JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Candi seringkali hanya dipandang sebagai bangunan kuno peninggalan sejarah. Namun, dibalik kemegahan arsitekturnya, candi-candi peninggalan kerajaan Majapahit menyimpan fungsi dan makna yang jauh lebih dalam.
Bagi masyarakat Majapahit, candi bukan hanya sekedar tempat pemujaan, melainkan juga pusat spiritualitas, ilmu pengetahuan, filsafat, dan kebudayaan. Ia menjadi jantung kehidupan rohani dan intelektual masyarakat pada masanya.
Candi Lebih Dari Sekedar Tempat Ibadah
Di Masa Majapahit, candi berperan sebagai tempat ritual keagamaan, terutama dalam tradisi Hindu dan Buddha. Namun fungsinya tidak berhenti sampai disini saja. Candi juga menjadi ruang untuk perenungan, pembelajaran, dan transmisi ilmu pengetahuan.
Para pendeta, brahmana, dan cendekiawan berkumpul di kompleks candi untuk membahas kitab-kitab suci, ilmu astronomi, tata kehidupan, bahkan etika dan pemerintahan.
Bentuk dan tata letak candi mencerminkan konsep kosmologi, yaitu pandangan tentang alam semesta yang tersusun secara hierarkis seperti, dari dunia manusia menuju dunia para dewa.
Oleh sebab itu, setiap struktur dan ornamen candi dirancang tidak asal-asalan, melainkan sarat simbolisme dan makna filosofis yang mengajarkan keteraturan, keseimbangan, dan keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Contoh Penting Di Era Majapahit
- Candi Tikus di Trowulan, diduga berfungsi sebagai tempat pemujaan dan juga pemandian suci (petirtaan), menunjukan adanya konsep penyucian lahir dan batin dalam kehidupan spiritual masyarakat Majapahit.
- Candi Bajang Ratu dan Candi Wringin Lawang, dua gerbang megah yang diyakini sebagai bagian dari bangunan suci atau kompleks kerajaan, menandai batas antara dunia profan dan sakral.
- Candi Brahu, konon menjadi tempat pembakaran jenazah raja-raja Majapahit, juga menjadi tempat upacara spiritual tingkat tinggi.
Ilmu Pengetahuan Dalam Balutan Spiritualitas
Di kompleks candi, berlangsung pula pengajaran ajaran-ajaran dharma, penghafalan mantra, diskusi filsafat, hingga astronomi kuno. Para pendeta dan resi mendalami berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan hidup manusia dan semesta, seperti:
- Ilmu titen (pengamatan alam dan pertanda)
- Astronomi tradisional, untuk menentukan waktu upacara dan musim tanam
- Ajaran moral dan etika, melalui sastra-sastra seperti kakawin dan kucing
- Ilmu pengobatan tradisional, yang dipelajari dari tanaman-tanaman suci di sekitar kompleks candi
Baca Juga: Riwayat dr. Soemarjoedo di Mojokerto, Tenaga Medis yang Mengkhitan Bung Karno di Masa Kecil
Simbol Transformasi Diri
selain sebagai pusat pendidikan dan ibadah, candi juga merepresentasikan perjalanan batin manusia. Struktur bertingkat candi seperti, dari dasar (bhurloka), tubuh (bhuwarloka), hingga puncak (swarloka) adalah simbol dari proses transformasi spiritual.
Dari kehidupan duniawi menuju pencerahan rohani. Masyarakat percaya bahwa menyucikan diri sekitar candi adalah langkah mendekatkan diri pada kebenaran dan kebijaksanaan.
Warisan Yang Masih Terasa
Hingga kini, aura spiritual dan keagungan ilmu masih terasa di candi-candi peninggalan Majapahit. Di Trowulan, banyak sekali masyarakat yang berziarah atau melakukan meditasi di candi.
Di bali, bentuk pura yang digunakan dalam ritual Hindu saat ini memiliki akar kuat dari konsep candi Majapahit. Bahkan sebagian masyarakat jawa masih meyakini bahwa candi adalah tempat yang penuh energi positif dan pantas dihormati dan dijaga.
Candi Sebagai Cermin Peradaban Majapahit
Majapahit tidak hanya unggul dalam bidang militer dan politik saja, tetapi juga dalam bidang pemikiran,spiritualitas, dan juga pencapaian intelektual.
Dan candi menjadi simbol konkret dari semua itu. Ia adalah perpaduan antara arsitektur, filsafat, agama, seni, dan juga ilmu pengetahuan seperti, warisan yang membuktikan betapa majunya peradaban Nusantara kala itu.
AILEEN ZNR