Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Tari Topeng Asal Malang, Menjadi Hiburan Bangsawan Kerajaan Majapahit yang Masih Ada Hingga Kini

Imron Arlado • Selasa, 6 Mei 2025 | 01:56 WIB
Tari Topeng Asal Malang, Menjadi Hiburan Bangsawan Kerajaan Majapahit yang Masih Ada Hingga Kini
Tari Topeng Asal Malang, Menjadi Hiburan Bangsawan Kerajaan Majapahit yang Masih Ada Hingga Kini

RADAR MAJAPAHIT – Topeng merupakan salah satu seni tari tradisional yang berasal dari Kota Malang, Jawa Timur. Tari Topeng Malang memiliki sejarah panjang sejak zaman kerajaan dan hingga kini tetap dijaga kelestariannya. Kesenian ini sudah ada sejak dahulu kala dan terus berkembang dari masa ke masa.

 

Asal-usul Tari Topeng Malang dapat ditelusuri sejak era Kerajaan Gajayana dan mencapai puncak kejayaannya pada masa Kerajaan Majapahit. Pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk, raja keempat Majapahit, seni tari topeng mendapatkan perhatian besar karena keluarga kerajaan turut aktif sebagai seniman. Hayam Wuruk dikenal sebagai seorang penari, ayahandanya dikenal sebagai penendang (penari pria), dan ibundanya berperan sebagai sinden atau penyanyi pengiring.

 

“Dulunya topeng ini berfungsi sebagai ritual pemanggil arwah nenek moyang seperti para dewa. Pada waktu itu, di jaman Kerajaan Gajayana ada upacara strada. Jadi ada topeng kecil yang terbuat dari emas seukuran segenggaman tangan ditempelkan di boneka. Selain itu ada juga kidung, seperti menyanyikan tembang-tembang, mantra dan doa. Dan yang terakhir ada juga tarian disana,” jelas Tri Handoyo

 

Hingga saat ini, masih banyak komunitas atau kelompok seni yang terus melestarikan kesenian topeng Malang, salah satunya berada di Kampung Polowijen. Topeng Malang memiliki beragam karakter yang umumnya diambil dari kisah epos Panji.

 

Secara keseluruhan, terdapat 74 karakter topeng yang diklasifikasikan ke dalam tiga jenis tokoh, yaitu tokoh antagonis, tokoh protagonis, dan tokoh binatang. Untuk menghidupkan setiap karakter dalam pertunjukan, diperlukan dukungan kostum yang sesuai agar penampilan menjadi lebih maksimal dan ekspresif.

 

Kesenian Topeng Malang memiliki banyak variasi pertunjukan yang mengangkat berbagai cerita atau lakon. Beberapa lakon yang sering dipentaskan antara lain Rabine Panji, Saimboro, Sandolanan, dan Kiwi Suci Mukso.

 

Tari topeng ini telah diwariskan secara turun-temurun hingga empat generasi. Seperti halnya kesenian tradisional lainnya, setiap pertunjukan tari topeng selalu diawali dengan ritual sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi dan nilai spiritual.

 

Pada masa lampau, topeng dikenal dengan sebutan Puspa Sarira. Kesenian ini kembali berkembang pada masa Kerajaan Singasari, khususnya saat pemerintahan Raja Kertanegara. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya berbagai topeng dan relief di candi-candi yang menjadi bukti keberadaan serta pentingnya topeng dalam kebudayaan masa itu.

 

Akan tetapi, sekarang kesenian topeng sedang mengalami pasang surut. Termasuk pengrajin topeng yang memang sekarang sudah sangat langka, juga pertunjukan dari topeng menjadi persoalan tersendiri.

 

Atraksi topeng dipertunjukkan pada saat acara-acara tertentu yang digunakan untuk seni pertunjukan topeng Malang seperti acara bersih desa dan event-event tertentu. BILLA

 

Editor : Imron Arlado
#asal usul #sejarah #Kelompok Seni #keluarga kerajaan #tari topeng malangan #tari topeng #Prabu Hayam Wuruk #nenek moyang #sejarah panjang #seniman #puncak kejayaan