RADAR MAJAPAHIT – Dyah Suhita merupakan salah satu sosok perempuan yang pernah memimpin Kerajaan Majapahit. Ia menduduki tahta sebagai raja keenam Majapahit dan memerintah dari tahun 1429 hingga 1447.
Sosok ini banyak dikenal setelah gambarnya terpajang di body Bus Trans Jatim Mojokerto Koridor 3, jurusan Mojokerto-Gresik.
Kepemimpinannya berlangsung di tengah situasi sulit, termasuk krisis kelaparan dan ketegangan politik dalam internal kerajaan.
Putri dari pasangan Wikramawardhana dan Bhre Daha II ini sebelumnya bergelar Bhre Daha III, sebelum akhirnya naik tahta menggantikan orang tuanya yang telah wafat. Dyah Suhita juga masih merupakan cucu dari Bhre Wirabhumi, salah satu tokoh penting dalam sejarah konflik internal Majapahit.
Penobatannya sempat memunculkan konflik antara dua kubu bangsawan besar, yakni keturunan Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi.
Perpecahan ini berakar dari persaingan antara garis keturunan istri utama dan selir Hayam Wuruk, yang mencerminkan kompleksitas politik dinasti Majapahit pada masa itu.
Baca Juga: Sosok Aji Ratnapangkaja, Pendamping Setia Dyah Suhita saat Memimpin Majapahit
Salah satu keputusan dan peristiwa paling mencolok yang terjadi pada masa pemerintahan Dyah Suhita adalah menjatuhkan hukuman mati terhadap Raden Gajah atau Bhra Narapati.
Eksekusi tersebut diyakini sebagai tindakan balas dendam atas kematian kakeknya, Bhre Wirabhumi yang dikalahkan dalam Perang Paregreg, serta sebagai langkah tegas dalam menjaga stabilitas kerajaan dari ancaman pemberontakan.
Dalam kehidupan pribadinya, Dyah Suhita menikah dengan Bhra Hyang Parameswara Ratnapangkaja atau yang dikenal dengan nama Aji Ratnapangkaja.
Namun pernikahan mereka tidak menghasilkan keturunan laki-laki. Setelah Dyah Suhita wafat pada tahun 1447, kekuasaan Majapahit dilanjutkan oleh Dyah Kertawijaya. Jenazah Dyah Suhita dan suaminya kemudian dicandikan di Singhajaya.
Di samping tindakan politik dan militer, Dyah Suhita juga dikenal karena kebijakannya yang berdampak luas. Salah satu langkah pentingnya adalah mengangkat Arya Teja sebagai pemimpin masyarakat Tiongkok di wilayah Tuban.
Pengangkatan ini membuat namanya tercatat dalam kronik Tiongkok sebagai raja yang memberikan pangkat "A-lu-ya" kepada Gan Eng Cu, nama lain dari Arya Teja.
Berdasarkan catatan dalam Babad Tuban, Arya Teja bukan berasal dari suku Jawa, melainkan berdarah Arab dan dikenal sebagai seorang ulama. Ia memiliki hubungan kekerabatan dengan Sunan Ampel dan merupakan kakek dari Raden Said atau Sunan Kalijaga.
Nama Dyah Suhita sendiri tercatat dalam kronik Tiongkok dari Kuil Sam Po Kong sebagai "Su-king-ta", raja perempuan Majapahit yang berpengaruh dalam hubungan lintas budaya.
Ia juga dikenang sebagai ratu kedua dalam sejarah Majapahit, setelah Tribhuwana Wijayatunggadewi. NESTYA
Editor : Imron Arlado