Darmo Corner Features Journey Maja Sains Mojokerto Punya Cerita Sekitar Kita Testaria

Mengenal Lebih Dekat, Inilah Pengganti Hayam Wuruk Sosok Wikramawardhana Raja Majapahit Ke-5

Imron Arlado • Jumat, 2 Mei 2025 | 03:37 WIB
Mengenal Lebih Dekat, Inilah Pengganti  Hayam Wuruk Sosok Wikramawardhana Raja Majapahit Ke-5
Mengenal Lebih Dekat, Inilah Pengganti Hayam Wuruk Sosok Wikramawardhana Raja Majapahit Ke-5

RADAR MAJAPAHIT – Wikramawardhana merupakan raja kelima Kerajaan Majapahit, yang menjalankan pemerintahannya dari tahun 1389 sampai 1429. Usai wafatnya Hayam Wuruk, lalu digantikan oleh Wikramawardhana naik takhta pada tahun 1389.

Raja kelima Majapahit ini merupakan putra Dyah Nertaja adik Hayam Wuruk, yang memerintah berdampingan dengan istri sekaligus sepupunya, yakni Kusumawardhani putri Hayam Wuruk.

Wikramawardhana terkenal lantaran turut terlibat dalam Perang Paregreg, yang berlangsung antara tahun 1404 sampai 1406.

Silsilah Wikramawardhana dan Kusumawardhani

Dalam Pararaton Wikramawardhana memiliki gelar Bhra Hyang Wisesa Aji Wikramawardhana. Mempunyai nama asli yakni Gagak Sali. Sang ibu bernama Dyah Nertaja, adik dari Hayam Wuruk, yang menjabat sebagai Bhre Pajang. sang ayah bernama Raden Sumana yang menjabat sebagai Bhre Paguhan, memiliki gelar Singhawardhana.

Sementara permaisurinya, yakni Kusumawardhani merupakan putri Hayam Wuruk yang lahir dari Sri Sudewi dikenal juga Paduka sori.

Dalam Nagarakretagama (ditulis 1365). Kusumawardhani dan Wikramawardhana dikabarkan sudah menikah. Sedangkan saat itu Hayam Wuruk baru berusia 31 tahun. Sehingga, dipastikan jika kedua sepupu tersebut telah dijodohkan sejak kecil.

Melalui pernikahan tersebut, lahir putra mahkota bernama Rajasakusuma yang memiliki gelar Hyang Wekasing Sukha, yang tutup usia sebelum sempat menjadi raja. Pararaton pun menyebutkan, Wikramawardhana mempunyai tiga orang anak dari selir, yakni Bhre Tumapel, Suhita, serta Kertawijaya.

Bhre Tumapel lahir dari Bhre Mataram putri Bhre Pandansalas. Ia menggantikan Rajasakusuma sebagai putra mahkota, namun juga tutup usia sebelum sempat menjadi raja. Kemudian, jabatan sebagai pewaris takhta Majapahit dipegang oleh Suhita yang lahir dari Bhre Daha putri Bhre Wirabhumi.

Masa Pemerintahan Wikramawardhana dan Kusumawardhani

Ketika Nagarakretagama ditulis tahun 1365, Kusumawardhani msih menjadi putri mahkota yang menjabat sebagai Bhre Kabalan. Sementara Wikramawardhana menjabat sebagai Bhre Mataram serta mengelola masalah perdata.

 

Berdasarkan Pararaton, setelah meninggalnya Hayam Wuruk pada tahun 1389, Kusumawardhani dan Wikramawardhana naik takhta dan memerintah dengan berdampingan.

Kedudukan Bhre Mataram kemudian diserahkan pada selir Wikramawardhana, yakni putri dari Ranamanggala Bhre Pandansalas, yang menikah dengan adik Wikramawardhana yang memiliki nama Surawardhani Bhre Kahuripan. Jadi, Wikramawardhana menikahi sendiri sebagai selir.

Sang putra mahkota, Rajasakusuma diperkirakan mewarisi jabatan Bhre Kabalan menggantikan Kusumawardhani, walaupun tidak dikatakan secara tegas dalam Pararaton.

Pada tahun 1389, muncul ketegangan antara Bhre Wirabumi dan Wikramawardhana, lantaran Wikramawardhana memberikan gelar Bhre Lasem kepada permaisurinya, Kusumawardhani, padahal gelar Bhre Lasem tengah dimiliki adiknya, yakni Nagarawardhani, Istri Bhre Wirabumi.

Sehingga, sengketa kedudukan Bhre Lasem mini menimbulkan perang dingin antara istana barat dan timur.

Kemudian, pada tahun 1398, Majapahit mengirimkan armadanya guna menyerang Iskandar Shah (raja Kerajaan Singapura). Hal ini ditimbulkan terkait tudingan Iskandar Shah kepada salah satu selirnya yang melakukan perzinaan.

Sebagai hukumannya, raja menelanjangi selir tersebut di depan umum. Guna membalaskan dendamnya, ayah selir tersebut, sang Rajuna Tapa yang juga seorang pejabat di pengadilan Iskandar Shah, diam-diam mengirimkan pesan kepada Wikramawardhana dari Majapahit, guna menyerang Singapura.

Pada tahun 1398, Rajasakusuma mengangkat Gajah Menguri sebagai patih menggantikan Gajah Enggon yang tutup usia. Informasi dalam Pararaton ini harus diartikan sebagai “mengusulkan”, bukan “melantik”.

 

Pada tahun 1399, Rajasakusuma tutup usia sebelum menjadi raja. Candi makamnya bernama Paramasuka Pura di Tanjung. Kemudian, kedudukan putra mahkota dijabat Bhre Tumapel putra Wikramawardhana dari Bhre Mataram.

Kemudian, pada tahun 1400, usai Nagarawardhani dan Kusumawardhani sama-sama berpulang. Wikramawardhana langsung mengangkat menantunya sebagai Bhre Lasem yang baru, yakni istri Bhre Tumapel.

 

Ketegangan Majapahit Barat dan Timur tersebut kian besar sampai pada tahun 1404 timbulah peperangan besar antara kerajaan Majapahit Barat dengan Majapahit Timur (Blambangan) yang diketahui dengan sebutan perang dua tahun atau Perang Paregreg yang berakhir tahun 1406, yang dimenangkan oleh Wikramawardhana.

Berdasarkan Pararaton, Wikramawardhana kembali menjadi raja, lantaran Kusumawardhani tutup usia. Kusumawardhani dicandikan di Pabangan, yang bernama Laksmipura.

 

Akhir Hayat Wikramawardhana

Wikramawardhana akhirnya tutup usia pada penghujung tahun 1429. Ia dicandikan di Wisesapura yang berada di Bayalangu. Wikramawardhana digantikan oleh putrinya dari Bhre Daha yakni Suhita yang naik takhta pada tahun 1429. Kala itu usia Suhita diperkirakan sekitar 20 tahun.

 

Sebagai informasi, peninggalan sejarah Wikramawardhana berbentuk Prasasti Katiden I (1392) serta Prasasti Katiden II (1395), yang berisi penetapan Gunung Lejar sebagai tempat pendirian sebuah bangunan suci. ADINDA

 

 

 

Editor : Imron Arlado
#Kusumawardhani #hayam wuruk #Bhre Tumapel #masa pemerintahan #Bhre Daha #Kertawijaya #Gagak Sali #perang paregreg #Rajasakusuma #dijodohkan #SUHITA #raja kelima #Dyah Nertaja #Akhir Hayat #kerajaan majapahit #Wikramawardhana #silsilah