RADAR MAJAPAHIT - Penduduk Majapahit di Trowulan memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi dalam memanfaatkan lingkungan sekitarnya. Meski daerah yang menjadi pusat kerajaan ini terletak di pedalaman, mereka tetap memiliki akses keluar melalui jalur air dengan memanfaatkan aliran sungai.
Pembangunan kanal kemudian dilakukan untuk memperluas jalur sungai-sungai alami.
Dalam Nagarakretagama disebutkan barang-barang dari luar daerah menuju Majapahit diturunkan di pelabuhan besar dan diangkut ke pusat kerajaan melalui kapal kecil di sungai dan kanal. Hal ini menunjukkan bahwa transportasi air dimanfaatkan secara maksimal.
Sungai Brantas berperan penting sebagai jalur utama yang menghubungkan wilayah pesisir dan pedalaman, serta berkontribusi besar dalam perkembangan peradaban Majapahit.
Selain mendukung ekonomi, sungai dan pelabuhan juga menjadi sarana diplomasi, politik, penyebaran agama, dan kebudayaan, yang turut mendorong kemajuan kota Trowulan.
Prasasti Canggu mencatat adanya 44 desa penyeberangan di tepi Sungai Brantas. Desa-desa ini kemudian berkembang menjadi pelabuhan besar, seperti Canggu, Bubat, dan Terung. Penyebaran desa penyeberangan ini memperkuat peran Sungai Brantas sebagai jalur transportasi dan perdagangan yang menghubungkan wilayah hulu dan hilir.
Pemilihan lokasi di pedalaman sebagai ibu kota Majapahit memiliki alasan kuat dari segi keamanan dan politik, karena wilayah ini aman dari ancaman serangan jalur laut.
Menurut catatan Cina, Ying-Yai Sheng-Lan (1416), tanah Jawa memiliki empat kota tanpa tembok. Kapal yang datang dari luar pertama kali mendarat di Tuban, kemudian Gresik, Surabaya, dan terakhir Majapahit, dengan perjalanan dari Surabaya ke Majapahit melewati pelabuhan Sungai Canggu menggunakan perahu kecil sejauh 25 mil, dilanjut perjalanan darat selama 1,5 hari.
Selain sebagai jalur transportasi dan pertahanan, kanal-kanal ini juga mendukung aktivitas pertanian, yang menjadi dasar konsep pendirian kerajaan Majapahit, terbukti dengan adanya waduk dan saluran air.
Faktor alam seperti unsur hara, curah hujan, ketinggian, dan sinar matahari membuat Majapahit mampu menghasilkan panen berlimpah yang menjadi komoditas utama dalam perekonomian kerajaan.
Selain dukungan alam, kemajuan pertanian juga didorong oleh keterampilan pengelolaan, termasuk teknologi pengolahan tanah menggunakan bajak, persemaian benih, dan pengendalian hama.
Majapahit adalah kerajaan yang mengandalkan sektor pertanian sekaligus perdagangan. Hasil pertaniannya yang melimpah dikirim dari wilayah pedalaman menuju daerah pesisir untuk kemudian diperjualbelikan.
Dari sana, beras diangkut oleh armada kerajaan menuju Kepulauan Maluku untuk diperdagangkan atau ditukar dengan rempah-rempah.
Rempah-rempah ini kemudian diperdagangkan atau ditukar lagi dengan pedagang asing, terutama Cina dan India. Melalui aktivitas ini, keluarga kerajaan memperoleh barang-barang seperti kain, sutra, keramik, dan logam.
Selain beras sebagai hasil utama, catatan Tiongkok menyebut Majapahit juga mengekspor garam dari pantai utara Jawa, cengkeh, cendana, merica, damar, kemukus, gaharu, adas, kapur barus, pinang, pisang, gula tebu, kulit penyu, gading gajah, tikar pandan, hingga kain katun. Beberapa jenis binatang seperti burung merak, nuri, tekukur, dan merpati juga menjadi komoditas ekspor.
Lingkungan Majapahit tak hanya mendukung kemajuan, tetapi juga menyimpan ancaman bencana alam, seperti banjir dan letusan gunung berapi. Masyarakat Majapahit menyadari risiko ini dan mengantisipasinya dengan membangun waduk.
Di situs Trowulan, waduk-waduk tersebut dibagi menjadi dua kelompok yakni barat laut dan timur. Waduk kelompok barat laut, seperti Waduk Temon, berfungsi sebagai jalur transportasi air. Prasasti Canggu menyebutkan Temon sebagai tempat penyeberangan pertama kali, memperkuat dugaan bahwa waduk ini berperan sebagai terminal air.
Sementara itu, waduk di kelompok timur berfungsi untuk menyeimbangkan debit air, mencegah banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau.
Selain dukungan alam, kemajuan kerajaan Majapahit, terutama pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, juga dipengaruhi oleh beberapa faktor penting, di antaranya: sistem pemerintahan yang efektif, kestabilan pemerintahan, kehidupan agama yang kondusif, upacara kemegahan di istana, perkembangan kesenian, perniagaan yang berkembang antara Nusantara dan Jawa, pelaksanaan politik Majapahit terhadap Nusantara, serta pengakuan internasional dari negara-negara Asia.FITRI
Editor : Imron Arlado