Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Ini Dia Jejak Warisan Kerajaan Majapahit yang Masih Hidup di Era Modern!

Imron Arlado • Jumat, 18 Juli 2025 | 02:26 WIB
Kerajaan Majapahit adalah kerajaan terbesar yang berada di Nusantara. Wilayah kekuasaannya hampir mencakup seluruh nusantara hingga semenanjung malaka. Sumber foto: Google
Kerajaan Majapahit adalah kerajaan terbesar yang berada di Nusantara. Wilayah kekuasaannya hampir mencakup seluruh nusantara hingga semenanjung malaka. Sumber foto: Google

JAWA POS RADAR MOJOKERTO - Kerajaan Majapahit adalah kerajaan terbesar yang berada di Nusantara. Wilayah kekuasaannya hampir mencakup seluruh nusantara hingga semenanjung malaka.

Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya sejak abad ke 13 masehi hingga abad ke 14 masehi.

Raden Wijaya mendirikan kerajaan ini pada 1293 masehi dan mencapai masa kejayaannya di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada.

Namun, kerajaan majapahit akhirnya runtuh pada tahun 1527 masehi karena beberapa faktor seperti konflik internal dan pemberontakan wilayah yang sempat ditaklukkan.

Tak hanya itu, pengaruh agama islam yang semakin kuat dan terjadi serangan dari kerajaan islam juga menjadi faktor runtuhnya kerajaan majapahit.

Meskipun kerajaan majapahit sudah runtuh sejak berabad-abad yang lalu. Namun, sejatinya sesuatu yang hilang pasti meninggalkan kenangan.

Begitu pula dengan kerajaan Majapahit. Kerajaan ini memiliki berbagai kenangan dan warisan yang ditinggalkan di Indonesia.

Tak hanya berupa benda-benda unik yang sekarang menjadi barang antik, namun juga dalam bentuk budaya, simbol kenegaraan, hingga nilai-nilai kehidupan.

Beberapa warisan tersebut bahkan berperan penting menjadi fondasi dalam kehidupan bangsa Indonesia saat ini.

Berikut ini adalah warisan-warisan kerajaan majapahit yang masih ada hingga sekarang:

 

Baca Juga: Konon Berada di Wilayah Trowulan, Begini Fungsi Alun-alun di Zaman Kerajaan Majapahit  

 

  1.       Semboyan Bhinneka Tunggal Ika

Semboyan persatuan bangsa Indonesia yang memiliki arti “Berbeda-beda tapi tetap satu jua” menjadi salah satu warisan nyata yang ditinggalkan oleh kerajaan majapahit.  

Ungkapan semboyan ini pertama kali muncul dalam buku karya Mpu Tantular, seorang pujangga besar majapahit, yang berjudul Kakawin Sutasoma.

Kakawin Sutasoma dianggap sebagai karya yang tersohor karena sebagian besar isinya menjadi motto nasional bangsa Indonesia.

Makna ungkapan ini pun relevan dengan kondisi sosial budaya bangsa Indonesia yang memiliki beragam suku, budaya, dan ras tetapi tetap memiliki tujuan yang sama.

  1.       Istilah “Nusantara”

Secara etimologis istilah Nusantara berarti “pulau-pulau di luar” atau “kepulauan di antara”. Istilah ini pertama kali muncul dalam literatur Jawa Kuno yang kemudian digunakan pertama kali oleh Mahapatih Gajah Mada dalam sumpah palapa.

Dan saat ini, istilah Nusantara digunakan sebagai penyebutan wilayah Indonesia secara keseluruhan.

Bahkan, ibu kota baru Indonesia disebut dengan IKN atau Ibu Kota Nusantara, untuk menghormati warisan peninggalan majapahit.

  1.       Sistem pemerintahan dan administrasi

Kerajaan majapahit sudah mengenali sistem pembagian wilayah secara administratif seperti kadipaten dan nagari.

Kadipaten sendiri adalah sebuah wilayah yang dipimpin oleh seorang Adipati yang pada era saat ini lebih akrab disebut sebagai gubernur.

Sedangkan, nagari adalah sebutan untuk wilayah desa atau wilayah bagian kecil yang berada di struktur kerajaan.

Hal ini dapat dilihat dari sistem pemerintahan Indonesia saat ini yaitu provinsi, kota, dan kabupaten.

 

Baca Juga: Riwayat Kunjungan Penulis Otobiografi Soekarno ke Mojokerto, Ajak Pengasuh dan Teman Bung Karno dari Jombang

 

  1.       Warisan arsitektur dan seni

Selain meninggalkan warisan berupa nilai hidup dan simbol kenegaraan, kerajaan majapahit juga meninggalkan warisan berupa benda atau tempat.

Warisan majapahit ini sering ditemukan di area Trowulan Jawa Timur yang dahulu adalah pusat pemerintahan kerajaan majapahit dan sekarang menjadi cagar budaya.

Salah satunya adalah candi tikus yang dulunya adalah sebuah sistem irigasi canggih yang berupa pemandian suci.

Selain candi tikus, ada juga gapura bajang satu yang berupa gerbang megah dengan ukiran yang sangat khas.

  1.       Nilai-nilai toleransi

Majapahit dikenal dengan rasa toleransinya yang tinggi karena cukup terbuka terhadap berbagai agama.

Bahkan dalam Kakawin Sutasoma disebutkan bahwa Hindu dan Buddha adalah dua jalan yang berbeda menuju kebenaran yang sama.

Nilai-nilai ini menjadi dasar penting atas toleransi yang saat ini dijunjung tinggi di Indonesia.

 

 Baca Juga: Tak Kunjung Ditetapkan sebagai Cagar Budaya, Status 42 ODCB di Kabupaten Mojokerto Menggantung

 

Warisan majapahit bukan hanya berupa barang-barang antik dan candi, tapi juga hidup dalam jiwa dan identitas bangsa Indonesia.

FANEZA

 

Editor : Imron Arlado
#jawa kuno #Raden Wijaya #hayam wuruk #cagar budaya #warisan #majapahit #bhinneka tunggal ika #jawa timur #toleransi #seni #trowulan #arsitektur #indonesia #nusantara #gajah mada #sistem pemerintahan #kerajaan majapahit #peninggalan