan kerajaan ini.
Meskipun telah berlalu berabad-abad, semangat persatuan dan kemajuan budaya Majapahit tetap relevan untuk dipelajari dan diwariskan.
Didirikan pada tahun 1293 M oleh Raden Wijaya, Majapahit mencapai puncak kejayaannya di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Pada masa itu, wilayah kekuasaan Majapahit diyakini meliputi sebagian besar kepulauan Nusantara, hingga Semenanjung Malaya.
Sumpah Palapa yang diucapkan Mahapatih Gajah Mada menjadi simbol ambisi penyatuan wilayah dan semangat persatuan yang digadang-gadangkan sebagai cikal bakal identitas Indonesia Modern.
Majapahit bukan hanya Kerajaan yang kuat, tetapi juga pusat budaya. Dari sinilah lahir karya-karya sastra seperti Negarakertagama dan Kakawin Sutasoma yang mengusung nilai toleransi dan persatuan.
Gaya arsitektur, sistem pemerintahan, serta seni ukir dan candi yang masih tersisa menjadi bukti kemajuan peradaban Majapahit. Candi Tikus, Situs Trowulan, dan berbagai temuan arkeologis lainnya menjadi saksi biksu kemegahan peradaban masa lalu.
Namun ironisnya, banyak diantaranya tidak terawat secara optimal bahkan belum menjadi prioritas dalam pengembangan wisata sejarah nasional.
Meski semangat Majapahit kerap kali dikutip dalam pidato kenegaraan, kenyataannya tidak banyak generasi muda yang benar-benar memahami nilai kerajaan Majapahit.
Sejarawan Universitas Indonesia, Dr. Rini Mulyani menyebut bahwa “pengabaian terhadap sejarah Majapahit adalah kehilangan arah sejarah kolektif bangsa. Padahal dari sanalah kita belajar tentang penyatuan, keberagaman, dan kepemimpinan”.
Pemerintah Jawa Timur saat ini mulai menggencarkan pelestarian situs-situs Majapahit, termasuk rencana menjadikan Trowulan sebagai kota sejarah nasional. Museum dan pusat informasi digital juga mulai dikemvangkan untuk menarik minat generasi muda mengenal lebih dekat dengan peninggalan leluhur.
Baca Juga: Bukan Sekedar Bayangan! Ini Dia Peran Penting Para Perempuan di Masa Kerajaan Majapahit
Sementara itu, dalam skala nasional nama Nusantara yang kini digunakan untuk Ibu Kota Negara baru di Kalimantan membawa harapan bahwa semangat Majapahit masih hidup. Penggunaan nama tersebut bukan hanya simbol geografis, tetapi juga refleksi terhadap sejarah kejayaan dan semangat menyatukan keragaman.
Kerajaan Majapahit adalah warisan emas yang tidak seharusnya dilupakan. Di tengah gempuran globalisasi dan modernisasi, mengenang dan memahami sejarah bukan hanya sekedar melihat ke belakang. Melainkan memperkuat pijakan untuk melangkah ke masa depan.
NIYA
Editor : Imron Arlado