Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Tak Hanya Soal Gajah Mada, Ini Dia Kehidupan Rakyat Kecil di Era Majapahit!

Imron Arlado • Jumat, 18 Juli 2025 | 02:26 WIB
Kerajaan Majapahit memang telah runtuh sejak dahulu kala, hampir seluruh bangunannya musnah termakan waktu. Namun meninggalkan kenangan. Sumber foto: Pinterest
Kerajaan Majapahit memang telah runtuh sejak dahulu kala, hampir seluruh bangunannya musnah termakan waktu. Namun meninggalkan kenangan. Sumber foto: Pinterest

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Kerajaan Majapahit memang telah runtuh sejak dahulu kala, hampir seluruh bangunannya musnah termakan waktu. Namun, segala yang hilang pasti meninggalkan kisah atau peninggalan yang tidak akan pernah dilupakan.

Jika mendengar kata "Kerajaan Majapahit" semua orang dapat dipastikan akan langsung teringat pada Hayam Wuruk, Gajah Mada, dan Raden Wijaya.

Padahal, di balik megahnya kerajaan dan gagahnya pemimpin. Ada jutaan rakyat biasa yang berusaha keras menjalankan roda kehidupannya. Mereka menjalaninya dengan bertani, berdagang, mengukir, dan merawat kebudayaan.

Tanpa peran mereka majapahit tidak akan menjadi kerajaan yang megah dan jaya seperti yang tertulis dalam Negarakertagama.

Kerajaan majapahit memiliki sistem pemerintahan yang hierarkis dimana kekuasaan dan wewenang dibagi secara bertingkat, dengan posisi tertinggi untuk yang memiliki kekuasaan lebih besar daripada posisi di bawahnya.

Umumnya, untuk penduduk dengan posisi tertinggi di kerajaan majapahit disebut dengan istilah “Wong gedhe”. Sedangkan, untuk penduduk dengan posisi rendah disebut dengan istilah “Wong cilik”.

Wong gedhe dan wong cilik berasal dari bahasa jawa. Wong gedhe yang artinya orang besar atau orang dengan kekuasaan besar dan wong cilik yang artinya orang kecil atau orang dengan kekuasaan terbatas.

Namun, kesejahteraan rakyat kecil di kerajaan majapahit sangat diperhatikan. Pemerintah membangun bendungan, saluran air, dan jembatan untuk mendukung kemakmuran dan kelancaran kegiatan rakyatnya.

Para rakyat kecil di majapahit biasanya memiliki mata pencaharian sebagai petani, pedagang, pengrajin, buruh angkut, dan pengurus rumah tangga bangsawan.

Petani di era ini mengandalkan ladang dan sawah dengan sistem gotong royong. Kegiatan mereka juga sudah didukung dengan sistem irigasi yang canggih.

 

Baca Juga: Punya Klinik Gratis di Jombang, Dokter Sunat Bung Karno Lulusan Stovia

 

Di lain sisi, ada pedagang di pasar yang bertugas untuk memperjualkan hasil tani, ikan hasil tangkapan nelayan, rempah-rempah, kain, kerajinan, dan berbagai kerajinan seperti kerajinan logam, serta perhiasan.

Selain menjadi pusat jual-beli, pasar juga merupakan tempat di mana interaksi sosial dan budaya terjadi. Termasuk tempat berkumpulnya info, cerita rakyat, dan berita kerajaan.

Para rakyat kecil juga memiliki kontribusi yang sangat besar dalam pelestarian budaya. Mereka biasanya membuat pertunjukan wayang kulit dan tarian rakyat dengan alunan musik gamelan setiap upacara desa.

Mereka juga secara rutin mengadakan ritual untuk Dewi Padi yang dikenal sebagai Dewi Sri dan Dewa-Dewi Hindu-Buddha lainnya. Mereka percaya terhadap roh nenek moyang dan kekuatan alam.

Para rakyat kecil ini pun menyalurkan kepercayaannya kepada semua keturunannya. Sehingga kepercayaan ini tetap ada dan dipercaya sampai sekarang.

Di era majapahit juga ada desa yang disebut wanua atau thani sebagai pusat kehidupan rakyat. Desa di majapahit tidak dipimpin secara langsung oleh raja, melainkan dipimpin oleh kepala desa atau pemuka adat.

Desa memiliki otonomi atau kebebasan sendiri dalam mengatur produksi pangan, adat. dan pembagian kerja.

Namun, mereka jarang disebut dalam naskah sejarah, salah satu alasannya adalah karena Sebagian besar karya sejarah kuno ditulis oleh pujangga kerajaan yang hanya fokus terhadap kehidupan kerajaan.

Meski begitu, jejak mereka masih dapat dilihat melalui artefak gerabah, alat pertanian, tekstil kuno, cerita rakyat bahkan pada struktur pemukiman di Trowulan dan sekitarnya.

 

Baca Juga: Riwayat dr. Soemarjoedo di Mojokerto, Tenaga Medis yang Mengkhitan Bung Karno di Masa Kecil

 

Dari segala faktor di atas, telah menunjukkan bahwa majapahit tidak hanya seputar kerajaan megah yang dipimpin oleh Gajah Mada serta raja-raja besar lainnya.

Tapi juga tentang peran dari rakyat-rakyat kecil yang memberi pengaruh besar terhadap kemajuan dan kejayaan kerajaan majapahit.

Mereka bekerja keras menciptakan seni, mempertahankan budaya, dan menghidupkan pasar serta ladang.

Jutaan rakyat yang dianggap kecil sebenarnya merupakan penopang peradaban yang sangat berpengaruh namun sering terlupakan.

Mereka lah yang bahu membahu menjaga majapahit tetap hidup sedari dulu hingga saat ini di benak masyarakat Indonesia.

FANEZA

 

Editor : Imron Arlado
#Raden Wijaya #hayam wuruk #majapahit #negarakertagama #petani #trowulan #pedagang #dewi sri #gajah mada #kerajaan majapahit #pengrajin #dewi padi #wong cilik #wong gedhe #rakyat kecil