RADAR MAJAPAHIT - Menelusuri ragam hidangan yang disantap oleh para raja pada masa Kerajaan Majapahit bisa menjadi pengalaman yang memperkaya pengetahuan.
Selain menggugah rasa ingin tahu, sajian kerajaan tersebut juga menyimpan makna filosofis yang mendalam.
Menariknya, warisan kuliner dari masa Majapahit ini masih bisa dijumpai di berbagai wilayah Nusantara, terutama di kalangan masyarakat Jawa.
Sayangnya, makna simbolis dari makanan-makanan ini mulai terlupakan, meski sebenarnya mengandung pesan budaya dan ajaran moral dari para leluhur.
Berikut beberapa jenis hidangan yang dinikmati pada masa Kerajaan Majapahit: Tumpeng
Masyarakat Indonesia tidak asing lagi dengan sajian nasi berwarna kuning yang disusun menyerupai kerucut ini. Hidangan tumpeng diyakini pernah menjadi makanan istimewa di kalangan bangsawan, bahkan disebut sebagai salah satu favorit raja.
Dalam prasasti Majapahit, tercatat bahwa para raja gemar menyantap berbagai jenis hidangan yang disajikan dalam satu wadah, yang diduga merupakan tumpeng.
Tumpeng atau yang memiliki makna filosofis tumapaking panguripan – tumindak lempeng tumuju Pangeran, dimaknai sebagai ajakan untuk senantiasa mengarahkan hidup kepada Sang Pencipta.
Dalam kepercayaan masyarakat Jawa tradisional, terdapat keyakinan akan adanya kekuatan gaib di luar kendali manusia yang mampu memengaruhi jalannya kehidupan. Oleh karena itu, menjaga hubungan dengan kekuatan tersebut dianggap penting demi terciptanya keseimbangan dalam hidup.
Baca Juga: Sosok Dokter di Zaman Majapahit Itu Disebut Acaraki, Meracik Obat-Obatan Dari Ekstrak Tumbuhan
Masakan Ikan
Dulu hasil tangkapan ikan pada zaman Jawa Kuno sangat melimpah. Biasanya, ikan-ikan tersebut diawetkan dengan cara diasinkan dan dijemur hingga kering. Ikan asin ini bukan hanya hadir dalam upacara penetapan sima, tetapi juga menjadi bagian dari konsumsi harian masyarakat Jawa Kuno.
Lebih lanjut, beberapa jenis makanan disebutkan dalam prasasti sebagai makanan istimewa atau disebut rajamangsa. Jenis-jenisnya yakni penyu bedawang, anjing yang telah dikebiri, babi liar pulih, babi liar mati tergantung, serta kambing yang belum tumbuh ekor.
Konsumsi makanan jenis ini dicantumkan dalam prasasti yang memberikan hak khusus sejak masa pemerintahan Mpu Sindok hingga era Majapahit.
Ada pula sebutan asu buntung, yakni anjing tanpa ekor. Selain itu, cacing, tikus, keledai, dan katak juga disebut sebagai hidangan.
Namun menurut Negarakertagama, hewan-hewan tersebut termasuk dalam daftar makanan terlarang. Mengonsumsinya dianggap dapat membawa aib, bahkan dipercaya dapat menyebabkan kematian yang hina.
Lawar
Pengaruh Kerajaan Majapahit juga merambah hingga ke Bali, termasuk dalam hal kuliner tradisional. Salah satu makanan yang diyakini telah ada sejak era Majapahit yakni lawar. Hidangan ini dibuat dari campuran berbagai sayuran serta daging cincang yang dibumbui.
Pada awalnya, daging yang digunakan bisa berupa babi atau bahkan kura-kura. Namun, karena kura-kura tergolong hewan yang dilindungi dan populasinya semakin langka, penggunaannya dalam lawar pun telah ditinggalkan.
Berbagai variasi lawar disesuaikan dengan jenis upacara atau kegiatan adat tertentu. Salah satu variasi yang paling dikenal adalah lawar darah, yang berisi campuran darah babi ke dalam hidangannya.
Selain sebagai makanan, lawar juga dipercaya sebagai simbol keharmonisan. Warna merah dari darah merepresentasikan Dewa Brahmana, warna putih dari kelapa melambangkan Dewa Iswara, dan warna hitam dari terasi menggambarkan Dewa Wisnu.
FITRI
Editor : Imron Arlado