JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Meskipun tetap menganut pada tatanan patriarki. Namun, Majapahit adalah kerajaan yang memiliki sistem sosial yang relatif terbuka untuk para perempuan, terutama perempuan bangsawan. Relatif terbuka khususnya dalam hal pendidikan, spiritual, politik, dan diplomasi.
Tak hanya perempuan bangsawan saja. Namun, perempuan biasa juga memiliki peran yang penting seperti menjadi pilar ekonomi lokal dengan menjadi pedagang pasar, pengrajin batik, dan penenun yang handal.
Selain itu, mereka juga ikut bertani, menyiapkan lumbung padi, dan aktif dalam acara ritus kesuburan.
Mereka juga biasanya menjadi penjaga tradisi, menjadi pemimpin dalam acara upacara adat lokal, dukun bayi, dan ahli herbal seperti ramuan jamu.
Hampir seluruh dongeng, kidung, dan tembang kuno merupakan warisan yang disalurkan dari mulut ke mulut oleh perempuan biasa di desa.
Antara perempuan biasa dan perempuan bangsawan pada dasarnya memiliki peran yang sama besar meskipun dalam bidang yang cukup berbeda.
Yang membedakan hanya jika perempuan bangsawan tercatat dalam naskah sejarah seperti negarakertagama, dan pararaton. Sedangkan perempuan biasa tidak tertulis dalam naskah sejarah.
Di era kerajaan majapahit, perempuan memiliki derajat yang hampir sejajar dengan para lelaki. Perempuan majapahit juga memiliki peran yang beragam dan signifikan. Mulai dari ranah domestik hingga ke ranah publik.
Mereka tidak hanya berperan penting untuk keluarga, namun juga untuk pemerintahan, ekonomi, bahkan keagamaan.
Perempuan di era majapahit ini juga bisa menjadi seorang penasihat, penguasa atau pemimpin kerajaan, hingga menjadi penggerak kebijakan besar.
Berikut ini merupakan tokoh-tokoh perempuan yang berpengaruh dan berkuasa pada era majapahit:
Baca Juga: Konon Berada di Wilayah Trowulan, Begini Fungsi Alun-alun di Zaman Kerajaan Majapahit
- Tribhuwana Tunggadewi (Ratu Majapahit)
Tribhuwana Tunggadewi adalah perempuan pertama yang menjadi pemimpin atau penguasa (Raja) kerajaan majapahit. Ia menjabat sejak tahun 1328 hingga 1350 masehi. Tribhuwana memiliki seorang anak bernama Hayam Wuruk.
Tribhuwana Tunggadewi adalah putri dari Raden Wijaya dan Gayatri Rajapatni. Ia juga memiliki adik perempuan bernama Dyah Wiyat dan kakak tiri laki-laki bernama Jayanegara.
Tribhuwana merupakan pemimpin ketiga kerajaan majapahit menggantikan kakaknya, Jayanegara.
Ia dikenal sebagai pemimpin yang berani dan strategis. Masa kepemimpinannya dianggap bijak dan kuat serta membuka jalan untuk perluasan wilayah Kerajaan.
Tribhuwana Tunggadewi juga yang mengangkat Gajah Mada sebagai Mahapatih yang kemudian bersumpah akan menyatukan Nusantara melalui sumpah palapa.
- Gayatri Rajapatni
Gayatri Rajapatni adalah ibunda dari Tribhuwana Tunggadewi dan istri dari Raden Wijaya. Ibunda dari Tribhuwana ini memiliki peran penting sebagai tokoh spiritual dan politis.
Ia dan berperan besar dalam menstabilkan Kerajaan setelah Raden Wijaya wafat dan meskipun ia hidup di biara, ia tetap memiliki pengaruh besar dalam pengambilan Keputusan politik.
- Putri Campa
Kisah Putri Campa memang tidak setenar perempuan lainnya. Namun, Putri Campa dari kerajaan campa yang sekarang menjadi Vietnam merupakan simbol diplomasi antar kerajaan.
Pernikahannya dengan Hayam Wuruk dari kerajaan majapahit menunjukkan bahwa perempuan dapat menjadi jembatan diplomatic antar bangsa.
Perjuangan para tokoh-tokoh perempuan di era majapahit juga berhasil menjadi inspirasi dan panutan bagi gerakan feminisme dan kepemimpinan perempuan Indonesia saat ini. Tak jarang juga tokoh-tokoh nasional maupun daerah yang terinspirasi dari kisahnya.
Nama-nama tokoh perempuan majapahit juga seringkali menjadi nama jalan, sekolah, dan Lembaga di berbagai kota di Indonesia.
Hal ini menunjukkan bahwa peran perempuan pada era majapahit tidak hanya sebagai pendamping raja. Tapi sebagai tokoh yang memiliki peran penting dan memiliki derajat yang seimbang dengan laki-laki.
FANEZA
Editor : Imron Arlado