Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Sumpah yang Ditunaikan: Perjalanan Hayam Wuruk Membawa Majapahit ke Puncak

Imron Arlado • Minggu, 20 Juli 2025 | 20:33 WIB
Pada abad ke 14, Nusantara menyaksikan lahirnya salah satu kekaisaran terbesar dalam sejarah Asia Tenggara “Kerajaan Majapahit”.  Sumber Foto: Pinterest
Pada abad ke 14, Nusantara menyaksikan lahirnya salah satu kekaisaran terbesar dalam sejarah Asia Tenggara “Kerajaan Majapahit”. Sumber Foto: Pinterest

JAWA POS RADAR MOJOKERTO- Pada abad ke 14, Nusantara menyaksikan lahirnya salah satu kekaisaran terbesar dalam sejarah Asia Tenggara “Kerajaan Majapahit”. Di balik kejayaannya, berdiri dua tokoh besar.

Gajah Mada, sang patih bersumpah, dan Hayam Wuruk, sang raja muda yang cerdas dan ambisius. Sumpah palapa yang diucapkan Gajah Mada menjadi  cita-cita. Namun di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk lah cita-cita itu benar diwujudkan.

Hayam Wuruk naik tahta pada tahun 1350 M dalam usia sangat muda, menggantikan ibunya, Tribhuwana Tunggadewi, yang turun tahta untuk menyerahkan kekuasaan kepada putranya. Meski masih muda, Hayam Wuruk telah menunjukkan kecerdasan dan kematangan politik yang luar biasa.

 

 

Hayam Wuruk tidak memerintah sendirian, di sisinya selalu ada Gajah Mada berdiri, Mahapatih Amangkubhumi yang memiliki ambisi besar menyatukan seluruh Nusantara di bawah panji Majapahit.

Pada masa pemerintahan Tribhuwana, Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa: ia tidak akan menikmati “palapa” (kenikmatan hidup) sebelum menyatukan seluruh Nusantara. Sumpah ini sempat diragukan dan menuai kontroversi, namun Hayam Wuruk mendukung impian besar itu dan menjadikannya bagian dari kebijakan ekspansi kerajaannya.

Sumpah Palapa adalah janji yang diucapkan oleh Mahapatih Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahannya, sekitar abad ke-14. Dalam sumpahnya, Gajah Mada berjanji tidak akan menikmati kesenangan duniawi sebelum berhasil menyatukan seluruh wilayah Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit

Di bawah komando Hayam Wuruk dan Gajah Mada, Majapahit berhasil menaklukkan dan menjalin pengaruh atas berbagai wilayah strategis di Nusantara: Bali, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga sebagian Semenanjung Melayu.

 

 

Dengan sistem bhumi mandala, Majapahit mengintegrasikan wilayah-wilayah ini dalam jaringan politik dan ekonomi, bukan sekadar melalui penaklukan militer, tetapi juga lewat diplomasi dan pernikahan politik.

Namun, setelah wafatnya Gajah Mada dan kemudian Hayam Wuruk (pada 1389 M), Majapahit mulai memasuki masa kemunduran. Perebutan kekuasaan dan melemahnya pusat pemerintahan menyebabkan wilayah-wilayah jajahan mulai melepaskan diri.

Meski demikian, warisan Hayam Wuruk tetap abadi: ia adalah raja yang bukan hanya memimpin, tetapi juga merealisasikan impian besar yang telah diikrarkan patihnya.

Hayam Wuruk bukan hanya raja muda yang mewarisi kerajaan besar ia adalah pemimpin yang mewujudkan sumpah, menyatukan berbagai kepulauan Nusantara di bawah satu kekuasaan.

Di tangannya, Majapahit tak hanya dikenal sebagai kekuatan politik, tetapi juga sebagai simbol integrasi dan kebesaran budaya yang menginspirasi Indonesia modern hari ini. Sumpah Palapa bukan sekadar mimpi melainkan itu adalah janji yang benar-benar ditunaikan. NIYA

 

 

 

Editor : Redaksi Radar Mojokerto
#hayam wuruk #abad ke 14 #Sumpah Palapa #gajah mada #kerajaan majapahit