Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Keterkaitan Historis antara Bendera Kerajaan Majapahit dan Penggunaan Warna Merah Putih sebagai Bendera Indonesia

Imron Arlado • Jumat, 2 Mei 2025 | 03:36 WIB
Keterkaitan Historis antara Bendera Kerajaan Majapahit dan Penggunaan Warna Merah Putih sebagai Bendera Indonesia.
Keterkaitan Historis antara Bendera Kerajaan Majapahit dan Penggunaan Warna Merah Putih sebagai Bendera Indonesia.

 

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Bendera Merah Putih yang hari ini berkibar sebagai simbol kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia bukanlah hasil perumusan semata menjelang Proklamasi 17 Agustus 1945.

 

Dalam catatan sejarah, warna merah dan putih telah lebih dahulu menjadi lambang kebesaran Kerajaan Majapahit—kerajaan maritim yang berdiri sejak 1293 dan mencapai puncak kejayaan di bawah pemerintahan Hayam Wuruk dan Gajah Mada pada abad ke-14.

 

Catatan mengenai panji-panji merah putih Majapahit ditemukan dalam naskah kuno seperti Pararaton (Kitab Raja-Raja) dan Kidung Sunda, yang menggambarkan panji Majapahit sebagai "panji Gula Kelapa"—sebuah istilah simbolik yang merujuk pada merah (gula jawa) dan putih (kelapa) – dan disusun dalam pola garis horizontal, terdiri dari sembilan baris merah dan putih.

 

Warna ini tidak hanya mewakili bahan pokok masyarakat agraris Jawa, tapi juga sarat makna, merah melambangkan keberanian dan kekuatan, sedangkan putih melambangkan kesucian dan kebenaran.

 

Baca Juga: Brawijaya V, Raja Majapahit yang Memeluk Islam dan Menjadi Leluhur Para Penguasa di Tanah Jawa

 

Dalam konteks kepercayaan Jawa Kuno, merah dan putih juga diyakini mewakili unsur dualitas kehidupan, yakni jiwa dan raga.

 

 

 

Merah putih sebagai simbol negara pertama kali ditemukan pada Prasasti Gunung Butak, peninggalan Kerajaan Majapahit yang berasal dari sekitar tahun 1294 M. Lambang warna ini kemudian diadopsi oleh para mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam perhimpunan di Belanda.

 

Pada awalnya, bendera merah putih digunakan oleh Sultan Hamengkubuwono VIII yang menghadiri acara perhimpunan mahasiswa Belanda di Driebergen pada 1920. Beliau datang menggunakan mobil yang dipasang umbul-umbul “gula-kelapa”.

 

Panitia khusus pun dibentuk pada masa pendudukan Jepang tahun 1944, dipimpin oleh Ki Hajar Dewantara, guna merumuskan warna dan ukuran bendera nasional yang sesuai dengan jati diri bangsa.

 

Baca Juga: Penuh Suka Duka, Kisah Romansa Raja Masa Keemasan Majapahit Hayam Wuruk, Siapa yang Berhasil Menjadi Permaisurinya?

 

Menariknya, kesan visual dan filosofi merah putih ternyata tidak hanya melekat pada Indonesia. Bendera negara-negara Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, bahkan Thailand memiliki unsur warna merah dan putih yang kuat.

 

Meski tiap negara memiliki sejarah dan simbolisme tersendiri, sejumlah sejarawan dan pengamat budaya percaya bahwa pengaruh maritim dan budaya Majapahit yang meluas hingga ke kawasan tersebut dapat menjadi benih pengaruh simbolik, termasuk dalam bentuk bendera.

 

Dengan demikian, Merah Putih bukan sekadar lambang modern negara bangsa, melainkan warisan panjang dari kejayaan dan kebesaran peradaban Nusantara yang pernah menguasai lautan, memperdagangkan rempah, dan mempersatukan wilayah yang kini kita kenal sebagai Indonesia dan sekitarnya. NESTYA

 

Editor : Imron Arlado
#bendera nasional #mahasiswa indonesia #bendera merah putih #hayam wuruk #peradaban Nusantara #gula kelapa #ki hajar dewantara #merah dan putih #gajah mada #kepercayaan jawa #naskah kuno #Negara Kesatuan Republik Indonesia #Prasasti Gunung Butak #kerajaan majapahit