Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Menguak Kehebatan Cetbang, Senjata Api Kuno Masa Kejayaan Majapahit yang Lahir dari Gempuran Pasukan Mongol

Imron Arlado • Jumat, 2 Mei 2025 | 03:36 WIB
Menguak Kehebatan Cetbang, Senjata Api Kuno Masa Kejayaan Majapahit yang Lahir dari Gempuran Pasukan Mongol.
Menguak Kehebatan Cetbang, Senjata Api Kuno Masa Kejayaan Majapahit yang Lahir dari Gempuran Pasukan Mongol.

 

JAWA POS RADAR MOJOKERTO – Meriam cetbang merupakan salah satu senjata api paling canggih yang digunakan oleh Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 hingga 15.

Senjata ini menjadi simbol kemajuan teknologi militer yang berkembang pesat pada masa kejayaan Majapahit, yang tak hanya mengandalkan kekuatan pasukan darat, tetapi juga memperkuat armada laut mereka.

Asal-usul meriam cetbang bermula dari invasi pasukan Mongol yang gagal menaklukkan Jawa pada tahun 1293. Setelah pasukan Mongol mundur, mereka meninggalkan sejumlah senjata api kecil, yang dikenal dengan nama pao.

Senjata ini kemudian dipelajari dan dimodifikasi oleh para ahli logam Majapahit, yang berhasil mengembangkan pao menjadi meriam yang lebih besar dan kuat, yang kini dikenal sebagai meriam cetbang.

 

 

Meriam ini mulai dikembangkan tak lama setelah pendirian Majapahit oleh Raden Wijaya. Namun, penggunaan cetbang secara masif dan terorganisir dalam peperangan mulai terlihat pada masa pemerintahan Ratu Tribhuana Tunggadewi (1328 – 1350 M).

Pada masa pemerintahan Ratu Tribhuwana Tunggadewi, senjata ini mulai digunakan secara luas dalam berbagai pertempuran. Namun, pengembangan meriam cetbang mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Mahapatih Gajah Mada, yang melihat potensi besar senjata ini dalam memperkuat pasukan Majapahit, baik di darat maupun di laut.

Gajah Mada mendorong para empu kerajaan untuk menyempurnakan meriam cetbang, menjadikannya senjata yang lebih efisien dan mematikan.

Meriam cetbang terbuat dari campuran perunggu dan besi, yang dilebur pada suhu lebih dari 1.500 derajat Celsius. Senjata ini terbagi menjadi dua jenis utama, yakni cetbang bergaya timur yang mirip dengan meriam China, diisi dari depan, dan cetbang bergaya barat yang mirip dengan meriam Turki dan Portugis, diisi dari belakang.

 

 

 

Pada masa kejayaannya, armada laut Majapahit sangat bergantung pada senjata ini. Mpu Nala, yang dikenal sebagai panglima angkatan laut Majapahit, adalah sosok yang sangat piawai menggunakan meriam cetbang untuk mendominasi lautan.

Berbeda dengan meriam yang digunakan oleh bangsa Eropa, meriam cetbang terbuat dari perunggu, dan memiliki desain unik dengan kamar tabung peluru di bagian belakang.

Bahan peledaknya menggunakan campuran postasium nitrat, karbon, dan belerang, yang dikenal sebagai bahan dasar mesiu kuno.

Dipercaya, meriam cetbang ini diproduksi di beberapa tempat termasuk Rajekwesi (sekarang menjadi Bojonegoro) sebagai salah satu lokasi utama pembuatan meriam. Sedangkan bubuk mesiu yang digunakan dalam meriam ini diproduksi di Swantarta Biluluk, yang sekarang dikenal sebagai Kabupaten Lamongan.

 

 

Keberadaan meriam cetbang menjadi bagian penting dalam ekspedisi militer Majapahit yang bertujuan untuk menaklukkan wilayah-wilayah di seluruh Nusantara. Termasuk dalam perang-perang besar Majapahit, seperti Perang Paregreg (1404 – 1406 M), yang merupakan perang antara Majapahit Barat dan Majapahit Timur.

Kemampuan Majapahit dalam menggunakan senjata api ini memungkinkan mereka untuk mempertahankan kekuatan militernya dan menguasai wilayah-wilayah strategis di Asia Tenggara.

Meski Kerajaan Majapahit runtuh pada abad ke-15, penggunaan meriam cetbang tetap berlanjut di beberapa kerajaan penerusnya, seperti Demak, Banten, dan Aceh.

Bahkan, beberapa meriam cetbang asli kini dapat ditemukan di berbagai museum dan situs arkeologi, yang menjadi saksi bisu kejayaan teknologi militer Majapahit di masa lampau. NESTYA

 

 

Editor : Imron Arlado
#Tribhuwana Tunggadewi #Raden Wijaya #mahapatih gajah mada #Mpu Nala #teknologi militer #perang paregreg #pasukan Mongol #Majapahit Barat #kabupaten lamongan #ahli logam majapahit #meriam cetbang #kerajaan majapahit #senjata api #asia tenggara #Majapahit Timur